Sapa, Vietnam


foto was taken by Lucky S
foto was taken by Lucky S

Sapa Vietnam
Saya menemukan foto Kota Sapa pertama kali dari album mas Fifo, begitu melihat foto itu saya langsung bilang ke Lucky, “ Coba kamu cek Sapa “. Dia bilang bagus dan menarik, ok….kita harus kesana. 2 hari tapi harus trekking, karena highlight di Sapa adalah trekking menembus persawahan teraserring, dusun-dusun kecil tempat bermukimnya suku minoritas atau air terjun di hutan kecil.

Perjalanan ke Sapa bisa ditempuh dengan menggunakan bus atau kereta api dari Hanoi. Saya menggunakan kereta api atas rekomendasi dari beberapa Tripadvisor yang saya baca dan anjuran mas Fifo yang menyarankan kereta api jauh lebih aman daripada bus. Jalanan dari Hanoi ke Sapa memang berliku-liku, ditambah supir bus di Vietnam yang terkenal ugal-ugalan, hanya menurut saya sebagai orang Indonesia kita seharusnya sudah sangat terbiasa dengan gaya menyetir ugal-ugalan atau “ Seenak udelnya “.

Hujan mengguyur Hanoi sejak pagi hingga malam hari. Udara sedikit lebih sejuk dan lembab, saya malah sempat membeli rain coat di Sapa karena khawatir hujan di Sapa. Info terakhir dari seorang kenalan yang baru saja kembali dari Sapa, hujan terus-menerus selama 2 hari disana, sehingga dia harus trekking dengan menggunakan rain coat dan tidak bisa mengambil foto.

Livitrain menjadi pilihan kami untuk transportasi ke Sapa. Keretanya lumayan bagus, lebih bagus dari kereta kelas eksekutif yang ada di Indonesia malahan. Saya dan Lucky yang seharusnya membeli kelas soft sleeper, dicurangi petugas travel, sehingga sedikit takjub harus tidur di kelas hard sleeper. Ada beberapa kasta kereta api , yaitu soft sleeper, hard sleeper lalu soft seat dan hard seat . kalau mau yang lebih mewah lagi ada, yaitu kelas VIP, harganya juga lumayan sih hehe.

Hard sleeper sendiri gak jelek-jelek banget sih, satu kopartement terdiri dari 6 tempat tidur mirip dorm gitu, dengan luas tempat tidur 2x1M tetapi sudah dilengkapi dgn lampu baca di masing-masing tempat, colokan listrik, bantal dan selimut. Lumayan nyaman , terbukti saya tetap bisa tidur nyenyak apalagi semangkin malam ac semangkin dingin. Kereta berangkat on time sesuai jadwal di ticket yaitu pukul 20.30 dan direncanakan tiba pukul 05.00 pagi. Total perjalanan sekitar 8-9 jam .

Pukul 05.00 pagi tiba-tiba seorang petugas menggedor pintu kopartement, sontak saya terbangun hingga terjedut tempat tidur di atas saya, holly crap….berasa tidur didalam kapsul, ini kali ketiga saya kejedut di tempat yang sama. Kereta tiba tepat waktu di kota Lao Cai, nanti dari Lao Cai dilanjutkan dengan mini bus ke kota Sapa sekitar 1 jam.

Hanya beberapa menit kereta berhenti, lalu suasana menjadi sangat gaduh. Saya masih mengumpulkan sisa-sisa mimpi, bengong, mencari buku panduan karena katanya loket tiket bus ada di dalam stasiun, ketika tiba-tiba seorang lelaki kurus menghampiri saya dan menawarkan ke Sapa dgn harga VND 30.000, ok kami ambil Karena memang harganya normal, bahkan orang Vietnamnya sendiri membayar harga yang sama.

Kota Lao Cai sedikit gerimis pagi itu, awan gelap disebelah barat, sementara di bagian timur sedikit terlihat semburat sinar mentari. Mini busnya bagus, tidak reot seperti di Indonesia hehe, beberapa bule menempati kursi-kursi di bagian belakang. Saya dan Lucky duduk persis di belakang supir. Udaranya tidak dingin, sehingga saya tidak perlu berganti summer dress dengan jacket. Sempat terpikir untuk sarapan di salah satu warung-warung tetapi kaki rasanya malas melangkah keluar. Untungnya tidak perlu menunggu lama, hanya sekitar 30 menit mini bus melaju menuju Sapa. Diawal perjalanan saya sempat melihat kabut tebal menyelimuti lembah dan pegunungan yang kami lewatin, sayang karena mengantuk, saya tidak sempat melihat keseluruhannya.

Selamat Pagi SAPA !!!

Pukul 06.00 mini bus memasuki Sapa, amazing, tidak sampai terbelalak atau bengong, tapi saya tahu saya akan menyukai kota ini . seperti jatuh cinta pada pandangan pertama, saya mulai mengingat gereja kecil di pojokan jalan, gedung tua, deretan toko kecil, rumah-rumah mungil dengan atap merah bata di bukit-bukit, pegunungan yang diselimuti kabut tebal, perempuan-perempuan dengan baju merah dan hitam, suara motor dan asap knalpot yang sedikit menggangu dan sebuah danau di tengah kota.

Sapa adalah daerah pegunungan di sebelah utara Vietnam. Tempat ini mempunyai 4 musim yaitu musim panas, dingin, semi dan gugur. Sapa menjadi sangat terkenal karena disinilah suku-suku minoritas bertempat tinggal, terutama di kaki gunung Fanxipan atau dibukit yang tersebar di kota kecil ini. Ada beberapa suku minoritas seperti Black H’mong, Red Dao, Flower H’mong dan masih banyak yang lainnya. Saya yang datang pada hari rabu dan kamis hanya sempat bertemu dengan suku Black H’mong dan Red Dao yang kebetulan datang setiap hari ke pasar di kota Sapa untuk berdagang souvenir hasil kerajinan tangan mereka atau berjualan kebutuhan sehari-hari dan hasil bumi.


Mini bus berhenti di pertigaan jalan. Sebelah kiri Sapa market, di kanan deretan toko dan hotel kecil bernuansa coklat dan cream lalu dibelakang saya, ada beberapa coffee shop, toko roti dan beberapa toko kelontong kecil. Dari google saya mendapatkan info kalau Sapa adalah daerah dingin, salju bisa muncul di akhir tahun dan suhu udara terkadang drop hingga beberapa derajat celcius saja , makanya sedikit kaget karena saya belum merasa kedinginan, mungkin karena hari sebelumnya belum sempat mandi, atau dari tadi saya masih berdiri di pinggir jalan mencoba mengenali kota ini dengan adrenalin yang sa
ngat tinggi.

Beberapa wanita Black H’mong menyapa saya dengan bahasa ibu mereka, yah…ini kejadian jamak, hampir semua orang yang saya temui di Vietnam menyangka saya adalah orang Vietnam. Saya hanya menggeleng dan tersenyum, sampai akhirnya mereka berbahasa Inggris ke saya disertai bisik-bisik dan terkikik-kikik, entahlah apa yang mereka gosipkan. Beberapa pria setempat menawarkan brosure hotel, tarif mulai USD 8 – USD 50, cukup variatif dan kita bisa melihat kamar yang kita inginkan lalu di sesuaikan dengan kantong. Saya yang sejak beberapa bulan sudah menyukai Cat Cat Hotel meminta kepada driver untuk menunjukkan hotel tersebut. Kami berjalan menuruni jalanan yang sedang diperbaiki, sekitar 20 meter dari tempat pemberhentian bus, terlihatlah Cat Cat Hotel dan Cat Cat View. Saya akhirnya memilih Cat Cat View dengan harga USD 20 dengan pemandangan gunung Fanxipan dan kota Sapa di sebelah kirinya plus pemandangan jemuran tepatnya J. Kamarnya bagus, bersih, wifi didalam ruangan, kamar mandi sangat bersih dan luas , kalau di Indonesia kamar ini pasti dihargai Rp 400.000.

Setelah mandi dan beres-beres, sekitar pukul 08.00 siang, kota Sapa masih diselimuti kabut tebal, kami berjalan menuju pusat kota. Beberapa wanita Black H’mong, oya, mereka gampang sekali dikenalin, dengan pakaian traditional H;mong berwarna hitam , tutup kepala hitam, dan hiasan rambut berupa sisir kecil di bagian depan kepala, mengikuti saya dan Lucky. Hampir mirip pedagang-pedagang di Kuta, kalau tidak ingin diganggu, cukup katakan “ No thanks “, nanti mereka akan berlalu, dan digantikan yang lain, jadi memang cukup melelahkan diikuti oleh mereka kecuali kita bisa bersikap sangat santai dan berjalan lurus tanpa melihat kiri kanan.

Pilihan kami jatuh ke sebuah restoran kecil bernama Gecko Petite, persis seperti namanya, resto ini sangat mungil, berwarna kecoklatan. 2 buah meja dengan 2 kursi kayu persis di depan resto, di dalam resto ada 2 sofa dan 2 buah meja kecil beserta kursi-kursi kayu. Sebuah computer di sudut resto persis disebelah kulkas yang isinya penuh dengan beer dan minuman ringan, lagu-lagu Prancis berkumandang sayup-sayup dari computer yang dipasangi loud speaker di sudut plafon. Dinding yang di cat berwarna kuning kunyit di penuhi oleh foto-foto dan lukisan kota Sapa, secara keseluruhan tempat ini menyenangkan dan hangat. Jika berkunjung ke Vietnam jangan lewatkan untuk mencoba yogurt dan kopinya, sangat enak !!!. pagi itu saya sarapan nasi goreng dengan fat chilli dan Lucky sarapan daging dan bagguet khas prancis.


Sapa bukan kota besar. Hanya ada satu danau, satu pasar, dan satu alun-alun di tengah kota. Dengan berjalan kakipun kita bisa mengelilingi kota ini. Setelah sarapan kami memutuskan untuk trekking mengikuti seorang wanita Black H’mong bernama Tsu pulang ke rumahnya di bukit-bukit di daerah Lao Chai. Lao Chai sekitar 15 KM dari kota Sapa kearah lembah. Kenapa kita mengikuti Tsu dan bukannya mengambil paket trekking ?. Seorang temen saya menyarankan untuk trekking mengikuti orang-orang suku minoritas pulang, karena selain lebih murah mereka juga sangat membantu, kalau kita mereka sangat membantu dan baik hati, kita bisa memberi mereka duit atau berbelanja barang-barang yang mereka dagangkan. Ini juga yang di tawarkan Tsu, bahkan dia memberikan bonus makan siang di rumahnya.

Jalur trekking awalnya tidak terlalu susah. Kami hanya mengikuti jalanan beraspal berukuran 4 meter menuruni lembah. Ada beberapa jalur trekking yang popular di Sapa, salah satunya adalah yang sedang saya coba ini. Lainnya ada ke Cat-Cat village atau ke desa-desa lainnya yang tersebar di daerah pegunungan Fanxipan. Sebenarnya waktu yang paling tepat datang ke Sapa adalah pada saat akhir minggu, karena di akhir minggu semua suku minoritas berkumpul di Sunday Market, dengan pakaian warna warni dan aksesoris beraneka ragam. Sangking ramenya pasar ini sampai anak-anak muda ramai-ramai berkumpul untuk menemukan jodoh, istilahnya Lovely Market .

Perlahan-lahan kabut yang menyelimuti Sapa menghilang dan digantikan sinar mentari yang bersinar sangat terang, sementara begitu memasuki desa Lao Chai, jalanan mulai tidak beraspal, melainkan jalan berbatu , dan tidak ada pepohonan di kiri kanan karena sudah memasuki areal persawahan dan pemukiman penduduk. Sesekali kami menemukan aliran sungai membelah jalanan. Sawah-sawah terasering membuai mata. Tsu sepertinya mengerti kalau sinar mentari cukup menggangu saya, sehingga seringkali kami berhenti utk beristirahat di warung-warung kecil atau di rumah temannya. Terkadang dia malahan muncul dengan membawakan kami buah pisang dan leci.

Tsu senang sekali menerangkan banyak hal yang kami lihat. Pohon pisang , ayam sampai batang bamboo yang dia jadikan pipa rokok berukuran besar. Sebenarnya saya tidak begitu asing dengan benda-benda atau pepohonan yang kami temui di jalan, karena sebagian besar ada juga di Indonesia. Saya cuman heran bagaimana mereka tetap bisa bekerja dengan nyaman di tengah sawah siang hari bolong menggunakan baju traditional yang bahannya sangat tebal ( seperti ulos dari daerah Batak ) dan berat itu.

Rumah Tsu jauh di atas bukit, kami melewati beberapa sungai dan jembatan yang bergoyang-goyang, melewati beberapa sekolahan, melewati dusun-dusun kecil yang orang-orangnya selalu menyapa Tsu dengan ramah. Saya beberapa kali berhenti karena kelelahan dan kepanasan, begitu jalanan berubah menjadi menanjak dan berlumpur. Yang paling menarik dari perjalanan trekking ini adalah orang-orang dari suku Black H’mong dan seluruh kegiatan hariannya.

Akhirnya perjalanan melelahkan ini berhasil juga. Saya tiba di rumah Tsu dengan terengah-engah, Keringat mengucur deras dan tenggorokan terasa seperti terbakar. Tsu menyediakan 2 cangkir kecil air putih yang sangat panas , ketika saya tanyakan “ Tsu, Kamu punya air putih dingin saja, saya tidak bisa minum air panas ini “. Dia sambil tersenyum menggeleng dan mulai sibuk bersiap-siap memasak makan siang kami di dapurnya yang kecil. Masyarakat H’mong sudah mendapatkan fasilitas listrik, dirumah Tsu saya melihat sebuah televise kecil dan dvd player. Selebihnya tidak ada lagi peralatan modern selain sebuah pesawat HP yang dimainkan anak-anak Tsu begitu ibunya pulang. Anak-anak kecil itu tersenyum malu-malu setiap kali saya ajak ngobrol, berbeda dengan Tsu yang lancar berbahasa Inggris, anak-anak kecil ini hanya bisa berbicara bahasa Vietnam atau bahasa H’mong. Mereka bersekolah di pagi hari dan bermain-main sepanjang hari di rumah atau di sebuah sungai kecil di dekat rumah Tsu. Seorang anak laki-lakinya bertugas menjaga kerbau-kerbaunya.


Rumah Tsu kecil dengan system sirkulasi yang tidak begitu baik menurut s
aya. Didalam rumah dia memasak makanan untuk babinya dengan menggunakan kayu api. Sebenarnya mereka menggunakan kayu api untuk kegiatan masak memasak. Sebuah dipan kecil dengan tumpukan kain-kain lembab dijadikan tempat tidur sebagian anak-anaknya. Lantai tanah padat ini terasa dingin ketika saya pijak dengan kaki telanjang dan bersih.

Saya makan siang dengan lahap, padahal menunya sederhana banget. Tofu yang di tumis dengan tomat, telur orak arik, nasi putih hangat dan air panas, yah….Tsu menambahkan air panas kedalam nasi untuk kuah makan siangnya, saya sih gak mau nyobain hehe. Ternyata cara makan dengan air panas sebagai kuah memang biasa di Sapa.

Setelah makan dan ngobrol-ngobrol dengan anak-anak Tsu, dilanjutkan dengan saya membeli anting-anting yang dijual Tsu, kami kembali ke kota Sapa dengan menggunakan sepeda motor. Perjalanan dengan sepeda motor berbeda dengan jalur trekking, kami hanya melewati jalanan beraspal sempit dengan sesekali genangan air yang berasal dari air terjun kecil di pinggir jalan.

Kembali ke hotel, beres-beres, kabut tidak lagi turun padahal langit mulai gelap. Langit gelap dihiasi ribuan bintang. Saya dan Lucky berjalan ke arah kota. Tujuan kami kali ini ke foot massage yang terletak di daerah Jalan Cau May. Ada beberapa foot massage disini. Setelah di pijat ala refleksi, saya dan Lucky memilih restoran Fansipan sebagai tempat kami makan malam. Restoran ini cukup rekomended karena makanannya cukup enak, tempatnya cozy, harganya tidak terlalu mahal dan pelayannya ramah.

Berjalan di kota Sapa pada saat malam hari ternyata cukup menyenangkan. Banyak orang jualan di trotoar. Macem-macem dari mulai buah-buahan sampai jual daging yang di panggang gitu kayak bbq. Sepertinya sih enak, ditambah sambil minum-minum rice wine yang baunya kayak petrol. Toko-toko tutup hingga pukul 21.00 malam, malah ada yang belum tutup, beberapa restaurant dan coffee shop juga masih menerima tamu. Turis-turis masih berlalu lalang, perempuan-perempuan suku minoritas masih saja gigih menunggu pembeli atau sekedar bergerombol di pinggir jalan.

Malam itu saya bermimpi tinggal berhari-hari dengan Tsu, berjalan setiap hari dari pasar ke rumahnya diatas bukit. Sungguh melelahkan, apalagi setelah besok paginya terbangun, rasanya kaki saya kaku dan tegang tidak bisa di gerakkan. Akibat malas olahraga, trekking 25 km aja sudah membuat semua organ tubuh saya protes keras.

Hari kedua di Sapa tidak banyak yang kami lakukan, selain berjalan-jalan di pasar, mencoba berbaur dengan penduduk Sapa, berbelanja dan makan siang di dalam pasar. Berjalan-jalan di pinggir danau ditengah kota, mencicipi banana pancage di Cat Cat Hotel, minum ice coffee dan mencoba yougurt dengan merk yang berbeda seperti yang biasa saya makan di HCMC, tetapi rasanya tetap enak .

Kami juga sempat menyewa sepeda motor seharga USD 3 seharian untuk mengulangi rute trekking kemarin. Saya bertemu dengan beberapa anak-anak kecil yang antusias di foto atau malu-malu tetapi tetap tersenyum ketika saya mengarahkan kamera kepada mereka. Mengobrol di warung pho di dalam pasar Sapa yang hangat dengan beberapa anak remaja suku Black H’mong yang anehnya memiliki ukuran sama. Ini juga yang jadi pertanyaan kami kenapa ukuran mereka bisa sama rata sesuai dengan umurnya.

Dan akan selalu ada saatnya berpisah. Tepat pukul 17.16 bis ke Lao Cai membawa kami pergi meninggalkan kota yang menyenangkan ini. Di perjalanan sesekali saya masih melihat perempuan-perempuan Black H’mong berjalan sendirian atau bergerombol kembali ke desanya. Akan selalu seperti itu……..seperti yang saya kenang saat menulis catatan ini.

Shit Happen In Sapa….

Hampir tidak ada tuh….menyenangkan semua, saya gak punya pengalaman buruk disini .

Best Thing In Sapa….

People…..i really love Sapa and H’mong. Mereka orang-orang yang menyenangkan, ramah, menarik, fotogenic dan cantik

( Travel notes / catatan perjalanan to Sapa Vietnam )

Advertisements

4 comments

  1. When I first saw this title Sapa, Vietnam | Nonikhairani on google I just whent and bookmark it. Whats up. Very nice website!! Man .. Excellent .. Amazing .. I will bookmark your site and take the feeds also…I’m happy to find so much useful info here within the article. Thanks for sharing..

  2. Beneran cantik kotanya ya Non? Penasaran…temen ngajakin kesana september tahun lalu, tapi trekking dengan bayi 4 bulan, huahuahua..belum siap!! Sekarang, mau napak tilas catatan perjalanan Noni di Medan,Samosir, dan Toba dulu…can’t wait!

  3. Ini yang aku belom kesampaian, pengen ke Sapa. Aku setuju banget baju mereka modis-modis, klo bisa pengen beli bajunya pas ke sana :). Baru tahu nih Mbank Noni dah nge-blog dari lama yahh hehe, dah traveling ke daerah eksotik yang keren kayak ketemu suku H’mong ini dan bisa dapet guidenya Tsu. Btw mba, tadi pagi tuh aku lagi baca psotingan Sapa terbaru dari Mba yang terbit pagi ini, kok sekarang link nya Page Not Found, aku sampe check 2 kali dari PC dan android, hehe gambarnya bagus tapi dah ada di emailku lengkap gambar dan ceritanya, mau komen jadi komen di posting yang ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s