Macarin Bule


pixabay
pixabay

Kembali lagi ke episode pertanyaan-pertanyaan dari pacar-pacar bule 🙂 tulisan ini saya buat karena beberapa waktu lalu Matt ternyata dicurhatin yang sama. Bedanya kali ini Matt dicurhatin sama cowok bule yang kebetulan lagi berhubungan dengan cewek Indonesia.

Akhirnya kita malah ramai-ramai deh, ngobrol karena cerita ini dibawa ke acara kumpul-kumpul. Menurut beberapa cowok bule ini (yang saya kenal doang bukan semuanya) mereka ngerasa terkadang “gak selalu” ya pacar-pacar mereka kurang menerima mereka apa adanya. Contohnya begitu pacaran nanti banyak banget larangan seperti gak boleh lagi minum beer, gak boleh makan babi lagi kalau makan nanti di diemin atau gak boleh cium haha, gak boleh ini dan gak boleh itu plus…..yang paling banyak adalah langsung mulai ngomongin soal pindah agama.

Seingat saya dulu sewaktu masih pacaran (bukan dengan Matt) larangan yang paling sering saya req ke mantan pacar adalah jangan merokok deket-deket saya karena saya sering sesak nafas dan udah beberapa kali pingsan karena gak bisa nafas. Pokoknya ada beberapa hal yang sering bikin saya pingsan. Kelaparan, kepanasan dan gak bisa nafas hee. Iyaa…saya semanja itu 🙂 . Jadi jangan heran beberapa temen dulu memanggil saya lempis alias lemah pisik (pake P). Selain itu palingan jangan pacaran lagi sama cewek lain. Udah itu doang. Yang lain-lainnya hampir gak pernah termasuk ketika pacaran dengan Matt.

Ketika dengan Matt, dia sendiri yang berhenti makan daging babi. Saya ingat banget seorang teman saya menemani dia makan BPK untuk terakhir kalinya padahal saya gak pernah larang-larang. Belon tentu jadi suami juga waktu itu. Itupun gak ngomong-ngomong kesaya tapi dianya aja yang berhenti total.

Saya memang kurang suka ngelarang-larang setiap pasangan saya (mantan pacar atau suami) karena saya sendiri tidak suka dilarang. Sampai hari ini saya dan Matt hampir gak pernah melarang satu sama lain. Well, Matt ngelarang saya ngecat rambut deng trus saya tetep cat dan sekarang saya nyesel huhu.

O,ya obrolan saya tentu saja tentang email-email yang masuk ke saya. Ada yang bertanya “gimana caranya supaya si pacar bule gak ngajak ngesex, gimana caranya supaya si pacar bule pindah agama, gimana caranya si pacar bule gak minum-minum lagi karena ortu gak suka dan pertanyaan lainnya”

Tau gak, sebagian yang kirim email pada kepengen punya pacar bule. Masalahnya ketika punya pacar bule kayaknya malah kewalahan sendiri menghadapi kebiasaan-kebiasaan si bule. Yang saya tahu dengan pasti kalau semisalnya gak mau ngesex yah,  bilang aja gak mau, selesai kan. Tapi si cewek takut cowoknya pergi. Lah, saya jadi bingung juga dong haha. Ini kan sama aja dengan anak-anak zaman sekarang yang katanya kalau mau membuktikan cinta apa gak, maka berhubunganlah. Kalau gak mau katanya gak cinta. Si cewek jadi dilemma sendiri. Padahal seharusnya ketika berhubungan kita harus tau apa yang terbaik untuk kita. Kalau si cowok berani memaksakan kehendaknya sebaiknya yah, tinggalin aja. Mungkin dia gak cocok sama kita.

Kata si cewek lagi soalnya kan biasanya bule-bule ini emang pasti berhubungan intim sama pasangannya. Duh, koq saya jadi ikutan kebingungan ya haha. Sementara mereka maunya tetep virgin sampai waktunya menikah. Masalah lagi untuk saya adalah kenapa jadi diskusinya dengan saya, kenapa bukan dengan si pacar bule? saya yakin banget mereka ini salah satu yang paling bisa diajak diskusi dan bisa menerima pendapat kita. Kalau gak cocok yah cari aja yang lain. Mungkin yang lain lebih cocok untuk kita, ya kan.

Menurut saya nih ya, ketika kita sangat-sangat menginginkan sesuatu maka ketika hal itu terjadi ada banyak sekali hal yang harus bisa kita toleransi. Kebiasaan si pacar minum-minum jelas kurang baik tapi lihat dong mungkin dia sudah minum sejak umur 18 tahun di negaranya. Trus dia minum-minum disinipun hanya untuk senang-senang dan gak sampai mabuk, mungkin kita harus terima itu. Kalaupun emang ingin merubahnya dengan alasan agama atau kesehatan coba bicarakan baik-baik bukan mengancam. Apapun yang bentuknya mengancam entah kenapa buat saya sedikit mengerikan. Buat saya sih mendingan diomongin daripada dia bilang ok (untuk menghindari ribut-ribut) tapi dibelakang masih tetep melakukan hal-hal yang emang dia suka lakukan.

Ingat ketika kita menginginkan orang lain berubah maka si orang lain itu juga punya hak loh,  untuk merubah kita. Emang kita mau dirubah gak boleh makan nasi, mie, rendang, lontong atau yang lainnya? kalau makan bakalan dimusuhin kalau perlu gak boleh cium lagi.  Kalaupun kita minta dia segera pindah ke agama kita, dia juga sama aja punya hak untuk meminta kita pindah ke kepercayaan dia. Hubungan yang baik kan katanya saling menghargai 🙂

Jadi kalau emang kepengen banget punya pacar bule yah paling gak cobalah juga untuk menerima perbedaan-perbedaan mereka  atau diobrolin bukan diancem-ancem 🙂

 

Advertisements

109 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s