
Menjelang Lebaran kayak sekarang ini selain kita rame-rame ngomongin puasa, shalat tarawih, kue-kue kering, tentu gak lepas adalah jadwal mudik π tahun ini pertama kalinya saya tidak browsing tiket pulang ke Medan setelah 7 tahun di tanah seberang. Sungguh aneh rasanya.
Kemaren saya nonton tv dan lagi-lagi jalur pantura masih dalam perbaikan. Rasanya tiap tahun masalah selalu sama ya, jalur ini tetap bermasalah. Padahal tiap hari jalanannya dipakai dan setiap tahun pasti ribuan pemudik menggunakan jalan ini, koq yah gak beres-beres sih pemerintah ini benerin jalannya π¦
Adek saya juga mulai cari tiket untuk pulang ke rumah mertuanya. Ah…..saya jadi ingat masa-masa mudik dulu. Masa-masa berjuang dapetin tiket untuk pulang. Kadang-kadang 6 bulan sebelum lebaran, saya bahkan sudah megang tiket pulang hehehe. Ahh……Air Asia, i love u so much deh π
Pulang…..kata ini lebih menuju kepada rumah ya kan? π pulang = Β rumah. Pulang ke tempat kita merasakan hangatnya keluarga dan kenangan-kenangan manis/jelek didalamnya. Saya ingat ibu saya selalu ngomong ke ayah ketika saya tidak pulang ke Medan sesering tahun-tahun pertama saya pindah ke Surabaya. Dia bilang ” burung aja kalo capek terbang nyariin rumahnya, apalagi anak manusia. Nanti kalau dia udah puas kesana sini pasti dia bakalan balik ke rumah koq, jadi biarin aja dia pergi-pergi”
Tahun pertama saya pindah ke Surabaya adalah tahun-tahun penuh air mata. Gimana gak nangis, tiap saya telp ibu pasti dia bercucuran air mata. Kalau dia telp, suaranya akan tercekat-cekat karena sesungguan. Rasanya tahun-tahun itu saya cuman bikin dia sedih karena rindu. Itu kenapa 2 tahun pertama di Surabaya, hampir 2 bulan sekali saya pulang ke Medan hahaha.
Rumah untuk saya dulu ada tempat kedua orang tua saya tinggal. Rumah yang saya tempati sejak SMP. Sehingga setiap kali saya pulang, kesinilah tujuan saya. Yang saya lakukan ketika pulang dari Surabaya dulu ternyata tidak semata-mata merindukan tempat saya besar ini. Hari-hari saya lebih banyak dihabiskan dengan pergi dengan teman, ketemu mantan pacar, sempat punya pacar baru, traveling ke tempat baru dan menjadikan Medan hanya tempat transit atau pulang 2-3 hari dan lebih sering saya pergunakan untuk wisata kuliner ke tempat-tempat makan yang saya suka dulu.
Setelah beberapa tahun di Surabaya, saya hanya pulang 1-2 kali setiap tahun ke Medan. Saya mulai jarang merindukan rumah lagi ( saya hanya rindu orangtua tapi tidak rumah ), saya mulai lupa dimana ibu saya meletakkan sendok, piring, pisau atau handuk. Saya mulai asing dengan rumah saya itu. Setiap kali saya di rumah, saya malah seperti orang asing yang berkunjung. Saya tetap pulang ke rumah tapi……saya hanya merindukan kedua sosok yang membesarkan saya, bukan rumah saya yang beratap biru lagi yang saya rindukan ketika itu.
Lalu ada beberapa kali lebaran yang saya harus absent pulang karena pembagian cuti dengan teman kantor. Ada yang harus membuat saya pulang ke Medan setelah 3 hari lebaran, ada yang seminggu setelah lebaran bahkan 2 minggu setelah lebaran. Apakah saya nangis tersedu-sedu ketika berlebaran sendirian? hmmmm seingat saya, saya hanya rindu tidak mencium tangan kedua orang tua, pergi shalat id bersama dan tentu bermaaf-maafkan minus nangis ( kami tidak pernah nangis-nangis ketika acara maaf-maafan hehe, ayah saya gak suka) jadi gak ada tuh acara sedih melow karena gak pulang hahaha. BIasanya saya pergi ke Bali kalau memang gak bisa pulang ke Medan. Di Bali beberapa hari, lalu kembali masuk kantor dan cus…..ke Medan begitu jatah cuti bisa diambil. Ibu dan ayah saya sudah berhenti protes karena itu.
Lagian pada saat itu saya merasa pulang bukan seperti pulang ke rumah tapi pulang hanya untuk mengunjungi kenangan-kenangan yang saya suka. Pulang tidak lagi berarti rumah untuk saya, tetapi untuk mengunjungi kenangan yang saya punya di rumah itu π
Perlahan tapi pasti, saya tidak begitu menggagap rumah di Medan sebagai ” rumah ” saya lagi. Saya saat itu sudah menemukan ” rumah ” saya yang baru. Rumah di Surabaya. Rumah yang saya tinggalin kurang lebih 3 tahun. Rumah dimana dinding kamar saya berwarna cream dengan garis wall paper berbunga pink ( yeay ), dengan lemari jati tua 2 pintu, meja belajar tua bekas mas Aldi, sebuah lukisan kain bertuliskan kaligrafi Arab, lantai keramik tua yang ketika musim hujan bisa merembes air dari sela-selanya dan tempat tidur besar yang 3 kali ambrol karena ditidurin 4 orang teman baik saya π
Rumah saya di Surabaya yang tua dan disana sini mulai keliatan lelah dimakan usia. Di halaman depan rumah masih ada pohon mangga dan jeruk purut yang setiap pagi saya punguti buah-buahnya sambil dicucuk pisau agar wanginya menyebar keruangan kamar. Saya cinta rumah itu, sebesar cinta saya untuk semua furniture tua jati di semua ruangan, kendi-kendi tua menyeramkan berikut cerita mistisnya, dapur tua yang keren berwarna hijau bahkan ac kamar Fins yang berbunyi seperti macan menggeram plus halaman belakang rumah tempat saya ngobrol dengan mba Ida dan FIns ketika makan malam.
Disanalah ” rumah ” saya selama 3 tahun di Surabaya. Saya menghabiskan kebanyakan hari-hari di kamarnya yang super dingin setelah pulang kantor, menerima tamu dan teman, menunggu pacar menjemput ke bioskop atau mall, menantikan paket yang dikirim orang tua, menerima pemeriksaan mendadak dari orang tua angkat saya di Surabaya dan saya bahkan menangisinya dengan tersedu-sedu ketika meninggalkan Surabaya pada bulan Februari lalu.
Saya menangisi kenangan-kenangan saya di ” rumah ” itu. Ketawa dan cerita-cerita di rumah tersebut, mendiang ibu kos yang menggagap saya dan mba Ida anaknya sendiri, suara suster yang cempreng sampai ketika situasi rumah hanya kami berdua dengan bapak tua penjaga kos.
Lalu saya ” pulang ” ke Medan. Semua orang bilang saya akan senang pulang ke rumah orang tua saya lagi. Orang tua saya pindah dari rumah beratap biru ke rumah beratap coklat di Medan. Mereka menempati rumah baru di pinggir jalan besar yang super sibuk dan berisik. Adik saya menempati rumah lama kami. Rumah ini sungguh asing untuk saya. Saya tidak tahu dimana ibu meletakkan sajadah untuk shalat, dimana semua barang-barang saya, semua buku, sepatu dan baju hancur karena dia males ngurusin mereka ( yaiyahlah….anak durhaka haha )
Saya 2 bulan tinggal di rumah itu. Saya senang bersama mereka. Siapa yang tidak senang kumpul dengan keluarga lagi. Tetapi anehnya Saya masih belum bisa mengatakan rumah itu adalah rumah saya. Setiap orang tanya, pasti saya bilang kalau saya tinggal di rumah orang tua, beda banget ketika saya menyebut rumah di Surabaya. Saya tidak pernah merasa ” pulang ” ke sana.
Sampai akhirnya saya menikah dan pindah rumah dengan Matt. Saya tidak suka rumah saya ini karena panas dan sepi sampai membuat saya ketakutan. Saya benci harga sewanya yang mahal tapi……………….ada satu sosok yang selalu saya rindu setiap hari. Ada satu orang yang dengannya saya selalu merasa ” pulang ” sehingga rumah ini pun terlihat sangat normal sekarang untuk saya.
Sekarang…..mungkin saya tidak mencari tiket untuk mudik lagi, tidak ribut-ribut lagi mempermasalahkan siapa yang akan merawat mobil ketika saya pergi ke Medan, tidak ketakutan dengan jadwal cuti atau libur lebaran yang suka gak jelas. Yah saya rindu masa-masa itu tapi………………………sekarang saya sudah menemukan rumah saya yang sebenar-benarnya. Rumah dimana saya bisa merasakan semua yang saya ingin rasakan. Mengerikan sekaligus menyenangkan ketika saya tahu rumah itu tidak berbentuk batu tapi manusia.
Pertama kali dalam hidup ini saya merasakan ada satu orang dimana saya selalu mau ” pulang ” untuk bersamanya dan menyebut dimanapun kami tinggal sebagai ” rumah “.
βFor the two of us, home isn’t a place. It is a person. And we are finally home.β
βΒ Stephanie Perkins,Β Anna and the French Kiss
Oya…sekedar catatan untuk Matt, walau sekarang dialah ” rumah ” saya tapi……aku sungguh gak keberatan kalau kita sampai bisa punya rumah seperti dibawah ini hehe.



Ps : Senangnya ketika mengetahui, saya akan tetap punya jadwal mudik ke US π * yahh..kalo ada duit tentunya * plus untuk membuat suasana lebih dramatis mari kita dengerin si mas ganteng ini πΒ MICHAEL BUBLE HOME
Akku selalu pulang tiap lebaran karena selalu kangen dengan nyokap bokap, rumah, keponakan dan sodara dan kamar. Meskipun di kamar kita tidur numpuk bertiga satu tempat tidur, hehe..
hahah tidur rame2 kalo sesekali nyenengin yaaa
Bangeeetttt…. Rebutan posisi paling pinggir… Kesel-keselan karena aku ngga bisa kalo tidur dengan sprei yang kusut walau dikit aja… sementara sodara2 pada okeeh ajaa… seruuu deh pokoknya..
Postingannya mellow, tapi mengharukan π
kasih tissueee hahaha
Noni….aku sukaaaaa…..
aku dulu juga gak merasa di rumah. Aku pulang cuma kangen sama Ibu, bukan rumahnya. Jadi meskipun rumah itu besar dengan luas tanah yang cukup buat Inot lari-lari, aku juga gak pengen tinggal disitu…… rumahku sama 2 cowok manis itu…. π
nah itu dia π kita rindu dengna orangnya ya, jadi berasa ada beda kan ya kalo buat anak2 perantauan ini hehehe
alhamdullilah yaa Lu, kamu udah nemuin rumah yang asik plus 2 cowok manis heeheh
Kalau tinggal di Indo, mmg asyik py rmh sprt rmh2 impian NoNi secara bisa hire org2 utk bersih2. Seperti rmh br anang ktnya hire 10 org pembantu waaksss Yah kalau di sini? bisa2 gempor py rumah seluas itu.. Lagian kalau py mansion mmg lepelnya yah sdh bs hire pekerja ya..kek artis2 holiwud. Kalau aku mah yg penting nyaman aja lah mau kecil dan gede. Home sweet home tetap number uno. Tapi sampe skrg aku merasa rumahku adalah di Indo loh hehehe aneh ya?
Noni, Home is where the heart is! Pos yang bagus untuk renungan bagi orang di perantauan.
ahhh… aku rindu pulang. dulu. pulang ke rumah nenekku. pas mamaku masih hidup.. sejak dia nggak ada. aku nggak mau mudik lg. dan rasanya bukan seperti rumah. bukan tempat yg nyaman lg tanpa dia,,:(
ohh HUG Selly π
Country housenya bagus deh mbak π sederhana tapi anggun π *mimpisuatuharinisapunyarumahbegitu btw, aku suka ungkapan “pulang hanya untuk mengunjungi kenangan-kenangan yang saya suka” π sadar, kalau tujuanku mudik juga adalah itu π
Tapi jujur aja aku tetap merasa heran, kenapa bisa asing di rumah orangtua sendiri? Iya sih orangtua udah pindah ke rumah baru, tapi kan masih rumah orangtua… *pertanyaaan dudul yaaa
Nah kan.. Makin galau deh pen pulang tar pas lebaran.. Hikss..
walah jgn galau dong
jangan lupa oleh olehnya kalo mudik ke US yah mbak π
doain yaaa semoga ada rejeki
Hi mbak noni
Udh lama jd silent reader akhirnya bisa comment. π
Aku baru nyoba tinggal pisah dari rmh ortu 2 mingguan ini, walaupun msh suka nginep d rmh ortu tp ttp yah sekarang ngerasa punya rumah sendiri, yg dkangenin yah rumah sendiri buka rmh ortu lagi π
Dan seumur2 ga pernah mudik jauh2 kalau lebaran semua sodara kumpul di satu kota aja jd kita yg ga pernah kemana2
hallo Resna :0 salam kenal yaaaa……
punya rumah sendiri apalagi kalo udah menikah emang lebih seru dan asik ya :0 kita bebas mau ngapa2in soanya hihi