Apem Sungkit Untuk Hari Berduka


Bukit Lawang

Perjalanan itu mau dekat ataupun jauh akan selalu memberikan cerita. Seperti setiap kali saya ke Bukit Lawang untuk mengunjungi Ecolodge. Selalu ada cerita menarik walaupun mungkin terlalu sederhana. Bisa jadi untuk sebagian orang tidak terlalu membuat penasaran, atau terlalu biasa tapi untuk saya sesederhana apapun itu setiap perjalanan harus dinikmati.

2 minggu lalu saya nyetir sendiri ke Bukit Lawang. Biasanya kalau lagi kerja saya males bawa mobil sendirian ke Bukit Lawang (BL) karena akses jalanan ke BL itu ampun, deh. Pulang-pulang mobil bisa masuk bengkel. Kalaupun disetirin sering kali saya ketiduran atau hanya liat-liat taneman yang ketutup debu jalanan. Emang ke Bukit Lawang itu hanya untuk orang-orang (baca wisatawan) yang suka adrenalin bukan kenyamanan.

Sore hari dalam perjalanan pulang ke Medan, keluar dari Ecolodge saya lihat beberapa ibu-ibu dan remaja putri masak di luar rumah. Rame-rame. Iseng berhenti dan tanya ke salah satu bapak yang kebetulan lagi duduk di motornya persis di depan rumah. Ternyata ada peringatan hari ke-3 upacara meninggal. Di Sumatera Utara (Medan juga) jika ada orang meninggal maka akan diperingati sampai hari ke-7. Biasanya akan ada makan-makan sederhana ketika malam tahlilan. Dulu waktu saya kecil paling menanti-nantikan nasi berkat dari acara ini.

Jadi semua ibu dan remaja puteri yang lagi berkumpul di bawah pohon menghadapi wajan besi hitam itu sedang membuat apem sungkit. Saya baru kali ini dengar tentang apem sungkit. 40 tahun tinggal di Medan haha. Apem sungkit ini dimasak khusus dihari ke 3 peringatan meninggal. Mirip dengan acara tahlilan di Medan tapi khusus untuk masyarakat Melayu mereka akan memasak apem sungkit untuk para tamu yang datang sebagai ucapan terima kasih karena sudah membantu melewati masa berduka. Semua dilakukan secara bergotong royong. Inilah Indonesia seperti dalam buku SD saya zaman dulu.

Bukit Lawang
Bukit Lawang

Acaranya sebenarnya sederhana aja sih, tapi sudah jarang atau gak pernah kelihatan lagi di kota. Saya sendiripun baru tahu. Di desa memang semua jauh lebih sederhana padahal dekat sekali dengan pusat wisata. Nongkrong lebih lama lagi saya sudah pasti nyicipi si apem sungkit itu tapi karena takut kemalaman nyetir sendirian di dalam hutan, saya putuskan langsung cabut pulang.

Mungkin lain kali ya 🙂

Advertisements

5 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s