Buku di Weekend – Stalking Indonesia


www.margarita.web.id
http://www.margarita.web.id

Apa buku yang sedang kamu baca sekarang?

Saya sekarang lagi membaca Coming Out (masih belon kelar) tapi pengen cerita tentang satu buku yang baru saya beli minggu lalu. Judulnya Stalking Indonesia. Ini buku dibeli pas lagi ngobrol ama Febby trus dia komen “bukunya lucu juga” ya udah langsung aja saya beli. Thanks to Scoop ya karena sambil gosip di tempat tidur pun bisa belanja haha. Makanya sebaiknya semua buku ada versi ebook’nya deh supaya gampang dibeli.

Gimana bukunya setelah dibaca? bagus koq tapi bagusan #Menghirupdunia dong huhahaha. Becanda. Buku ini beda koq sama Menghirup Dunia. Stalking Indonesia itu buku yang menceritakan perjalanan si penulis tapi bukan detail-detail gimana ke tempat ini, berapa harga tiket pokoknya bukan seperti itu. Buku ini ngajak kita berpikir tentang tempat yang kita datangi. Ada hal-hal menarik yang bisa dilihat penulis trus dituangkan dibuku ini. Kadang-kadang cuman hal-hal kecil yang kita mungkin mikirnya gak menarik. Ehhh pas ditulis bagus juga. Margaretha…. kita buat buku bareng yuk *ditoyor haha*

Kenapa saya Β menilai buku ini menarik karena sayaΒ itu sebenarnya suka sekali melihat halaman-halaman buku yang ada gambarnya tapi bukan komik. Buku ini punya ilustrasi-ilustrasi lucu yang sederhana. Yang gambar itu bagus juga, pengen kenalan deh jadinya. Sama yah itu tadi penulisnya bikin kita jadi mikir kayak yang “ohh… iya ya, bener juga”

Dari seluruh cerita yang ada di buku ini saya paling suka tulisannya mengenai Reog. Masih inget gak kita ribut-ribut soal Reog yang mau diambil Malaysia tapi sebenarnya apakah kita semua pernah liat Reog? *untungnya saya pernah tinggal di Surabaya jadi pernah nonton beberapa kali di Balai Pemuda hehe* Nah penulis bilang kayak gini di bukunya

“Wajar-wajar aja kalau Reog akhirnya diakui Malaysia. Dunia mana yang sanggup mengingatnya sebagai milik Indonesia kaau cuma warga diatas gunung yang masih bisa terhibur dengan Reog?”

Oh ya… kalau saya gak salah ada dibulan-bulan tertentu daerah-daerah di Jawa Timur mengadakan festival Reog ini. Seingat saya berdekatan dengan Jember Fashion Carnival. Coba di cek lagi deh di kalender wisata Jatim. CMIIW ya. Lupa-lupa inget soalnya.

denuglu.blogdetik.com
denuglu.blogdetik.com

Ya udahlah, buat yang lagi bengong dan gak tau mau baca buku apa, kenapa gak dicoba ehhh tapi jangan lupa beli juga Menghirup Dunia πŸ™‚

Ps : ini bukan review buku hehe.

Advertisements

41 comments

  1. Semacam sindiran juga :hehe, bahwa kita cenderung menarik kesimpulan ikut-ikutan sebelum merasakan secara langsung ya Mbak :hehe. Baru tahu soal reog setelah ada ramai-ramai padahal sebelumnya kalau ada pentas reog di balai kota mungkin tidak pernah datang :huhu. Bagus nih buku, secara tidak langsung membuat kita aware dengan cara yang makjleb tapi memang harus demikian supaya sadar :haha. Cari ah di toko.

    • Bukunya bagus koq Gara, hanya sayang tipis haha. Emang sih terkadang kita ikut2an aja rame2 padahal tau aja enggak ya. kayak batik sebelum kayak sekarang cobalah siapa juga yang mau make. Sebagian kecil aja.

      • Iya Mbak, namanya kesadaran memang kadang masih kurang banget… makanya perlu terus diingatkan kali ya :hehe.

  2. Baca bukumu belom kelar2 nih Non :D. Sama baca buku One Fine Day in Leiden. Sebagai yang punya darah Ponorogo, aku sudah akrab dengan reog sejak kecil karena sering diajak ke pertunjukan Reog. Ada keluarga dari Bapak yang punya sanggarnya. Btw, thanks for sharing info bukunya. Kayaknya yang ini beli di Scoop aja. Ga ada yang akan ke Belanda dalam waktu dekat nampaknya :)))

    • GImana Den? suka gak hehe. Jangan lupa review yaaaa *kasih icon mata kedip2*

      Asik ya kayaknya Den tinggal didaerah2 sono itu apalagi Banyuwangi. Aku penasaran dengan tari2annya. Pernah nonton satu tarian pas pembukaan jazz gunung trus orangnya itu kayak yang kesurupan. Kita nonton dari jauh aja berasa aura mistisnya. Entah tarian apa.

  3. aduh mba, baca kata reog langsung pengen pulang saya heheheee. . di ponorogo sendiri setiap kelurahan/kecamatan ada paguyuban reognya. kalo pengen nonton pas rame2 biasanya 1minggu sebelum tahun baru hijriyah( 1suro) biasanya ada festival reog nasional. dan pas hari jadi ponorogo pada bulan agustus ada festival reog mini. dan setiap malam bulan purnama biasanya juga ada. ada pun untuk lokasi, semuanya di panggung utama alun2 ponorogo. dan ada juga di desa bantar angin yang masih berlokasi di ponorogo tapi bagian barat. di ponorogo sendiri masih banyak koq orang yang nanggap (manggil) reog pas ada hajatan misal khitanan, dan bersih desa. pas nikahan kadang juga ada. aduh, jadi panjang gini ya koment saya :-D.

    • Nah ini akhirnya ada yang confirm soal festival Reog haha. Mba soalnya inget2 lupa soal festivalnya karena beberapa kali mau nonton gak jadi tapi akhirnya nonton di balai Pemuda Sby karena selalu ada tiap minggu dulunya.

      Makasih ya Ri, infonya, siapa tau ada yang butuh πŸ™‚

  4. Mikir yang menohok itu mbak. Memang sih yang dilihat (ini dari kacamata minus 4 jelang 5 saya ya), kalau dah diklaim ma yang lain, baru deh marah-marah terus makin ramai. Kayak Batik kan gitu, setelah kejadian baru deh pada bangga pakai batik, sebelumnya kan dah banyak batik, tapi dicuekin. Sedih.

  5. aku kemaren pas ke gramed kelupaan beli bukumu Non hueheh..padahal dah aku catet. tadi pagi baru aja nyelesein bukunya Critical leven. sekarang lanjut sama buku sapardi Djoko yang hujan bulan juni (novelnya)

    nah …kita itu baru berkoar2 kalau udah diclaim sama negara tetangga. sedangkan kita aja suka cuek sama kebudayaan sendiri.moso mesti harus diakuin org lain dulu baru kita jadi “melek” sama apa yang bangsa kita punya ya Non…

  6. aku lagi baca EMMA mba, tapi blom kelar2 juga, lagi ga mood… πŸ˜€

    terakhir liat reog udah bertahun2 yg lalu waktu masih di SD apa SMP ya.. next time kalo ke gramed coba liat buku ini deh.. πŸ™‚

  7. Di sini juga penulis mengungkapkan kesedihan – kalau tidak mau dibilang nyinyiran saat kunjungannya ke Cubadak dan Sikuai yang dikelola oleh Indonesia, sehingga tidak terawat dengan baik seperti resor resor yang dimiliki asing. Ada juga cerita tentang sensasi penulis makan mie gorengan yang diberikan kuah di daerah Lajukang, Makassar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s