Pagi-Pagi di Danau Fateh Sagar


Fateh Sagar Lake

Pagi-pagi setelah bertemu Naru di ujung gang, kami semua tertawa terbahak-bahak melihatnya dengan mata terbeliak menatap ke tangan kami berempat. Kemaren sore kami bertemu dengannya dengan tangan polos tanpa henna. Pagi itu tangan kami berempat penuh dengan henna yang warnanya tidak keluar haha. Dia bilang “waduh kalian ini gak sabar nunggu sampai saya bawa ke tukang langganan”

Selanjutnya kami berempat meminta Naru untuk membawa kami ke abang pinggir jalan yang jualan chai tea. Harus bersih dan gak bikin sakit perut. Saya sebelumnya sudah diare soalnya. Ternyata tempat yang Naru bilang bersih itu persis di pinggir danau Fateh Sagar. Ini salah satu danau kebanggaan warga Udaipur.

Fateh Sagar Lake (WC di pinggir danau)
Fateh Sagar Lake
Fateh Sagar Lake
Fateh Sagar Lake

Danau ini lumayan sepi di pagi hari. Katanya bakalan mulai rame menjelang siang. Tempatnya boleh dibilang cukup bagus. Kami berjalan kaki ke arah taman yang ternyata memiliki alat-alat fitness ala kadarnya. Sebagian warga lokal terlihat berolahraga di sini. Wanita di India (Udaipur) ternyata kalau berolahraga tetap menggunakan saree. Sementara si abang chai tea berjualan di ujung pintu masuk taman. Beberapa orang terlihat nongkrong disekitar gerobaknya sambil ngobrol dan makan samosa. Kami pun segera ikutan memesan samosa yang ternyata enak banget. Berakhir dengan memesan 8 biji haha.

Fateh Sagar Lake

Danau ini sebenarnya pemandangannya gak sampai gimana-gimana tapi saya suka suasananya. Pagi-pagi sepi terlihat beberapa orang hilir mudik, beberapa anak sekolah yang mungkin bolos dan mengajak kami berfoto bersama (lihat foto di atas), lalu ada ibu-ibu mandi, sebagian terlihat berolahraga atau sekedar nongkrong sambil ngobrol. Gak seperti India yang saya bayangkan sesungguhnya.

Fateh Sagar Lake
Fateh Sagar Lake
Fateh Sagar Lake
Fateh Sagar Lake
Fateh Sagar Lake
Fateh Sagar Lake
Fateh Sagar Lake
Fateh Sagar Lake
Fateh Sagar Lake
Fateh Sagar Lake

Kembali ke cerita chai tea. Chair atau teh adalah minuman paling populer di India. Setiap tahun konsumsi teh di India mencapai 837.000 ton. Para penjual chai, yang disebut chai wallah, memadati pinggir-pinggir jalan. Chai dibuat dengan mengkombinasikan teh, susu, gula dan rempah-rempah. Segitu populernya chai tea sampai-sampai dimanapun kita berada gak bakalan susah mendapatkan ini. Katanya saat paling pas minum chai tea sewaktu naik kereta api di India haha.

Sebelum berangkat ke India, saya sempet nonton di YT seorang gadis dari US yang berkunjung ke Taj Mahal diajak ke sebuah kedai chai tea. Chai tea disajikan di cangkir tanah liat berwarna terakota. Setelah minum guidenya meminta si gadis melemparkan cangkir itu untuk menolak bala. Entah bener atau tidak, kami pun ikut-ikutan melakukannya haha.

Jadi ceritanya nih Beberapa dekade lalu, chai disajikan di dalam cerek tanah liat atau kulhar dalam bahasa Hindi. Meskipun cerek masih populer di Calcutta, cangkir plastik, gelas kecil dan gelas baja kini banyak digunakan di berbagai daerah di India. Sekarang sih, kebanyakan penjual menyajikan chai tea dalam gelas plastik. Kalau mau pakai tanah liat harus bayar sedikit lebih mahal.

Fateh Sagar Lake
Fateh Sagar Lake
Fateh Sagar Lake
Fateh Sagar Lake
Fateh Sagar Lake
Fateh Sagar Lake
Fateh Sagar Lake
Fateh Sagar Lake
Fateh Sagar Lake
Fateh Sagar Lake
Fateh Sagar Lake
Fateh Sagar Lake
Fateh Sagar Lake
Fateh Sagar Lake
Fateh Sagar Lake

Lalu bagaimana rasa chai tea dan samosa yang kita pesan? sebenarnya ini terakhir kali saya jajan di pinggir jalan karena takut sakit perut. Untuk saya pribadi pengalaman minum chai tea dan samosa di pinggir jalan ini tentu saja seru banget dan yang terpenting sebenarnya walaupun kaki lima, tempatnya sendiri bersih koq. Moga-moga aja si abangnya pas pipis di toilet pinggir jalan itu gak lupa cuci tangan haha.

 

Advertisements

10 comments

  1. Chai itu memang populer banget ya Non, saking terkenalnya di sini juga lumayan banyak cafe yang nyedian chai, bahkan termasuk cafe di kantorku, hahaha 😛

  2. Mbak, samosa di sana isinya apa? Aku nyobain samosa di resto Arab di Jogja, isinya ada dagingnya. Di kedai mie di sini ada juga yg jual samosa tapi isinya kentang. Hehe.. Tp aku suka dua-duanya. Btw aku dikasih hadiah chai sama mahasiswaku, kelupaan blm dicobain. Jd inget habis baca ini. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s