Kota Tua Anuradhapura Sri Lanka


Saya gak pernah kepikiran kalau Sri Lanka menyimpan sejarah yang sangat menarik sampai 1 hari sebelum berangkat, Matt pulang dari kantor dengan cerita tentang Jetavanaramaya yang dulunya merupakan salah satu bangunan tertinggi di dunia setelah Piramid Khafre dan Kufu. Dengan tinggi 122 m dan luas wilayah 5,6 ha pantas saja kalau bangunan ini dulunya dinobatkan menjadi salah satu yang tertinggi.

Disebabkan oleh bangunan inilah akhirnya sampai naik pesawat ke KL, kami masih ragu-ragu antara booking hotel di Anuradhapura atau langsung ke Kandy. Nyatanya Matt tetep ingin melihat Jetavanaramaya sehingga begitu nyampe KL, kita pun booking hotel di Anuradhapura.

Dari kota Negombo ke Anuradhapura kami menyewa mobil selama 2 hari penuh. Biaya sewa mobil untuk 2 hari penuh 155 Euro untuk rute (Negombo – Anuradhapura – Kandy.) Dari Negombo ke Anuradhapura dengan mobil (supir kami nyetirnya santai dan jalanannya bagus banget di sana) sekitar 4-5 jam.

Sebenarnya dari Negombo ke Anuradhapura kalau saya gak salah ada kereta api dan bus dengan harga yang tentunya lebih murah lagi tapi masalahnya kita gak punya terlalu banyak waktu dan melihat panasnya Sri Lanka rasa-rasanya kami berdua bakalan bawel banget kalau harus naik bis/kereta api selain itu tentunya kita juga gak mau kehilangan waktu terlalu lama di jalanan.

Anuradhapura merupakan kota kuno yang pertama kali dibangun pada tahun 900 SM. Kota ini dulunya adalah ibukota dari Kerajaan Sinhala hingga tahun 1100 hingga kemudian ibukotanya pindah ke daerah selatan yang mungkin lebih kita kenal sebagai Siem Reap.

Di kota Anuradhapura juga biasa disebut kota kuno, Sacred City, dan Holy City. Kalau main ke sini paling enak sebenarnya jalan-jalan ke banyak bangunan-bangunan tua yang ukurannya gede-gede banget.

Tips, bawa kaos kaki untuk mengelilingi tempat-tempat kuno ini karena rata-rata pengunjung gak dibolehkan menggunakan topi dan alas kaki. Kaos kaki diperbolehkan. Kaki Matt sampai melepuh kepanasan karena lantai batunya luar biasa panasnya.

O,ya sebelum masuk ke Jetavanaramaya, kita diharuskan membeli tiket terusan seharga USD 25. Lumayan mahal, ya bahkan jika dibandingkan dengan tiket terusan di Siem Reap yang hanya sekitar USD 20 untuk 2 hari. Tapi pas masuk ke areal Stupa kami gak nyesel juga bayar segitu karena beneran terawat dengan baik. Bersih, pohon-pohon terawat dengan baik, beberapa burung dan primata berkeliaran dengan bebas dan kelihatan sehat, papan-papan penunjuk jalan lengkap dan areal museum yang juga tempat pembelian tiket juga sangat menarik.

Kuttam Pokuna

Kuttam Pokuna lebih mirip kolam Segaran di Trowulan Jawa Timur. Sumpah saya gak bisa berhenti mikirin kolam peninggalan kerajaan Majapahit itu pas ngeliat kolam kembar ini yang dulunya adalah tempat pemandian dan merupakan  Bangunan ini dikenali sebagai prestasi dalam teknik hydrologi di zaman Sinhala.

Samadhi Statue

Saya gak masuk ke dalam, cuma Matt aja karena males buka sandal hehe. Sumpah ya, jalan-jalan di sini itu salah satu masalahnya adalah buka sandal dan harus jalan kaki di atas batu-batu yang panasnya gila-gilaan.

Di sini saya liat ada burung rangkong lompat-lompat bebas sambil makan. Aduh, rasanya kayak gak percaya bisa liat burung-burung kayak gini keluyuran di mana-mana.

Sandakada pahana

Atau biasa dikenal sebagai Moonstone. Tempat ini sepi tapi bagus banget. Aduh, kalau saja ada pemotretan di sini pasti bagus banget karena cahaya matahari yang jatuh itu semu-semu kuning dari sela-sela pepohonan. Bagus deh.

Moonstone ini adalah bagian dari arsitektur Sinhala di Sri Lanka kuno. Biasanya sering dipakai persis di pintu masuk atau tangga. Dipikir-pikir emang kece juga ya. Saya juga sempat lihat ukiran ini ada di mana-mana terutama restoran, cafe atau hotel-hotel.

Ruwanwelisaya

Sebenarnya bentuk stupa Ruwanwelisaya ini biasa aja. Putih dan gede. Udah deh, tapi ini adalah stupa terbesar di Sri Lanka. Rame banget sampai tengah malam kayaknya. Banyak umat Budha dari negara-negara lain datang ke tempat ini untuk berdoa dan melakukan ritual-ritual keagamaan. Lagi-lagi kami harus lepas alas kaki dan jalan cukup jauh. Bedanya di sini sebagain sudah dilapisi dengan karpet rumput sintetis. Lumayanlah. Yang paling kesian sih si Matt, karena belon apa-apa kaki dia sudah terbakar dan susah jalan.

Jaya Sri Maha Bodhi

Pohon Bodhi ini kami berdua pikir termasuk pohon tertua di dunia. Umurnya lebih dari 300an tahun. Menurut cerita pohon ini tumbuh dari akar pohon yang sama di India. Gila ya, seru banget haha. Masalahnya saya masih mempertanyakan bisakah akar pohon melewati lautan?

Perjalanan di kota tua Anuradhapura ini sebenarnya cukup menyenangkan tapi kita harus kalah dengan waktu dan cuaca. Sumpah panasnya gak nanggung kayak digigitin rasanya kulit badan. Dari begitu banyak stupa dan bangunan-bangunan tua, kami hanya bisa melihat beberapa ini saja karena keterbatasan waktu.

6 comments

  1. Ternyata kebudayaan Sri Lanka jaman dulu jg ga beda jauh dgn kebudayaan kerajaan-kerajaan di Indonesia ya. Tapi tetep keren-keren bgt bangunan-bangunan tuanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s