Ahar Cenotaphs Udaipur – Cerita Kremasi 19 Maharaja Mewar


Kami tiba di Udaipur sekitar pukul 3 sore. Langit berwarna biru pucat dengan udara yang jauh lebih segar dibandingkan New Delhi. Naru (supir dari rent car yang kami sewa) bergegas membawa kami ke penginapan. Sepanjang jalan, dia bercerita tentang Udaipur. Apa yang harus kami ketahui dan berhati-hatilah pesannya.

Ahar Cenotaphs kami lewati ketika menuju ke penginapan. Dari jalanan kami masih bisa melihat ujung-ujung bangunana yang merupakan kuburan itu bermandikan cahaya matahari sore dengan sesekali burung-burung merpati terbang rendah disekitarnya. Cantik. “Besok kalian bisa lihat museum itu, sekarang kita harus segera ke hotel” katanya setelah saya memintanya untuk berhenti sebentar.

Kami datang ke Ahar Cenotaps ketika jam hampir pukul 5 sore. Hampir tutup tetapi penjaga Ahar yang juga guide berkata “masuk aja gpp, tapi gak bisa lama ya. Sudah hampir gelap” katanya sambil membuka pintu gerbang. Tempat ini memang tidak terlalu banyak didatangi turis. Sepertinya pun bukan tujuan wisata yang populer.

Ahar Cenotaphs Udaipur
Ahar Cenotaphs Udaipur
Ahar Cenotaphs Udaipur
Ahar Cenotaphs Udaipur

Kami pun masuk sedikit terburu-buru. Teman-teman saya langsung berpencar untuk mengambil foto sementara guide mengikuti saya sambil bercerita tentang Ahar Cenotaps.

Ahar Cenotaps berumur lebih dari 350 tahun. Tempat ini adalah kuburan Maharaja dari Mewar dan keluarganya. Ada banyak sekali kuburan dengan berbagai macam ukuran. Sebenarnya ukuran kuburan itu ditentukan oleh kemampuan si keluarga raja untuk membuatnya. Semacam menunjukkan seberapa banyak kekayaan dan berhasil atau tidaknya keluarga si Maharaja. Menurut guide, sewaktu meninggal keluarga harus menanggung semua pengeluaran untuk biaya pembuatan Cenotaps. Anak raja atau bangsawan yang berhasil bisa datang kembali beberapa tahun kemudian untuk membangunnya. Sementara keluarga pun tetap harus punya kewajiban untuk membiayai pemakaman. Ada 19 Maharaja yang dikremasi di tempat ini.

Tempat ini paling pas untuk orang-orang yang suka sejarah dan suka arsitektur.  Setiap Cenotaph dihias dengan 4 wajah Shiv Lingga, yang sebenarnya sangat unik untuk wilayah Mewar.

Ahar Cenotaphs Udaipur
Ahar Cenotaphs Udaipur
Ahar Cenotaphs Udaipur
Ahar Cenotaphs Udaipur
Ahar Cenotaphs Udaipur

Nah, ada cerita menarik yang diceritakan guide kepada saya dan Jenny. Jadi zaman dulu Maharaja Mewar rata-rata memiliki lebih dari 1 istri. Tidak jarang belasan. Seorang Maharaja yang dikuburkan di sini memiliki 21 istri. Ada yang 7 istri, 9 istri dan masih banyak lagi. Pokoknya rata-rata lebih dari 1 istri. Dulu nenek saya pernah cerita tentang seorang raja yang memiliki 40 istri. Saya pikir beliau ngibul, ternyata sepertinya beneran ada deh.

Ketika raja meninggal dunia baik di medan perang atau sakit, maka keluarga akan meminta istri-istri mereka untuk bunuh diri dengan cara membakar diri mereka di api. Ngeri ya. Nah, praktek seperti ini sebenarnya memang ada di India atau Hindu. Sati namanya kalau saya tidak salah. Jadi ketika raja atau suami akan dikremasi, maka para istri akan ikut menceburkan diri mereka ke dalam api.

Dari satu artikel yang saya baca, ternyata di zaman dulu, praktek Sati juga ada di Indonesia. Ma Huan, salah satu anggota ekspedisi ketiga dinasti Ming (China), merekam prosesi Sati saat salah seorang raja meninggal saat dirinya bertandang ke Jawa sekira 1413 atau 1415 M.

Ahar Cenotaphs Udaipur
Ahar Cenotaphs Udaipur
Ahar Cenotaphs Udaipur
Ahar Cenotaphs Udaipur
Ahar Cenotaphs Udaipur
Ahar Cenotaphs Udaipur

Saat seorang raja meninggal dan hendak dikremasi, sang istri, para selir, serta para pembantu perempuan bersumpah di hadapan pemimpinnya, “Dalam kematian, kami akan ikut dengamu,” tulis Ma Huan dikutip JVG Mills pada The Overall Survey of the Ocean Shores (Ying-yai Sheng-lan).

Mereka perlahan menaiki bangunan serupa tangga. Saat api mulai melahap jenazah sang raja, mereka menari berputar-putar, lantas…. melompat ke kobar api hingga menjadi abu.

Praktik Sati merupakan komitmen kuat untuk sehidup-semati dengan sang jenazah. Dalam konteks suami-istri, menurut I Made Suparta, pengajar Jawa Kuna FIB UI, merupakan satya wacana (benar dan setia dalam berucap), satu dari lima satya ajaran Hindu.

Ketika sepasang kekasih menikah, mereka akan melakukan upacara Agni Hotra. Mempelai perempuan akan mengucap janji setia di hadapan Api (manifestasi Hyang Agni), melakukan satya wacana bersungguh-sungguh menerima mempelai lelaki sebagai Swami, guru atau dewa.Tak heran bila sang suami kelak meninggal, istrinya akan melunasi janji mengakhiri hidup di kobar api.

“Sati merupakan simbol kesetiaan tertinggi perempuan Hindu,” ungkap Suparta.

Cerita guide hampir mirip dengan artikel yang saya baca. Selain itu alasan lainnya adalah agar istri dari sang Maharaja tidak menanggung malu karena telah menjadi janda atau jatuh ke tangan musuh atau orang lain.

Saat ini praktek tradisi bakar diri atau Sati di India sudah dilarang walaupun masih banyak istri yang melakukannya. Entah istri raja atau masyarakat biasa.

Kembali ke Ahar Cenotaphs yang saya yakinin memiliki banyak cerita ini tentu saja sangat menarik untuk traveler yang ingin melihat sisi lain India. Bayangkan jalan-jalan ke kuburan yang sama sekali tidak terlihat seram kecuali ketika mulai gelap. Beberapa binatang terlihat bebas berkeliaran di sini. Mulai dari sapi hingga ayam. Beberapa pemuda juga terlihat berjalan-jalan di sini sehingga Naru dan Guide terus mengikuti kami karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Ahar Cenotaphs Udaipur
Ahar Cenotaphs Udaipur
Ahar Cenotaphs Udaipur
Ahar Cenotaphs Udaipur

Saran saya jika ingin ke Ahar Cenotaphs sebaiknya pagi hari ataupun sore hari sebelum jam tutup.

 

 

Advertisements

10 comments

  1. Ke India, mbak…? 😀 macam arti bollywood pas foto terakhir itu. hehe 😀 Kebnyak sejarahnya peninggalan hindu ya… oya, Gmna keadaan India skrng. apakah masih ada copet-copetan? krn dengar2 bnyk jd korban ya mbak?

  2. Tempatnya memang kece banget ya Non (tapi itu bangunan yang kayak setengah jadi di sebelah kompleksnya itu nggak termasuk kompleks cenotaphs ini kan? Hahaha 😆 ).

    Serem juga ya praktek sati itu Non…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s