Lebaran Yang Dirindukan


Pixabay

Ngomongin lebaran untuk tema #ceritajalanasik? yah….ini tema kami minggu ini karena memang hampir lebaran. Saya yakin ada beberapa yang biasa baca blog ini sudah mulai siap-siap untuk mudik. Sebagian malahan mungkin sudah akan berangkat.

Lebaran paling seru untuk saya tentu ketika masih kecil. Biasanya satu hari sebelum lebaran, ibu saya akan sibuk sekali. Bersih-bersih rumah, masak makanan yang enak, bisa seharian beliau kerja keras sampai semuanya kinclong dan dapur wangi makanan. Yumm….

Tugas saya ketika itu biasanya mengganti semua kain horden, taplak meja, nyiapin kue-kue di wadahnya, meras santan, dan bersiin halaman huahha. Malam harinya ketika takbir berkumandang saatnya bermain kembang api. Oya kembang apinya mesti ditusuk ke pelepah pisang karena saya takut megang tangkainya langsung hihi. Kalau gak pelepah pisang biasanya tangkai pohon pepaya.

Keesokan harinya setelah shalat, keliling ke rumah beberapa tetangga yang dekat, biasanya kami langsung mudik. Semasa saya kecil, ayah saya masih belum punya mobil, kami biasanya naik bis, kereta api, atau yah naik motor. Capeknya gak berasa sih ya untuk anak kecil. Selalu menyenangkan tapi kata ibu saya capek !

Di Kampung lebaran itu lebih berasa. Nenek dan atok saya kebetulan termasuk orang yang dituakan di desa. Setiap hari besar, rumah mereka kayak kejatuhan kue. Banyak banget kue, lemang, dodol, wajik, dan masih banyak lagi. Saking banyaknya sampe bergelimpangan gitu hehe. Rumah mereka juga gak pernah sepi. Dari pagi sampai malam tamunya gak berhenti. Saya ngapain? emm harus pinter-pinter haha. Kalau gak pinter bisa seharian nongkrong nyuci gelas 🙂

Baca cerita Febby : Seperti Apa Masjid Terbesar di Belgia, Keramaian Pasar Ramadan Disana dan Mudahnya Menemukan Toko Halal di Belgia

Setelah shalat Magrib biasanya ayah bakalan bawa kita keliling ke rumah sodara-sodaranya. Beberapa saya masih ingat. Kita bakalan bawa senter masing-masing, ngelewatin kebun sawit/rambung. Astaga dulu saya benci banget kalau harus keliling kampung karena serem banget. Gelap dan sering ada kunang-kunang atau serangga malam yang nyamber-nyamber muka. Kadang-kadang kami keliling dari rumah ke rumah sampai pukul 10 malam. Untuk ukuran zaman dulu itu sudah malam banget, loh. Setiap rumah yang kita lewati pasti dihalamannya diterangi lilin. Serius, pas nulis ini tanpa sadar saya nangis loh.

Kalian tau NIRA?

Jadi ada satu saudara sepupu ayah saya yang punya usaha pembuatan gula merah. Zaman saya kecil dulu ini sudah hebat banget. Uak ini selalu bawa kita ke kebun durian atau rambutannya. Pernah ya, kita jalan dibawah pohon-pohon duriannya tiba-tiba beberapa durian jatuh. Sejak itu saya gak mau lagi ke kebun durian. Asli mengerikan. Salah satu uak yang saya suka nih si Wak Saleh. Nah, kalau kita lagi pulang kampung, biasanya Wak Saleh ini suka kasih saya air nira yang nantinya bakalan jadi gula merah. Enak banget 🙂 Selain itu beliau juga suka kasih rambutan untuk saya. Oya, kue yang paling enak di rumahnya kalau gak salah kue yang kayak kapur. Enak deh. Gak tau namanya.

Ah….masih banyak cerita lagi tentunya, tapi untuk sementara saya tulis ini aja deh. Kayaknya walaupun sederhana sudah terlalu susah untuk saya alami lagi 🙂

Bagaimana dengan kamu?

#ceritajalanasik is a weekly travel theme where we share our travel stories based on a certain theme by jalan2liburan, nyonyasepatu dan dewtraveller. Check our posts every Wednesday!
 

This week’s theme : Lebaran 

 

Advertisements

35 comments

  1. mbak non yang gak di suka di hari lebaran sama ma aq, nyuci gelas,,, hahaha.. untung sekarang sudah ada aqua dan minuman gelas instan lainnya,,

  2. Kampung aku disukabumi dan dulu klo lebaran suka pulang kesana terus main dipantai dan ke puncak halimun..ramenya terasa bgt klo dikampung sampai seminggu takbir masih mengumandang bedalah sama dijakarta…sayang skg aku udah gak pulang kampung lagi karena nenek dan kakek sudah gak ada..

  3. emangnya waktu kecil momen lebaran itu kayaknya seru banget dan momen paling ditunggu. Kalau skarang karena lebaran masih di sini-sini aja maleeesss karena ternyata lebaran buat orang dewasa itu capek banget. wkwkw
    btw Mbak Non, berarti istilah kejatuhan durian runtuh itu, harusnya artinya diganti aja ya, karena emang sih kalau kejatuhan durian satu biji aja pasti menyakitkan, apalagi runtuh *halah apa sih*

  4. Aku nggak ikut lebaran, tapi kangen juga sama suasana lebaran pas jaman kecil dulu, suka diundang ke rumah temen makanin kaastengels, kue2 gitu dan opor dan sejenisnya dong. Jaman dulu waktu semua masih rukun ya, ga ada benci2an kaya sekarang…

  5. soal bersih-bersih itu sama deh Mba, sehari sebelum lebaran pasti kita kerja bakti bersih-bersih, dan pasti yang harus ada beli bunga di pasar , padahal hari biasa ga pernah ada bunga 🙂

    abis Lebaran trus keliling kampung, salam-salaman, dulu ampe bosen karena lama banget, kita ga pernah mudik juga karena Kakek Nenek udah ga ada semua

    sekarang emang agak garing sih ya Lebaran hehe, enakan jaman kecil dulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s