Htilominlo Pahto Pagoda Cantik di Bagan


Dhammyangyi Paya Bagan

Htilominlo Pahto 

Saking banyaknya pagoda yang didatangin, saya pun lupa yang mana aja yang kami kunjungi. Semoga tidak salah informasi dan salah posting haha.

Pagoda Htilominlo Pahto adalah pagoda yang dibangun oleh raja Nantaungmya. Ini pagoda terakhir yang dibangun di Bagan dengan gaya Myanmar. Pagoda ini cantik dan photogenic banget. Makanya tidak heran ada banyak orang berfoto disini sampai berol-rol.

Raja Nantaungmya membangun pagoda ini sebenarnya untuk merayakan terpilihnya dia sebagai putera mahkota diantara 5 putera lainnya. Arti dari nama pagoda itu adalah disukai oleh Raja dan payung kerajaan.

Kota Bagan terbagi atas 2 bagian. Old Bagan dan New Bagan. New Bagan lebih banyak didiami penduduk dan hotel-hotel sementara Old Bagan tempat dimana Zona Archaeological berada. Biasanya seingat saya nih, begitu gelap Old Bagan langsung seperti kota mati. Sepi dan gelap tapi samar-samar kita bakalan lihat siluet ratusan atau bahkan ribuan pagoda disana.

Seingat saya untuk masuk ke kota Bagan kita harus membayar sekitar 15-20 dollar (aduh lupa, akibat nulis blog traveling setelah lebih dari 2 tahun haha). Dengan membayar biaya tersebut kita bisa mengelilingi seluruh stupa, candi dan pagoda yang ada di Bagan selama 5 hari. Harga tersebut menurut saya murah banget. Coba bandingkan dengan Siem Reap, yang harga tiket terusan dibandrol 20 dollar perhari.

Gimana cara dapetin tiketnya? nah kita bisa beli di Airport Bagan (Nyang-U) tapi karena saya tiba dengan bus, akhirnya Thien (supir mobil rental) membawa kami ke pos tiket, dipinggir jalan haha. Lucunya dia juga yang membayarkan duluan karena kami gak punya uang Kyatt.

Kota Bagan itu terkenal sebagai kota dengan seribu stupa. Ada yang mengatakan jumlah stupa/pagoda sebanyak 2200 tapi katanya nih, kalau menurut UNESCO hanya sekitar 300an pagoda disana. Pokoknya sejauh mata memandang yang keliatan yah candi, kuil, stupa, pagoda dan kambing haha. Banyak banget. Besar dan kecil. Ada yang sendirian sampai yang bergerombol kecil-kecil. Sampai hari inipun masih banyak sekali stupa yang digunakan oleh masyarakat Bagan untuk berdoa.

Didalam pagoda Htilominlo Pahto terdapat 4 patung Buddha keemasan dalam posisi duduk disetiap arah mata angin. Sebenarnya yang menarik untuk saya selama disini adalah ukiran cantik dan tentu saja beberapa suku yang masih menggunakan kalung besi dilehernya.

Htilominlo Pahto Bagan
Htilominlo Pahto Bagan
Htilominlo Pahto Bagan
Htilominlo Pahto Bagan
Htilominlo Pahto Bagan
Htilominlo Pahto Bagan
Htilominlo Pahto Bagan
Htilominlo Pahto Bagan
Htilominlo Pahto Bagan
Htilominlo Pahto Bagan
Htilominlo Pahto Bagan
Htilominlo Pahto Bagan
Htilominlo Pahto Bagan
Htilominlo Pahto Bagan

Suku Padaung atau Long neck ternyata ada di Bagan. Mereka menempati beberapa toko disekitaran pagoda sambil berjualan aksesoris dan juga kain. Katanya suku ini akan tetep mempertahankan tradisi tersebut. Jadi seumur hidup akan menggunakan kumparan kuning di leher.

Wanita-wanita dari suku Padaung sudah menggunakan kalung itu sejak berumur 5 tahun. Katanya kalung tersebut bisa mencapai berat 5 kg. Alasan mereka menggunakan kalung itu adalah semata-mata untuk kecantikan dan identitas. Apakah mereka tersiksa? kalau yang saya lihat sih iya, tapi kalau ditanyain kata mereka sih enggak. Malah mereka seneng-seneng aja 🙂

Kalung itu sebenarnya tidak membuat leher kita bertambah panjang. Jadi cuman ilusi mata aja. Jadi yang kita lihat semakin panjang sebenarnya karena tulang pundak mereka menjadi turun akibat tekanan dari kalung besi yang cukup berat itu dan sebenarnya kalung itu harus bertambah berat setiap tahunnya. Makanya kalau liat nenek-nenek kalungnya tambah panjang, yah itu karena umurnya juga bertambah.

Htilominlo Pahto bagan
Htilominlo Pahto bagan
Htilominlo Pahto bagan
Htilominlo Pahto bagan
Htilominlo Pahto bagan
Htilominlo Pahto bagan
Htilominlo Pahto bagan
Htilominlo Pahto bagan
Htilominlo Pahto bagan
Htilominlo Pahto bagan
Htilominlo Pahto bagan
Htilominlo Pahto bagan
Htilominlo Pahto bagan
Htilominlo Pahto bagan
Htilominlo Pahto bagan
Htilominlo Pahto bagan
Htilominlo Pahto bagan
Htilominlo Pahto bagan
Htilominlo Pahto bagan
Htilominlo Pahto bagan
Htilominlo Pahto bagan
Htilominlo Pahto bagan
Htilominlo Pahto bagan
Htilominlo Pahto bagan
Htilominlo Pahto bagan
Htilominlo Pahto bagan
Bagan
Bagan

Walaupun Bagan terlihat sangat kuno/tua ternyata sampai saya datang tahun 2015, kota ini belum mendapatkan pengakuan dari UNESCO. Ini juga yang menyebabkan masyarakat masih mengusahakan agar mereka mendapatkan pengakuan tersebut. Katanya sih penyebabnya, karena masih ada beberapa bangunan yang direnovasi tanpa mengikuti bentuk bangunan yang lama, dan masih banyak bangunan2 baru juga. Gitu katanya.

Yah walaupun begitu tetep saja kota ini luar biasa menarik, cantik apalagi pas sore atau pagi hari ketika matahari bersinar. Magic 🙂

 

 

Advertisements

29 comments

  1. Wah, Bagan ini kalau menurut saya mesti masuk World Heritage Site, sebab di sana banyak pagoda-pagoda tua yang mencerminkan sejarah Hindu-Buddha di daerah Myanmar. Dan semua bangunan itu masih jadi bagian masyarakat di sana, dalam artian tetap punya makna spiritual. Mudah-mudahan pengajuan ke UNESCO-nya berhasil ya Mbak, namun semoga juga tidak menaikkan harga tiket, hehe.
    Ngomong-ngomong, baju dasar wanita dari Suku Padaung itu mirip baju bodo ya.

  2. Kalau nggak salah ingat, di Afrika juga ada tradisi kalung utk memanjangkan leher. Kok bisa nyaris sama ya….padahal jauh..

  3. Cakep banget yah mbak tempatnya ❤️ mungkin Jogja ratusan tahun yg lalu kayak gini juga kali ya (kaleee kan banyak candi juga di Yogya hehe). Wanita2 long neck ini menarik banget ya, mgkn klo kt lihat kayaknya tersiksa tp mgkn buat mereka malah sebuah penghargaan terhadap kultur mereka ya. Salut juga masih dipertahankan sampai sekarang. Anak2 mudanya juga pada pake ga sih?

  4. Gile…. kebayang deh beratnya, mereka pada ngalamin sakit punggung gak ya? penasarn gw sama cara makenya kalung tuh :). Btw di tiap negara memang pasti ada suku yang unik yah, kaya dimana yah, aku lupa, dia merusak wajahnya suapay tidak dinikahi raja suku tetangga. Padahal kalo gak di rusak wajahnya pake jarum pasti mereka lebih cantik. Tapi balik lagi itu suku adat yang harus mereka ikuti. Pilihan ke anak mudanya, mau ikutin apa gak. Life is a choice.

  5. baca ini jadi ingat pas ke Htilominlo ada anak2 penjual souvenir nanya apakah kita dari indonesia, si anak mau nukerin duit rupiah yang dia dapat ke Kyat 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s