Derawan Trip
Jam 13.00 taxi blue bird meluncur ke arah bandara Juanda. Pesawat saya ke Berau akan take off jam 15.00, di Bandara bertemu Ellen dan langsung check in, trus ke Starbucks beli kopi dan keluar lagi ke bawah ke AW, karena Ellen belum makan siang. AW juga jadi meeting point dengan Dini, Farah dan Ledy. Lagi-lagi Ledy telat, duhhhh penyakit ini kapan bisa sembuhnya ya hehehe.
Pesawat Sriwijaya yang membawa kami ke Berau ternyata transit sekitar 20 menit di Balikpapan. Lumayan bisa ngelilingi bandara Sepinggan yang tidak terlalu besar tapi ada counter Starbucks cukup besar di dalamnya. Dari Balikpapan ke Berau penerbangan sekitar 45 menit. Dari Berau nantinya kami akan naik mobil ke Tanjung Batu. Supir mobil sedikit terlambat menjemput, dan fyi air di Berau tidak terlalu bagus. Jadi jangan kaget kalau ke kamar mandi ngeliat kloset warnanya kuning karena emang airnya berwarna seperti itu.
Kita masih naik mobil sekitar 2 jam hingga sampai di Derawan. Supir mobil kami cukup handal, biarpun gelap gulita dan hampir tengah malam dia menyetir cukup enak dan setibanya di Tj. Batu speedboat masih belum bisa jalan karena air masih surut. Sehingga kami masih menunggu sekitar 1 jam dan menunggu sambil tidur-tiduran dan ngecharge hp.
Langit gelap berhiaskan jutaan bintang ketika speed boat kami mulai meluncur cepat. Gelapnya lautan sesekali memberikan bonus ikan-ikan terbang dan cipratan air. Angin laut yang dingin menampar-nampar wajah kami, sambil merapatkan sweater tipis saya menengadah memandang langit sesekali menatap dini atau Ellen dan tertawa-tawa senang. Perjalanan ini dimulai kawan !!.
Karena tiba hampir jam 2 pagi, setiba di penginapan Sari Cottage yang bersih, saya hampir-hampir hanya bisa shalat sebentar dan mandi langsung tertidur. Panas menyergap didalam kamar yang terletak diatas lautan. Sewaktu mengingap di wisma apung Karimun Jawa saya hampir tidak pernah mengeluh kepanasan walau tanpa ac, tapi disini waduh beda sekali. Udara panas dan ac dikamar kami rusak. Btw….mungkin ini rekomendasi jelek untuk penginapan Sari Cottage Derawan yang hampir-hampir tidak menggubris complaint saya soal ac.
Hujan rintik membangunkan saya dari pagi yang riuh. Penginapan ini penuh sepertinya. Kebetulan kami datang long weekend. Dari kamar saya bisa mendengar puluhan kaki berjalan terburu-buru di atas dermaga kayu. Dari depan pintu saya melihat awan hitam, hujan rintik dan puluhan orang berlari ke arah dermaga kayu di ujung penginapan, rupanya berburu sunrise yang ketika itu rasanya mustahil didapat. Hanya sedikit semburat jingga di langit yang berselimut awan gelap.
Karena rombongan sebelum kami membatalkan seluruh pesanan sarapan pagi di penginapan, otomatis kami harus mencari di perkampungan sekitar, tidak sulit menemukan penjual/warung di kampung ini. Beberapa warung terlihat ramai. Musim liburan membuat warna di perkampungan kecil ini, denyut perekonomian sudah dimulai ketika mentari masih bersembunyi. Sarapan nasi kuning ditemani ikan tongkol sambal menjadi santapan pertama saya di Derawan. Rasanya lumayan enak dengan harga Rp 15.000, satu gelas teh manis hangat dihargai Rp 5000. Yeahhh cukup mahal jika dibandingkan dengan harga di pulau Jawa.
Setelah sarapan, kembali ke penginapan dan menyiapkan perlengkapan untuk island hoping, lelaki dengan kulit legam berperawakan kecil bernama pak Hendrik sudah menunggu. Karena kami ada 12 orang sehingga perlu menyewa speedboat 2 buah. Pak Hendrik akan menjadi kapten perjalanan untuk group saya. Suaranya yang berat sehingga seorang teman mengatakan suaranya sexy mirip suara ROD STEWARD. Entahlah….kalo menurut saya…suara dia lebih sering tenggelam oleh suara mesin speedboat dan ombak.
Hari ini kami akan island hoping ke 3 pulang dan 1 gosong di dekat Derawan. Pulau pertama yang dikunjungi adalah pulau Maratua. Kalo dilihat dari peta pulau ini yang paling jauh dari Derawan. Disinilah terletak beberapa resort mewah yang kabarnya dimiliki oleh warga asing. Pulau dengan luas 2.375.7 hektar ini didiami oleh 4 kampung suku Bajau.
Dari Derawan sekitar 1 jam lebih dengan speed boat. Tujuannya adalah pantai didekat resort. Pasir putih sehalus tepung dengan panas mentari dan air laut berwarna hijau Tosca hingga biru tua seperti memanggil-manggil untuk nyemplung. Sangking jernihnya air di Maratua saya sampai curiga kalo EVIAN berasal dari sana hahaha. Yeah…pulau ini cantik, dari pinggir pantai kita masih bisa melihat beberapa jenis ikan yang berenang-renang santai.
Daya tarik Utama pulau Maratua sebenarnya adalah dive site yang keren. Sampai saat ini ada sekitar 6 situs penyelaman di sekeliling pulau. Big fish country, Shark City, Seawall Garden, Dolphin Parade, Lobster Cafe dan Eagle ray run. Nahhhhhh karena kita bukan diver dan juga bukan anak-anak cantik yang jago berenang, sehingga main-mainnya di pinggir pantai aja sambil ngerusuh dan berulang kali pengen naik ke cafenya resort pesan juice watermelon or….ada seorang yang menyebut cold BEER PLEASE !!!.
Dan hosipnya hahaha kalau bisa diving kita bisa bertemu ratusan barracuda berukuran 1 m lebih, gray sharks, tuna bertaring besar, manta yng gede banget dan hutan terumbu karang yang bagus banget, nahhhhhhhh secara kita ini jagooooooo banget ya, kita ngeliatnya bleaching terumbu karang doang alias udah rusak ama ikan-ikan kecil yang suka hidup di aquarium aja, itupun udah senang sambil teriak-teriak. Gampang banget deh dibuat seneng.
KAKABAN
Puas main di Maratua, perjalanan selanjutkan ke KAKABAN. Ohhhhhh ini pulau yang menjadi favourite saya ternyata. Pulau yang berbentuk angka 9 kalau dilihat dari udara punya keistimewaan yang hanya dimiliki 2 tempat di dunia ini. Ada sebuah laguna dengan air berwarna hijau jernih yang dihuni oleh 4 spesies ubur-ubur. 4 spesies ubur-ubur yang sudah beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya sejak berabad-abad silam ini sudah kehilangan sengat/bisa . danau dengan luas 7774 hektar ini sudah menerima anugrah world natural heritage area dari UNESCO tahun 2004. Hanya ada 2 tempat di dunia yang memiliki laguna dengan isi cendol ubur-ubur ini yaitu di Palau dan Di Kakaban.
Untuk menuju Kakaban ini gak su
lit sih, yang sulit supir speed boatnya aja. Kita cuman ketawa-ketawa ehhhhh udah nyampe. Soalnya gak jauh dari Maratua. Setelah makan siang nasi kotak dari RM ibu april di derawan yang sambal tomatnya gilaaaaaa jek enak banget trus ngadem-ngadem di pinggir pantai yang disekelilingnya penuh dengan pepohonan rindang dan pohon kelapa. Di Kakaban ini tidak ada penduduk yang tinggal, jadi kalo gak musim liburan pasti sepi banget.
lit sih, yang sulit supir speed boatnya aja. Kita cuman ketawa-ketawa ehhhhh udah nyampe. Soalnya gak jauh dari Maratua. Setelah makan siang nasi kotak dari RM ibu april di derawan yang sambal tomatnya gilaaaaaa jek enak banget trus ngadem-ngadem di pinggir pantai yang disekelilingnya penuh dengan pepohonan rindang dan pohon kelapa. Di Kakaban ini tidak ada penduduk yang tinggal, jadi kalo gak musim liburan pasti sepi banget.
Setelah istirahat kita mulai mendaki anak tangga dari kayu. Mungkin sekitar 10-15 menit. Di sekitar anak tangga ada aja pengunjung bodoh yang mungkin mengira ada pembantu atau tukang sampah yang bisa ngangkutin sampah mereka. Sehingga yaaaaa sodara-sodara banyak banget bekas kotak makanan, stereoform, botol minuman dan bungkus plastic. Sedih banget sih ngeliat ini.
Laguna dengan air berwarna hijau hari itu ramai sekali. Pengunjung yang berenang dengan life jacket berwarna orange terlihat memenuhi laguna. Warna yang kontras dengan air yang tenang. Sekeliling laguna di tumbuhi pepohonan besar. Dermaga kayu dengan ujung berlumut yang licin sebagai starting point untuk masuk ke Laguna. Banyak juga pengunjung yang berteriak-teriak mencoba menangkapi ubur-ubur dan berfoto dengannya. Seorang lelaki berkulit legam yang saya curiga berasal dari IRIAN menjerit marah dan mengingatkan semuanya boleh berfoto tapi jangan mengangkat ubur-ubur dari air karena bisa menyebabkan kematian. Dipikir-pikir konyol juga ya, demi sebuah foto yang cuman di pamerkan di facebook, twitter atau socmed lainnya kita bisa loh ngebunuh binatang atau tumbuhan lainnya. mengaku sebagai pecinta alam tapi ngerusak alam tanpa disadari dengan brutal ( lohhh koq jadi esmosi ).
Semangkin ke tengah laguna maka terlihat semangkin banyak ubur-ubur dengan jumlah besar, saya yang berenang sambil berpegangan tangan dengan Dini sesekali mencoba memegang mereka dari dalam air ( jangan ditiru yaaa ) tapi sumpahhhhhh gemes banget hahaha. Soalnya mereka gendut-gendut dan empuk gitu dengan warna yang sungguh cantik. Orange dan bening transparent.
Setelah puas berenang dengan ubur-ubur, kami melanjutkan perjalanan ke Sanglaki.
Sanglaki
Pulau Sanglaki di kenal sebagai “ The world capital of Mantas “. Inilah spot terbaik untuk melihat puluhan ikan pari berenang dan melayang di dalam air. Beberapa teman yang beruntung melihat seekor pari berukuran besar berenang didekat mereka. Walaupun setelah itu mereka ketakutan setengah mati dan menjerit-jerit minta kembali ke kapal ( jangan ditiru juga hahaha ).
Pulau Sanglaki dulunya memiliki satu penginapan, tetapi sekarang penginapan tersebut ditutup dan hanya didiami oleh LSM yang mengurus konservasi tukik/penyu hijau. Di siang hari tentu pulau bisa dikunjunjungi dan kita bisa melihat anak penyu atau tukik. Kalau beruntung bisa juga membantu mereka melepaskan tukik ke laut, tapi karena kita sedikit tidak terlalu tertarik untuk melepas tukik, kami hanya berenang-renang di pinggir pantai. Airnya jernih sekali. Tertimpa sinar mentari membiaskan pendar-pendar seperti manic. Arusnya sedikit kencang, suddenly i can swim ( nganyut maksutnya ).
GOSONG
Gosong bukanlah karena hitam. Gosong ini adalah pulau yang terdiri dari pasir putih yang hanya muncul ketika air laut surut. Kami sempat singgah di salah satu gosong dekat Derawan. Waktu itu bentuk pulau hampir seperti bulan sabit. Pasirnya putih dan halus. Segera dong…..di tempat ini foto wajib yaitu foto melumpat-lumpat.
DERAWAN
Kalimantan selama ini lebih dikenal dengan orang hutan, hutan, budaya dayak atau satwa unik lainnya, tapi….kalau ingin bersembunyi dipulau kecil yang cantik Derawan yang sudah terkenal sampai ke manca Negara adalah tujuan paling pas.
Sebenarnya selain 4 pulau ini ada banyak pulau lainnya, sayang karena keterbatasan waktu dan uang kita tidak bisa island hoping ke semua pulau.
Dari 31 pulau dan satu atol, saya pikir Derawan paling ramai dan paling lengkap fasilitasnya. Mulai dari homestay seharga Rp 50 ribu sampai jutaan ada disini. warung nasi dari yang cuman jualan nasi kuning sampai soto jawa timur juga ada. Perkampungannya kecil dengan jalan tanah yang rapih. Bangunan rumahnya hampir mirip rumah-rumah di sumatera yaitu rumah panggung dari kayu. Anak-anak kecil berlarian dan menyapa ramah tamu yang datang. Sesekali mereka mendekati kita dan mencoba berkomunikasi. Sore itu sambil menunggu sunset di dermaga mereka bermain dan menjadi objek foto seorang teman.
Sayangnya kalau diperhatikan bener-bener nih, ada banyak sekali sampah di sekitar perumahan penduduk. Padahal dimana sampah tersangkut disanalah anak-anak kecil berlompatan terjun kedalam laut sambil tertawa-tawa riang memarkan keahliannya berenang.
Tidak terlalu banyak toko oleh-oleh disini, saya yang sempat putus sandal, sempat kelabakan mencari sandal jepit. Untunglah ada satu toko oleh-oleh dengan pilihan sandal yang sangat terbatas. Beberapa warung kecil menjual kina kering sebagai oleh-oleh, sebagian lain menjual penyu ( iyaaaaaa penyu asli ) sebagai oleh-oleh. Sedih banget !!!.
Sunset yang saya tunggu sore itu akhirnya muncul juga, tidak terlalu bagus karena terhalang awan besar, tapi…melihat mentari tenggalam ke dalam air laut yang biru tentu merupakan kemewahan untuk kaum urban yang biasa menghabiskan harinya di kantor.
Saya ju
ga menunggu penyu hijau yang katanya selalu datang ke Dermaga, tapi emang kurang beruntung, saya gak melihat satupun. Hosipnya lagi kepulauan Derawan ini merupakan supermarketnya turtle, di bulan-bulan tertentu malahan ada banyak sekali penyu dari belahan dunia lainnya berkumpul disini. Mungkin migrasi yaaaaaa…….
ga menunggu penyu hijau yang katanya selalu datang ke Dermaga, tapi emang kurang beruntung, saya gak melihat satupun. Hosipnya lagi kepulauan Derawan ini merupakan supermarketnya turtle, di bulan-bulan tertentu malahan ada banyak sekali penyu dari belahan dunia lainnya berkumpul disini. Mungkin migrasi yaaaaaa…….
Malam harinya kami berkeliling kampung yang kecil itu. Makan malam di warung bu April yang ikan bakar dan gorengnya enak sekali. Sambalnya tidak seenak yang dia berikan tadi siang, tapi tetap saja kami makan dengan lahap. Ikan segar yang diakuinya baru ditangkap sore tadi…..cukup membuat seorang teman menjilati jemarinya.
Info penting :
Akomodasi Derawan
Sari cottage Derawan : 081346538448
Akomodasi Maratua
Maratua Paradise Resort ( http://www.maratua.com)
Derawan Dive Resort ( telp 0542-7072615 atau http://www.divederawan.com )
Nabucco island resort ( telp 0542-420258 atau http://www.nabuccoisland.com )
Yayasan Bestari Maratua : email : ijoeh_banua70@yahoo.com & hany_fish97@yahoo.com atau telp ke no 081350812513 dengan pak Ryan
Sewa Speedboat dan mobil
Pak hendri untuk sewa boat 081346531978
Pak Eri untuk sewa Mobil 082159237775


[…] kesempatan lagi pastiiiiiii mau banget datang lagi kesini . untuk catatan perjalanannya bisa di klak klik disini ya ps : ihhhhhh sebenarnya udah pernah sih di posting di MP, tapi gara2 MP ditutup, […]