If You Love Elephants


Dengan tidak bangga saya harus mengatakan kalau sudah 2 kali saya naik gajah. Pertama di Bali (gajah wisata) dan terakhir kali di Sikundur beberapa tahun lalu naik gajah patroli. 2 kali naik gajah adalah sesuatu hal yang saya sesalkan seumur hidup.

Gajah dengan badannya yang besar menurut saya adalah hewan kuat yang semestinya tidak kesakitan atau keberatan jika saya naiki. Apalagi ditambah saya lihat wisata gajah. Gajah dilengkapi dengan tempat duduk seperti sofa dipaksa jalan-jalan mengelilingi taman atau tempat wisata dengan seorang pemandu yang duduk dilehernya. Terlihat lucu dan menyenangkan padahal untuk si hewan ini adalah kegiatan yang brutal.

Dengan alasan bodoh di atas saya akhirnya 2 kali naik gajah. Lalu beberapa waktu lalu Matt kasih tau kalau sebaiknya memang kita gak boleh naik gajah. Alasannya ada banyak. Saya diem aja waktu itu dengerin alasannya. Lebih banyak ngerasa bersalah sih.  5 menit aja naik gajah  dan saya nyerah naik di punggung gajah. Sakit banget. Inilah salah satu alasan dilarang naik gajah. Bisa bikin paha kita sakit berhari-hari.

Selain itu tentu saja ada alasan lainnya :

01. Gajah liar gak bakalan bolehin kita naikin dia. Yaiyalah ya. Jadi sebelum gajah liar bisa dinaikin manusia, mereka harus ditraining. Salah satu caranya adalah dengan menghancurkan spiritnya mereka. Training gajah liar menjadi jinak sangat-sangat brutal. Ingat saya pernah naik gajah di Bali. Menurut salah satu pawang ada satu gajah liar saking stressnya lari ke sana sini sampai akhirnya masuk jurang. Ketakutan dia. Bayangkan jiwa kamu secara mental dihancurkan. Salah satu istilah untuk training gajah disebut Phajaan. 

Elephant crushing, or a training crush, is a method by which wild elephants can be tamed for domestication, using restriction in a cage, sometimes with the use of corporal punishment or negative reinforcement. This practice is condemned by a variety of animal-welfare groups as a form of animal cruelty.

02. Gajah harus ditraining sejak kecil atau bayi. Bayangkan lagi enak-enaknya nyusu sama emaknya ditarik suruh training. Induk gajah dan bayinya bakalan nangis berminggu-minggu dan mereka gak bakalan pernah ketemu lagi. Bayangin kalau itu anak kamu yang harus ditraining.

03. Ada satu hal yang dilakukan dipelatihan gajah (phanjaan) yang membuat gajah gak bisa jalan, bergerak, duduk, bahkan makan. Mereka trus berdiri gak bisa makan dan kelaparan. Gajah itu ya, setiap saat harus makan. Mereka jalan aja sambil makan. Kebayang gak kalau disiksa tanpa makanan trus gak boleh bergerak kayak dipasung pakai sesuatu yang namanya tiny pen. Gilaaa…..ini demi wisata.

04. Penyiksaan masih berlanjut selain tiny pen, gajah juga akan disiksa dengan alat lainnya. Dipukul di tempat-tempat yang sensitif menggunakan bambu dan lainnya. Waduh pedih banget.

05. Sama seperti cerita saya di atas mengenai gajah di atas, ada banyak bayi gajah yang gak kuat dengan pelatihan sehingga berakhir dengan kematian.

06. Punggung gajah tidak kuat dan tidak didesain untuk membawa orang. Kuda memiliki punggung yang memang bisa membawa manusia tetapi gajah enggak. Tulang punggungnya terlalu lemah sehingga bisa membuatnya sakit. Beberapa orang mengatakan leher gajah bisa membawa manusia. Iya mungkin bisa tapi hanya untuk satu orang (pawangnya) dan pengalaman saya di Sikundur menurut pawang hanya di leher gajahlah kita tidak akan merasa sakit ketika mengendarainya.

Bayangkan kalau dijadikan gajah wisata, selain ada tempat duduk kayu yang harus dibawa lalu 2 orang manusia juga sebagai tambahan. Manusianya ketawa-ketawa kesenangan, gajahnya mungkin setengah mati ngerasain kesakitan.

07. Pawang selalu menggunakan bullhooks atau kayak tongkat tajam gitu untuk membuat gajah nurut. Sakit pasti ya.

Pengen tau lebih banyak mengenai pelatihan gajah, bisa cek blog ini karena saya juga dapat dari mereka. 

https://thetravelrebellion.com/secrets-elephant-riding/

Semoga ya, dengan adanya tulisan-tulisan seperti ini kita semua bisa berbagi bahwa hidup di dunia bukan cuma soal kita aja. Masih ada yang lain mahluk hidup di dunia dan semuanya berhak untuk berbahagia bukan tersiksa atas nama wisata atau kebahagiaan turis.

22 comments

  1. aku kepengen banget lho naek gajah, tapi syukurlah sampe skrg belum kesampean.
    aku ngilu dan nyeri waktu baca tulisan ini, gak kebayang gimana penyiksaan yang harus mereka lalui 😦

  2. Waktu aku “ngobrol” sama salah satu gajah di Bali Zoo setelah mereka keliling bawa penumpang, gak lama kemudian mereka nangis meneteskan air mata. Keliatan banget gak berdayanya.. Lgsg bersyukur kmrn2 gak pernah naik gajah dan (semoga) sampai kapanpun gak akan pernah, mbak Non!

  3. Aku gak pernah minat naik gajah, dan setelah tahu rahasia2 mereka, makin gak mau. BTW aku pernah baca di kolom berita bahwa sejak kecil, gajah mini akan ‘dipasung’ pake tiny pen itu. Pas masih kecil, tiny pen ini kesannya besar banget untuk mereka. Nah, pas besar, si tiny pen akan diganti jadi sesuatu yang lebih ringkih. Justru karena sudah dikondisikan “tiny pen itu besar” di otak gajah, maka pas gajah tumbuh besar jadi dewasa, dia tetap berpikir tiny pen itu besar, padahal udah jadi lebih kecil dari tubuh mereka, bahkan seringnya diganti atau gak pake tiny pen sama sekali. Kasihan ya penyiksaannya bukan cuma fisik tapi mentalnya dimanipulasi.

  4. aku mewek ngebacanyaaa…
    duluuuu selalu pengen buat ke tempat wisata gajah ataupun naik gajah. tapi semakin ke sini semakin ga mau untuk berwisata ke tempat penangkaran gajah. Apalagi setelah baca ini dan ngilu banget ngebayanginnya, makin ga mau ke tempat wisata yang mengeksploitasi hewannya kayak gini. Makasi mbak noni buat postingannyaa

  5. Dulu aku sering ke sekolah gajah…yang aku ingat gajah kecilnya suka ngamuk. Kesian. Sejak saat itu aku hati-hati dengan gajah. Dan nggak pernah mencoba menaiki, anak juga tidak kuijinkan naik walaupun merengek. Selain nggak tega juga kita tidak pernah tahu kondisi perhewan. Mungkin karena kondisi stress kan suka ada gajah ngamuk sampai bunuh pawangnya. Juga bunuh perawat…

  6. Aku memang ga pernah. Dan ga tertarik juga Non karena takut. Apalagi memang gajah mukanya culun kan (ingat Bona si gajah berbelalai panjang dalamn cerita anak di majalah bobo😁. Tapi kalau unta gimana ya? aku pernah naik itu meski sehari sebelumnya agak ketakutan mikiri naik unta. Unta binatang layak hmga sih dinaiki? kayak kuda juga ga?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s