Hati-Hati Melihat Orangutan


Orangutan Sumatera

Dalam beberapa bulan belakangan ini saya dan Matt sering ketemu artikel/berita tentang turis, zoo keeper yang diserang oleh binatang yang mereka rawat ataupun dilihat. Artikel ini tentu saja miris, karena sebenarnya yang nantinya bakalan jadi korban adalah si binatangnya bukan si manusia yang terkadang karena kelalaiannya malah membuat dirinya, orang lain atau hewan tersebut dalam bahaya.

http://pickle.nine.com.au/2017/06/14/10/06/orangutan-holds-tourists-hand-woman-indonesia

Klik link tersebut diatas untuk melihat berita paling baru dari Bukit Lawang, Sumatera Utara tentang seorang turis yang tangannya dipegang orang utan erat-erat.

Jadi ya tulisan ini saya buat tanpa bermaksut menggurui atau sok tau atau apalah. Tulisan ini saya buat karena saya ngerasa kita sebagai orang yang lebih pintar dari binatang itu yah, mestilah bersikap lebih bijaksana, ya kan 🙂 . Lagian gak ada salahnya berbagi kan ya, kalau kalian merasa ada yang harus dikoreksi, please tulis saja di kolom komen.

PS : Tulisan ini sudah saya buat sejak 2 bulan lalu tapi gak jadi-jadi diposting. Lalu bulan Agustus lalu saya menghadiri pelatihan pemandu wisata di Bukit Lawang, so, saya pikir gpp ditulis agar kita juga bisa tahu apa yang harus dilakukan jika berkunjung ke Taman Nasional terlebih jika ingin melihat satwa nya.

Rumah orangtua saya itu tidak terlalu jauh dari taman buaya. Buaya yang dikarantina gitu. Buayanya ratusan jumlahnya. Bukan pemandangan yang indah kalau menurut saya karena bau bangkai haha. Selain itu saya benci binatang melata. Nah, ketika saya masih SD, ada walikota Jepang (lupa walikota atau apaan, pokoknya pembesar dari Cina) yang datang ke taman buaya tersebut untuk berkunjung. Entah gimana ceritanya ternyata si buaya itu nyamplok tangan si Walikota. Dulu saya mikirnya koq bisa dicaplok?

Nah, ada satu atraksi di taman buaya itu. Biasanya mulut buaya itu mangap trus ada monyet masuk ke mulutnya. Buayanya gak nutup mulutnya. Dia mangap aja sesuai instruksi si pawang. Mungkin sampai hari ini atraksi tersebut masih ada. Kembali ke cerita di atas, kemungkinan besar si Walikota itu lagi sial, pas dia masukin tangan sesuai instruksi pawang, eh buayanya nutup mulutnya.

Kalau kalian google berita-berita seperti ini, pasti deh ketemu. Mulai dari harimau yang menyerang pawangnya. Lalu 2 bulan lalu ada turis dari Singapore yang digigit komodo karena dia masuk kesana tanpa pawang. Masih banyak berita lainnya lah.

http://regional.kompas.com/read/2017/05/05/15141871/turis.singapura.korban.gigitan.komodo.sudah.berkomunikasi.dengan.keluarga

Ngomong-ngomogn saya pernah juga dipaksa ranger untuk foto dengan komodo. Dia bilang gpp, gak bakalan nyerang koq. Saya jongkok dari jarak mungkin 5-7 m saking takutnya denger suara si komodo itu. Sekarang saya pikir-pikir, gimana coba kalau si komodo tiba-tiba ngangkat kepalanya dan nyerang saya? omg…..tolol banget!

Jadi yah, saya mau beritahu sebelum berangkat melihat hewan, sebaiknya kita baca banyak-banyak tentang hewan tersebut. Jangan langsung percaya apa kata pemandu wisata. Percayalah terkadang mereka pun tidak tahu 100 % tentang binatang,  apalagi yang buas dan tinggal di alam bebas. 

Baca disini ceritanya ya.

Komodo

Sekarang kita ngomongin Orangutan aja ya. Sejak saya menikah dengan Matt, setiap kali saya masuk hutan untuk lihat OU (tanpa Matt tentunya) pasti dia selalu pesan kesaya, jangan deket-deket. Jaga jarang 10 M ya. Gak usah terlalu dekat karena kita gak pernah tau mood binatang saat itu gimana. Saya tentunya nurut karena memang saya tidak pernah tertarik untuk dekat-dekat, gendong-gendong, dll. Kesempatan saya untuk melakukan semua itu banyak tentunya. Bukan cuman di hutan tapi juga di tempat lainnya.

Ketika kita masuk ke hutan untuk lihat OU, biasanya guide bakalan bawa makanan (sebenarnya ini gak boleh karena binatang di hutan harus cari makan sendiri, bukan dikasih makan). Dilemma hidup di hutan yang dijadiin tempat wisata sih, ya. Serba salah. Kalau guide gak bawa makanan, maka OU biasanya gak mau dekat-dekat manusia. Setelah mereka terbiasa dekat dengan manusia karena dikasih makan, maka video diatas itu emang mungkin saja terjadi. So, kita lah yang jadi pengunjung yang harusnya pinter.

Pinter gimana? begini, kita tentu sadar kalau jalan-jalan ke hutan liat binatang, ada kemungkinan binatangnya gak nonggol. Wajar dong. Mereka kan bukan benda mati. Kegiatannya banyak. Jadi gak usah mendukung pemandu wisata untuk kasih makanan sampai bikin binatnag itu datang. Kalau emang gak rejeki kita untuk lihat, yah kembali lagi lah kalau emang ada rejeki hahaha.

Kalaupun emang kamu pengen banget lihat dan pemandu wisata juga bawa makanan, ya udah gpp. Kita masih bisa koq ngeliat OU ini dari jarak yang aman. Gak usah pegang, ngelus-ngelus, sayang-sayang. Cukup jaga “kegemasan” kamu di jarak 10 m (minimal). Kalau gak tahan juga, gigit aja dodol.

Kenapa gak boleh?

Begini, menurut Matt (ini penjelasan yang sungguh simple) OU itu DNA nya hampir mirip kita. 98 %. Kita sakit flu, megang dia, ehh besoknya mungkin dia ketularan. Dia ketularan, besoknya nularin temennya, temennya lagi, anaknya, dll. Minggu depan satu hutan OU nya bisa-bisa flu semuanya. Terdengar ekstrim ya hehe. Kalau bukan kita yang nularin, kemungkinan kita yang ketularan karena si OU yang sakit. Kita sih bisa ke rumah sakit pake BPJS atau asuransi dari kantor untuk berobat, lah kalau binatang yang sakit gimana?

OU itu adalah binatang liar. Walaupun menggemaskan apalagi yang bayi dan pake pampers, tapi percayalah mereka itu gak bisa kontrol kekuatannya. Mereka pikir gak kuat padahal pas megang tangan kita bisa jadi tangan kita sudah tergores karena mereka sungguh-sungguh kuat. Belon cakarnya dan giginya. Jadi sangat-sangat tidak bijaksana kita dekat-dekat mereka. Kalau memang sayang binatang gak harus koq kita megang mereka.

Kalau kalian gak percaya betapa bahayanya binatang liar, coba deh cek ke binatang peliharaan kalian. Saya pelihara kucing. Tom itu sebenarnya gak suka gigit apalagi nyakar. Dia kucing paling santai tapi ada waktu-waktu tertentu dia gak suka dipegang lalu akibatnya dia berubah sedikit agresif. Jangan ditanya tangan saya yang harus bengkak berhari-hari karena digigitnya. Kata dokter hewan yang saya kunjungi, maksutnya si kucing pasti gak sedalam itu gigit  tapi dia sendiri gak tau sebegimana kuatnya dia. Bayangkan itu Orangutan, harimau, ular, atau apapun yang kalian temui di hutan dan juga di kebun binatang.

Apakah kita harus jadi takut?

Ya tentu saja enggak. Kalau semuanya jadi takut nanti malah gak lihat mereka sama sekali dong haha. Cuman mungkin kita harus lebih hati-hati dan please gak usah coba-coba atas nama berani atau nekat, apalagi atas nama foto untuk social media. Yakinlah, lebih baik kita melihat mereka dari jauh koq, daripada membahayakan diri kita atau si bintang tersebut. Selain itu mungkin sebelum mengunjungi binatang yang kita pengen datangi, coba baca informasi tentang mereka sehingga kita gak buta-buta amat. Trus kalau kalian lihat binatang liar seperti monyet dll, tolonglah berhenti untuk kasih mereka makanan. Efeknya mungkin bukan ke kalian tapi ke warga yang tinggal di sekitaran itu, seperti yang saya rasakan sekarang di hotel Ecolodge hehe.

Jadi kapan ke Bukit Lawang?

 

Advertisements

25 comments

  1. Hooh bener banget mbak, zaman sekarang orang berani (sok) nekad cume biar kliatan keren di medsos, padahal itu malah membahayakan diri sendiri dan juga binatangnya 😦

  2. Setuju bangetlah ini, pd dasarnya mau jinak atau liar, hewan itu punya control diri yang kita mana pernah tau. Mereka bisa stress juga, takut juga. Ngasih makan, foto, ngelus, sebaiknya emang jangan deh. Aku pernah nonton di Discovery juga nih, malah termasuk jinak, bolak balik di suruh foto tuh binantang, akhirnya nyerang. Di dalarna beberapa waktu lalu seorang petugas meninggal di taman polar bear. Seram bayangin meninggal di tempat☹️.

  3. Astaga serem banget itu Non kok tangannya bisa sampai dicaplok buayanya gitu >.< . Dulu aku pernah nonton show di Thailand yang atraksinya serupa. Jadi yang pentas memasukkan kepalanya ke mulut buaya yang lagi menganga gitu. Trus tepat ketika kepalanya ditarik keluar, buayanya menutup mulutnya dong! Dan itu suara mulutnya menutup keras banget, kebayang de kekuatannya kayak gimana… . Dulu serem banget nontonnya. Nonton tapi sambil tutup muka, haha 😆 .

    Anyway, iya ya seharusnya kita juga lebi menghormati binatang-binatang itu.

  4. Ah, setuju banget. Aku sebenernya ga setuju sama atraksi ato fasilitas foto/megang hewan. Kalo mo liat ya liat aja sih, ga usah ampe kepo pngn megang apa deket2 gitu. Karena sbg hewan mgkn mereka jg merasa insecure dgn adanya kita.

  5. Mbak Nooon, aku sih bukan pecinta binatang hahaha, tapi yg aku yakinin sih binatang mah gak pernah salah ya, karena dia nggak punya akal kayak manusia, jadi ya dia melakukan semuanya sesuai insting aja kali ya, jadi kalau dia nyerang orang, mungkin dia lagi melindungi diri sendiri yaa kaan.. Bukan pecinta binatang tapi bukan berarti akooh jahat ya, aku mah liat binatang, mending biarin ajalah. kita hidup masing-masing aja. sama-sama tau.. *hapasih* =)))

  6. Ih bicara soal OU, aku jadi inget pas ke TNG Leuser tahun 2015. Kita pas-pasan sama bule yg udah 3 hari disitu pgn ketemu OU tapi ga ketemu-ketemu jd mereka balik lagi. Eh ga lama darisitu, malah aku sama keluargaku yang ketemu sama OU super besar. Bukannya pengen ngedeket, jadi pengen jauh-jauh aja dari itu OU yang super gede. Mana pawangnya waktu itu ikut takut juga saking gedenya, sampe dia nyuruh kita lari tanpa suara karena surprisingly si OU ini ngejar kita dgn cara pindah dari 1 pohon ke pohon lain.

    Kalo di kasus aku ini, karena OU punya wilayah kekuasaan masing-masing, jadi begitu kita keluar darisitu ga akan dikejar lagi. Makanan ini akhirnya dipake sama si pawang buat ngalihin perhatian dia biar kita bisa balik ke track yang bener. Pawangnya juga ga berani deket-deket sama OU, jadi cuma dia taro aja terus kita nungguin OU ini ambil makanannya dari jauh banget wkwk. Suka sih mbak sama tulisannya, emg setuju gaboleh deket-deket banget hehew.

    • Kayknya kamu ketemu Mina deh. Si Mina itu legend di Bukit Lawang. Udh banyak korban yg digigit dia. Jadi dulu Mina ini disiksa sama pemiliknya trus setelah direhabilitasi dia dipindahin ke bukit lawang. Kalau gak salah ya ceritanya. Cuma dia masih samgat2 gak suka manusia karena diotaknya manusia itu suka menyakiti. Semacam parno gitu

  7. Aku pun pernah digigit kucing sodaraku akibat kelewat gemes. Abis itu parno deket-deket binatang apapun lagi 😂

    Jangankan binatang mbak Non, kita aja kalau dipegang orang yang ga kenal kesel juga kan. Hahaha.

  8. mbak non aq pernah foto dengan anak macan tutul di taman safari, dan pas baca ini aq jd inget, anak macan yg aq pangku itu tiba2 lompat dr pangkuan dan aq langsung panik trs keluar tempatnya,, kebayang kalo dia bukannya lompat tp malah nyerang aq,, hiiiii
    kayanya gak lagi2 foto2 dengan binatang buas..

    mbak non semakin gencar promo bukit lawang, aq makin pengen datang,, tapi kapan yahhh

  9. Setuju mba, aq sayang hewan tapi klo suruh pegang2 ga berani deh. Jadi inget pas dulu honeymoon ke turtle island di Bali, ada beberapa hewan di sana trus aq disuruh pegang sama pawangnya dan aq ogah hahahahaha asli aq takut, ya namanya hewan kan mana tau dia lagi ga mau diganggu trus moodnya lagi jelek bisa kenapa2 aq hahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s