Lukisan Pagi di Takengon


Takengon Gayo- Aceh Tengah
Takengon Gayo- Aceh Tengah menjelang siang

Perjalanan kali ini sebenarnya udah tertunda sejak April 2015. Saya pengen ke Takengon itu di April pas Panen raya. Panen kopi maksutnya. Tapi pagi hari sebelum berangkat ehhh masuk rumah sakit. Di jadwalin ke bulan Mei masih sama. Begitu mau berangkat sayapun kesakitan sehingga semua temen langsung batalin trip. Juni dan Juli puasa. Sampai akhirnya bulan ini akhirnya kesampean juga berangkat ke Takengon dengan banyak drama ini itu.

Takengon yang saya ingat adalah sebuah kota kecil cantik yang sepi. Pagi-pagi danau diselimuti kabut halus diatas permukaannya dengan udara dingin yang menggigit. Kota pun sepi dan terasa rapi. Β Tidak banyak ruko atau kendaraan berlalu lalang. Sepi yang menyenangkan. Itulah kenapa saya ingin sekali lagi berkunjung ke Takengon.

Setelah turun dari bis saya sempet shock. Yah pasti udah banyak perubahan setelah hampir 20 tahun saya datangi tapi sungguh saya tidak menyangka kalau kota ini menjadi sangat ramai. Ruko sempit dimana-mana. Sejauh mata memandang terlihat kendaraan yang berjalan tidak beraturan. Sampah pun terlihat diseluruh penjuru. Rasanya seperti patah hati. Takengon yang saya ingat berubah banget.

Mungkin juga saya patah hati karena punya harapan sangat tinggi mengenai Takengon. Saya masih mengharapkan untuk melihat pemandangan beberapa tahun lalu yang sudah pasti akan sulit sekali ya. Semuanya berubah termasuk saya sendiripun berubah. Berapa banyak yang sudah saya lihat juga mempengaruhi apa yang saya lihat saat ini.

Sebenarnya cukup sedih menuliskan tentang Takengon yang saya ingat dan yang saya lihat sekarang ini. Tapi setiap perjalanan tentunya punya cerita kan ya. Kali ini cerita saya mungkin sedikit berbeda. Semoga ditahun-tahun berikutnya Takengon bisa menjadi kota yang lebih bersih dan teratur. Saya tahu roda perekonomian di kota ini berasal dari perkebunan kopi tapi pasti kalau alam kita tetep terjaga dengan baik akan ada tambahan pemasukan lagi dari wisatawan yang datang πŸ™‚

Dari sungai di tengah kota Takengon
Dari sungai di tengah kota Takengon
Perkampungan
Perkampungan
Rumah di pinggir danau
Rumah di pinggir danau
Kota Takengon dari atas bukit
Kota Takengon dari atas bukit
Saya di Lapangan pacuan kuda. Setiap tgl 17 Agustus disini selalu diselenggarakan pacuan kuda. Seru
Saya di Lapangan pacuan kuda. Setiap tgl 17 Agustus disini selalu diselenggarakan pacuan kuda. Seru
Diatas bukit
Diatas bukit
Memancing sore didepan rumah
Memancing sore didepan rumah
Anak-anak bermain di pinggir sungai
Anak-anak bermain di pinggir sungai
Kota Takengon di Pagi hari
Kota Takengon di Pagi hari
Pagi di Danau Lut Tawar
Pagi di Danau Lut Tawar
Danau LUt Tawar Takengon
Danau LUt Tawar Takengon
Danau Lut Tawar Takengon
Danau Lut Tawar Takengon
Advertisements

61 comments

  1. Sedihnya baca kondisi kota yang jadi kotor. Semoga ke depannya bisa lebih baik ya pemerintah kota ngaturnya. Tapi Mbak Noni beneran bisa capture keindahan kota itu deh. Syahdu rasanya lihat poto-potonya.

  2. Hasrat yang belum kesampean pergi ke takengon, padahal ada family disana, tapisampai hari ini blm penah kesana..hikss…hikss.., cantik noni dgn kaos chicago nya..:))

  3. Aku sekali-kalinya ke Takengon tahun… 2003! Masih jaman darurat militer, jalannya juga dikawal TNI. Jadi kenanganku soal Takengon lebih banyak soal pengawalan militernya dan sejuk udaranya saja. Sad?

    • Aku lumayan sedih mba 😦
      Pas aku kesini itu sekitar tahun 96-97 kalau gak salah. Tempatnya masih bagus dan asri. Dinginnya juga menggigit sekali. Yang minggu ini ada banyak sekali perubahan dan kayaknya aku yang gak siap hehe. Masih terkenang2 perjalanan pertama

  4. Aku ke Takengon waktu habis lebaran kemaren mba Non. Paginya dingin banget tapi pas siang mataharinya nyengat banget. Hehehe.. Kemaren kelilingin danau lut tawar naik motor 2jam langsung gosong. Hahaha..
    Kotanya lumayan kecil ya mba. Tapi padet.
    Trus kemaren itu pengennya liat pacuan kuda ternyata kudanya masih pada lebaranan. Jadi cuma liat satu dua kuda aja di sana..
    Tapi foto mba Noni keren banget. Bisa capture keindahan tersembunyi di Takengon. πŸ˜ƒ

    • Padet banget ya. Dulu waktu mba masih SMA kesini sepi banget. Kita tinggal di rumah omnya temen dipinggir danau dan sepinya minta ampun. Sekarang rameee banget. Katanya pacuan kuda juga ada pas 17 Agustus.

  5. Melihat pemandangan ini aja, rasanya kota ini menyenangkan. Apalagi waktu beberapa tahun yang lalu, ketika Takengon jauh lebih sepi dan rapi, pasti jauh lebih menyenangkan.

    Selalu menyedihkan ya melihat perkembangan kota-kota di Indonesia, semakin bertambahnya waktu sering kali makin ruwet dan tidak menyenangkan. Saya jadi ingat waktu tahun 1994 mulai menetap di Bogor. Saat itu Bogor menyenangkan, hawanya sejuk, jalanannya jarang macet. Sekarang? beuuh, udah panas, macet pula dimana-mana 😦

    • IYa sekarang karena udah jauh berbeda jadi agak gimana rasanya. Temen aku yang tinggal di Takengon pun bilang yang sama. Udah beda banget dan jauh lebih asik yang dulu.

      Kayaknya rata2 semua kota yang tumbuh bakalan jadi kayak gini ya, gak teratur karena gak ada tata ruang yang jelas

      • Seharusnya secara teori gak begitu ya mbak? Karena ilmu planologi khan makin maju. Entah karena manusianya yang gak bisa dikendalikan/diatur, atau memang penataannya masih setengah-setengah.

  6. walo prnh tinggal di aceh 18 thn, aceh utara sih tapi, aku cm sekali ke takengon..itupun pas msh SD kls 2 kalo ga salah… samar2 smuanya.. yg aku inget udara di sana dingin, ada danau besar.. dan jalanannya jurang di satu sisi, tebing di sisi satunya.. udh cm inget itu :D.. tp pgn bgt sbnrnya bisa balik k sana πŸ™‚

  7. Sadar adanya perubahan yang tidak sejalan dengan apa yang kita (dan orang lain) harapkan atas suatu kota tentu membuat ada rasa tidak nyaman di hati Mbak. Saya juga merasakan hal itu terhadap kampung halaman di Lombok sana. Semoga kotanya bisa kembali baik lagi seperti dulu, tanpa harus mengabaikan perkembangan yang memang semestinya terjadi ya :hehe.

    Ah, saya setuju dengan Mas Dani, dirimu memang fotografer jempolan banget Mbak, suasana kotanya terasa banget dalam foto-foto yang ada di sini!

    • Gara, kamu mba kirain orang Bali loh ternyata Lombok ya hehe. Emang berasa ya kota2 yang tumbuh ini berubah banget dan sayangnya terkadang tumbuhnya koq jadi tambah berantakan. sedih.

      Btw… makasih ya pujiannya

  8. Wonderful mbak.. kota kecil yang ramah banget kayaknya. ramah dipandang, ramah ditelusuri, ramah ditinggali… πŸ˜€

  9. Aslinya bagus hlo pemandangannya, sayang sekali kurang sadarnya masyarakat akan sampah jadi berubah, Semoga pemerintah lekas bergerak mensikapinya..
    Salam kenal gan, Kalau ada waktu mampir ke Blogku ya πŸ™‚

  10. Gw terakhir ke Takengon tahun 2005…. penasaran juga…. Udah lama nggak ke Aceh lagi… Kalau jadi ada partner lokal (organisasi yang kita support) baru di Aceh maka tahun depan gw mungkin ke sana lagi…yuhuuu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s