
Menjelang Lebaran kayak sekarang ini selain kita rame-rame ngomongin puasa, shalat tarawih, kue-kue kering, tentu gak lepas adalah jadwal mudik 🙂 tahun ini pertama kalinya saya tidak browsing tiket pulang ke Medan setelah 7 tahun di tanah seberang. Sungguh aneh rasanya.
Kemaren saya nonton tv dan lagi-lagi jalur pantura masih dalam perbaikan. Rasanya tiap tahun masalah selalu sama ya, jalur ini tetap bermasalah. Padahal tiap hari jalanannya dipakai dan setiap tahun pasti ribuan pemudik menggunakan jalan ini, koq yah gak beres-beres sih pemerintah ini benerin jalannya 😦
Adek saya juga mulai cari tiket untuk pulang ke rumah mertuanya. Ah…..saya jadi ingat masa-masa mudik dulu. Masa-masa berjuang dapetin tiket untuk pulang. Kadang-kadang 6 bulan sebelum lebaran, saya bahkan sudah megang tiket pulang hehehe. Ahh……Air Asia, i love u so much deh 🙂
Pulang…..kata ini lebih menuju kepada rumah ya kan? 🙂 pulang = rumah. Pulang ke tempat kita merasakan hangatnya keluarga dan kenangan-kenangan manis/jelek didalamnya. Saya ingat ibu saya selalu ngomong ke ayah ketika saya tidak pulang ke Medan sesering tahun-tahun pertama saya pindah ke Surabaya. Dia bilang ” burung aja kalo capek terbang nyariin rumahnya, apalagi anak manusia. Nanti kalau dia udah puas kesana sini pasti dia bakalan balik ke rumah koq, jadi biarin aja dia pergi-pergi”
Tahun pertama saya pindah ke Surabaya adalah tahun-tahun penuh air mata. Gimana gak nangis, tiap saya telp ibu pasti dia bercucuran air mata. Kalau dia telp, suaranya akan tercekat-cekat karena sesungguan. Rasanya tahun-tahun itu saya cuman bikin dia sedih karena rindu. Itu kenapa 2 tahun pertama di Surabaya, hampir 2 bulan sekali saya pulang ke Medan hahaha.
Rumah untuk saya dulu ada tempat kedua orang tua saya tinggal. Rumah yang saya tempati sejak SMP. Sehingga setiap kali saya pulang, kesinilah tujuan saya. Yang saya lakukan ketika pulang dari Surabaya dulu ternyata tidak semata-mata merindukan tempat saya besar ini. Hari-hari saya lebih banyak dihabiskan dengan pergi dengan teman, ketemu mantan pacar, sempat punya pacar baru, traveling ke tempat baru dan menjadikan Medan hanya tempat transit atau pulang 2-3 hari dan lebih sering saya pergunakan untuk wisata kuliner ke tempat-tempat makan yang saya suka dulu.
Setelah beberapa tahun di Surabaya, saya hanya pulang 1-2 kali setiap tahun ke Medan. Saya mulai jarang merindukan rumah lagi ( saya hanya rindu orangtua tapi tidak rumah ), saya mulai lupa dimana ibu saya meletakkan sendok, piring, pisau atau handuk. Saya mulai asing dengan rumah saya itu. Setiap kali saya di rumah, saya malah seperti orang asing yang berkunjung. Saya tetap pulang ke rumah tapi……saya hanya merindukan kedua sosok yang membesarkan saya, bukan rumah saya yang beratap biru lagi yang saya rindukan ketika itu.
Lalu ada beberapa kali lebaran yang saya harus absent pulang karena pembagian cuti dengan teman kantor. Ada yang harus membuat saya pulang ke Medan setelah 3 hari lebaran, ada yang seminggu setelah lebaran bahkan 2 minggu setelah lebaran. Apakah saya nangis tersedu-sedu ketika berlebaran sendirian? hmmmm seingat saya, saya hanya rindu tidak mencium tangan kedua orang tua, pergi shalat id bersama dan tentu bermaaf-maafkan minus nangis ( kami tidak pernah nangis-nangis ketika acara maaf-maafan hehe, ayah saya gak suka) jadi gak ada tuh acara sedih melow karena gak pulang hahaha. BIasanya saya pergi ke Bali kalau memang gak bisa pulang ke Medan. Di Bali beberapa hari, lalu kembali masuk kantor dan cus…..ke Medan begitu jatah cuti bisa diambil. Ibu dan ayah saya sudah berhenti protes karena itu.
Lagian pada saat itu saya merasa pulang bukan seperti pulang ke rumah tapi pulang hanya untuk mengunjungi kenangan-kenangan yang saya suka. Pulang tidak lagi berarti rumah untuk saya, tetapi untuk mengunjungi kenangan yang saya punya di rumah itu 🙂
Perlahan tapi pasti, saya tidak begitu menggagap rumah di Medan sebagai ” rumah ” saya lagi. Saya saat itu sudah menemukan ” rumah ” saya yang baru. Rumah di Surabaya. Rumah yang saya tinggalin kurang lebih 3 tahun. Rumah dimana dinding kamar saya berwarna cream dengan garis wall paper berbunga pink ( yeay ), dengan lemari jati tua 2 pintu, meja belajar tua bekas mas Aldi, sebuah lukisan kain bertuliskan kaligrafi Arab, lantai keramik tua yang ketika musim hujan bisa merembes air dari sela-selanya dan tempat tidur besar yang 3 kali ambrol karena ditidurin 4 orang teman baik saya 🙂
Rumah saya di Surabaya yang tua dan disana sini mulai keliatan lelah dimakan usia. Di halaman depan rumah masih ada pohon mangga dan jeruk purut yang setiap pagi saya punguti buah-buahnya sambil dicucuk pisau agar wanginya menyebar keruangan kamar. Saya cinta rumah itu, sebesar cinta saya untuk semua furniture tua jati di semua ruangan, kendi-kendi tua menyeramkan berikut cerita mistisnya, dapur tua yang keren berwarna hijau bahkan ac kamar Fins yang berbunyi seperti macan menggeram plus halaman belakang rumah tempat saya ngobrol dengan mba Ida dan FIns ketika makan malam.
Disanalah ” rumah ” saya selama 3 tahun di Surabaya. Saya menghabiskan kebanyakan hari-hari di kamarnya yang super dingin setelah pulang kantor, menerima tamu dan teman, menunggu pacar menjemput ke bioskop atau mall, menantikan paket yang dikirim orang tua, menerima pemeriksaan mendadak dari orang tua angkat saya di Surabaya dan saya bahkan menangisinya dengan tersedu-sedu ketika meninggalkan Surabaya pada bulan Februari lalu.
Saya menangisi kenangan-kenangan saya di ” rumah ” itu. Ketawa dan cerita-cerita di rumah tersebut, mendiang ibu kos yang menggagap saya dan mba Ida anaknya sendiri, suara suster yang cempreng sampai ketika situasi rumah hanya kami berdua dengan bapak tua penjaga kos.
Lalu saya ” pulang ” ke Medan. Semua orang bilang saya akan senang pulang ke rumah orang tua saya lagi. Orang tua saya pindah dari rumah beratap biru ke rumah beratap coklat di Medan. Mereka menempati rumah baru di pinggir jalan besar yang super sibuk dan berisik. Adik saya menempati rumah lama kami. Rumah ini sungguh asing untuk saya. Saya tidak tahu dimana ibu meletakkan sajadah untuk shalat, dimana semua barang-barang saya, semua buku, sepatu dan baju hancur karena dia males ngurusin mereka ( yaiyahlah….anak durhaka haha )
Saya 2 bulan tinggal di rumah itu. Saya senang bersama mereka. Siapa yang tidak senang kumpul dengan keluarga lagi. Tetapi anehnya Saya masih belum bisa mengatakan rumah itu adalah rumah saya. Setiap orang tanya, pasti saya bilang kalau saya tinggal di rumah orang tua, beda banget ketika saya menyebut rumah di Surabaya. Saya tidak pernah merasa ” pulang ” ke sana.
Sampai akhirnya saya menikah dan pindah rumah dengan Matt. Saya tidak suka rumah saya ini karena panas dan sepi sampai membuat saya ketakutan. Saya benci harga sewanya yang mahal tapi……………….ada satu sosok yang selalu saya rindu setiap hari. Ada satu orang yang dengannya saya selalu merasa ” pulang ” sehingga rumah ini pun terlihat sangat normal sekarang untuk saya.
Sekarang…..mungkin saya tidak mencari tiket untuk mudik lagi, tidak ribut-ribut lagi mempermasalahkan siapa yang akan merawat mobil ketika saya pergi ke Medan, tidak ketakutan dengan jadwal cuti atau libur lebaran yang suka gak jelas. Yah saya rindu masa-masa itu tapi………………………sekarang saya sudah menemukan rumah saya yang sebenar-benarnya. Rumah dimana saya bisa merasakan semua yang saya ingin rasakan. Mengerikan sekaligus menyenangkan ketika saya tahu rumah itu tidak berbentuk batu tapi manusia.
Pertama kali dalam hidup ini saya merasakan ada satu orang dimana saya selalu mau ” pulang ” untuk bersamanya dan menyebut dimanapun kami tinggal sebagai ” rumah “.
“For the two of us, home isn’t a place. It is a person. And we are finally home.”
― Stephanie Perkins, Anna and the French Kiss
Oya…sekedar catatan untuk Matt, walau sekarang dialah ” rumah ” saya tapi……aku sungguh gak keberatan kalau kita sampai bisa punya rumah seperti dibawah ini hehe.



Ps : Senangnya ketika mengetahui, saya akan tetap punya jadwal mudik ke US 🙂 * yahh..kalo ada duit tentunya * plus untuk membuat suasana lebih dramatis mari kita dengerin si mas ganteng ini 🙂 MICHAEL BUBLE HOME
BAHAHAHAHA pesan terakhirnya itu loh =)))
hahha…..itu yang paling penting yaa Didut 🙂
Yaampuuun.. itu rumah impian banget ya.. halamannya luas, banyak pohon , sejuk, aku juga mauuuu 😀
hahah…..kayaknya orang2 tuh pengennya pasti bisa punya halaman luas ya 🙂 banyak pohon. duhhh enak banget tapiiiii koq harga tanah mahal banget sih
bener bangett Non, rumah bukan lagi rumah tapi orang 😀
toss dulu kita ri hehehe 🙂 jadi di sing or jkt asal sama Emb udah seneng kan Ri 🙂
noniiiii aku suka iniiiiii…hahaha, home is`where your heart is yaaaa…. aku sudah berdamai dengan rumah yg bangunannya bukan impianku,tp it’s my dream home because of the preciouses that I love and love me. Ih, pas banget kmrn pas plg dr warung, aku sama Gaoqi ngomongin home sama dengan house gak.Eh aku always feel nyesss tiap denger mas buble nyanyi homeeee…
mas buble ini emang dahsyat ya Ndang 🙂 yokkk kalo dia konser deket2 sini nonton rame2 hahaha.
aku juga sama kayak kamu, kemaren2 aku masih ngamuk2 sama Matt tapi lama2 aku pikir, aku gak nyari rumah haahaha, aku nyari orang yang bisa bikin kita rindu pulang kan 🙂 jadi biar rumahnya gak persis kayak yg kita mau yah gpp deh walo akan lebih cinta kalo bisa dapetin rumahh yang kita suka.
btw……..apa hasil pembicaraan ama neng Gaoqi Ndang? let me know dunk
iyaaa, itu ideal banget yak pulang ke rumah idaman menemui hubby dan krucils tercinta hahaha but if I have to choose only one ya tentu saja malaikat sudah tau yang mana jadi juaranyalah yaaaa…
Si neng pas di warung kan aku bilang “let’s go home, Gaoqi” eh dia nanya “Mak, home is the same with house?” aku jawab aja “Home is the people you love” aku ngomong gitu buar gampang sih. Si Gaoqi manggut-manggut dan jawab “Yes I want to go home see Bapak and abang and Gama”
Sondangg………..aku koq baca Gaoqi ngomong gitu jadi berkaca2 huhuhu * kenapa aku gampang mewek sihhhh *
aku aja`kmarin sambil nenteng telur berkaca-kaca non, kagt denger pertanyaannya dan makanya pas baca ini tadi akuh seneeng bgt. err mungkin this is one way God remind me to be thanfull about this oldies house yg bikin capek ngepelnyaaa
ngomong2 rumah tua, aku penggemar rumah tua loh Ndang. Gak tau kenapa, pokoknya wangi rumah itu itu kayak manggil2 gitu hahaha.
Kayaknya kita emang suka lupa bersyukur ya, punya rumah masih pengen rumah yang lebih bagus padahal rumah yang sebenar2nya adalah orang2 yg ada di sekitar kita kan yaaaa 🙂
tuuuulll…untung diingetin hihihi
sama2 ngingetin Ndang hehe, kalo aku complain2 tolong ingetin aku postingan ini ya hehehe
Non kita doiakan si buble ke indonesia dooong, waktu itu kan pernah hampir jadi kaaan
aku sempet pengen datang nonton yg pas di KL waktu itu Ndang tapiiiiiiiiii apa daya gak ada cuti huhuhu
kalo dia hampir ke Indo aku malah gak tau huhahaha
Aku sukaaaa! Pulang ke rumah untuk orangtua 🙂 (dan masakannya, cerewetnya, manja2an, pijitan Papa) hehehehe … Aku bacanya nangis, pgn cepet pulaaaang!
sebentar lagi neng 🙂 sabar, kira2 3 minggu lagi kan 🙂
ihh…masa2 nanti pulang itu kayak gimana gitu ya Cha. Gak sabar, deg-degan, bayangin makan ini itu. duhhh apalagi kamu jauh gitu hahahaha
Saya suka gambar rumah yang ketiga,mbak…,^_^v
saya aminkan doanya ya…,amiiinnnn…,^_^v
makasih doanya Nic 🙂 aminnn yaaa bisa kesampean punya rumah kayak gitu hahaha
pinter banget sih milih rumahnya, hahahha!
milih doang mah gampang, kalo beli yang susah hahaha
ah.. Buble – Home, lagu ini kemarin saya dengarkan pas juga abis dengar soal teman yang meninggal dunia.
Saya sendiri gak pernah pulang kampung lagi. Dulu sempat karena kerja di Cirebon. 😀
Soal Pantura… proyek tambal sulam terus sih. jadi gak bener2 ngerjainnya.
turut berduka untuk temnanya ya 😦
loh skr udah tinggal deket2 ortu ya 🙂 enak dong, mudik itu walo asik tapi biayanya gede hahaha.
pantura itu kayaknya emang jadi ajang cari duit tahunan ya
bukan Pantura aja sih. jalan di sepanjang Sudirman Thamrin juga jadi ajang penghasilan. Jadi inget pelajaran SD dulu, katanya sengaja dibongkar terus dipasang lagi utk ngurangin pengangguran…
Sekarang sih deket sama keluarga. walau skrg kos tapi almost every weekend pulang ke rumah.
hmmmmm padahal kan ngurangin pengganguran yah gak gitu juga kali ya solusinya 😦 kan kalo kayak gini trus nyusahin juga huhu. serba dillema di indo ini.
iya. dah gitu selalu mendekati waktunya baru dikerjakan. ujung2nya gak maksimal. hanya tahan sebulan dua bulan langsung deh rusak.
yah biar ada trus duit masuknya.gak heran itu pemborong jalan pada tajir2 haha
begitulah… 😥
jadi pengen jadi pemborong huahhaha
ayo… jadi pemborong
minta modalnya dong hahaha
*langsung ngilang*
huhahahha
mbak noni aku juga pingin banget punya rumah model gtuu..
semoga kita bisa beli rumah kayak gitu yaaa
amieeenn *teriak kenceng*
hahahaha……..doanya harus yg kenceng juga My 🙂
hehe klo aku ga pernah mudik, krn deket rmh ortu juga mertua..maybe emg ditakdirkan ttp di smg buat jaga para orang tua krn kakak2 di luar kota smw 🙂
awww lebih seneng dong 🙂 mudik itu emang seneng tapiiii biayanya gede huhuhu. Ahhh rindu prosesi mudik deh aku jadinya hahaha
Gambar2 rumahnya asiiik
Aq jg th ini g mudik mb krn lagi di rumah ortu hehehe
wah enak dong 🙂 mudik itu walo ” mahal ” tapi bikin seru yaaa. Seru nyiapin tiket, oleh2 sampe ketemu orang2 yang kita sayang heheehehe
ho oh mbak
hehehe
di medan seperti nya belom ada perumahan country house gitu ya non ahahaha
*kalo ada juga duitnya yg belom ada huahahaha
ahh.. daku pun pengen mudik.. semoga..
*ps asik donk non skrg mudiknya ke US huahahahaha
Ps : duitnya yg gak asik Me huhaha, lagian belon tentu juga kita punya duit buat beli tiket huhahaha. doain yaaa rejekinya ada, kesian juga si matt udah 3 taon gak pernah pulang.
country house kayak gitu kayaknya emang belon ada, tapiiii kalo kamu main2 ke royal sumatera rumahnya ala2 victoria gitu Me dan halamannya lumayan besar juga. yang gak enak harganya dong muahal huhuhu
nah… harganya itu non bikin sesek napas ya ahahaha
mau tutup mata dulu sampe hujan duit deh ya :p kalo ga nabung dulu deh nih.. tp pengen jalan2 jugaaa :)) banyak maunya dana terbatas wkwkwkwk
udah bukan sesak lagi me hahaha, udah entah gimana menderitanya ngumpulin duit haha.
dulu aku selalu mikir gak mau investasi di batu/besi ( baca rumah atau mobil ) maunya cumann investasi di mata ama hati doang alias jalan2 trus ehh pas udah nikah semua berubah dong huhuhu. Maunya banyak tapi duitnya dikit. Gimana ini Me???
huhuhuhuhu makanya bingung deh non, kmrn ini br ngobrol2 sama temen yg kerja di sg, di pikir2, memang sih biaya hidup mereka tinggi, tp dengan pendapatan mereka, ttp lho bisa utk nabung beli HBD ( klo rumah sih uda ga sanggup katanya hahaha ), mobil ya juga bisa, plus masih bisa jalan2 travelling dan ber tas branded pula. Lah disini, gaji ngomong fairnya klo bs 20jt sebulan pun, bs sih cicil rumah, mobil, tapi kayanya tas2 dan jalan2nya belo bisa poool yak..
dulu malah salah satu alasan me dan tonce seneng akhirnya merid adalah, bisa travelling berduaan hahaha kenyataannya skrg ya belom bisa pula 😀 kenyataan belum seindah harapan nih ahahaha
ga bisa di pungkiri sih ya non, klo uda merid, otomatis jadi ada perasaan settled dan pengen punya rumah jadinya, tp bersyukur aja dan ttp berusaha.
me pernah baca dimana lupa, katanya jangan bandingin keadaan kita dengan org lain, orang lain uda punya rumah kita belum, dia udah ganti mobil kita masih ngojek ( misalnya ) tapi bandingin keadaan kita saat ini dengan waktu dulu, harus lebih baik dari keadaan kita yg dulu 🙂 jadi ga gitu tekanan batin mudah2an ehehehe
SEMANGAT 😀
Me, pas kemaren aku ke KL kan kita banding2in tuh ama Matt soal gaya hidup disana ama di medan. Lah di luar ( let’s say KL or sing ) transportasi umum udah bagus, biaya kita beli mobil + bbm + service udah berkurang jauh karena bisa ngebis/mrt atau apalah, murah pula.
trus air bisa langsung diminum, gak usah beli aqua kan hehe. Belon listrik atau soal keamanan. Jauh bangetlah. Disini yang paling simple aja kayak air kita masih harus beli.
akhirnya malah susah nabung, waloo emagn sih living cost mungkin bisa murah, tapi gaya hidup yang bikin jadi mahal huhahahaha
iyaaa bener non hahahaha disini kesannya murah, tapi belom ini dan itu, ujung2nya besar pasak daripada tiang wkwkwkwk..
lah ya itu. kecil2 tapi koq semua2 duit kan ya Me 🙂 belon pungli2nya huhuhu
kata beberapa blogger yg tinggal di luar, sebenarnya biaya hidup di indo itu emang besar koq cuman gak keliatan karena yah itu kita mikirnya murah2 koq 😦
Matt, tolong di bookmarked itu paragraf yg terakhir itu, yaaa… your wife’s wish is your commands, kaaan? *non, kubantuin tuh, undang2 ya kalo udh punya rumah cakepssss ituuu!*
Fit…….pajak rumah mahal gak sih kalo punya rumah2 gede gitu? koq skr aku jadi penasaran waloooooo entah kapan bisa beli huhahahaha.
aku udah kasih liat matt dong rumahnya, dia ketawa2 aja gak komen apa2 * pundung*
Aih, pajak bumi bangunan sih cuma se-per-1000 dari nilai total rumah, kok Non. Kalo nilai rumahnya udah diatas Rp 1 M, baruuuu PBB-nya 2× lipat, jadi se-per-500 dari nilai rumah.Jadi kalo nilai rumah 1M, pbb-nya cuma 2 jeti, kalo 2 M ya 4 jeti doang, daannn dibayar setahun sekali.. Kalo udah mampu beli rumah sampe M-M-an gitu, bayar pajaknya cingcaaaayyy, lah. Keciiillll! 🙂
Bilangin Matt dong, keinginan istri itu perintah utk suami…! Huahaha.. *dijitak si mister*
huaaa……jadi orang2 yang rumah2nya super gede itu bayarnya cuman segitu yaaaa, pantesan rumah gedong2 kayak jamur sekarang sangking banyaknya.
huhaaaa….keinginan istri emang harus di penuhi dengan catatan kalao ada duit. Matt sih mau beliin semua2nya tapiiiii monopoli huhahaha
kadang rumah gak besar dan gak terlalu bagus, tapi ketika kita nyaman dengan siapa kita tinggal, itu yang bikin nyamaaaan 😀
om buble.. i love him >.< tetiba homesick baca postingan ini dan lagunya :3
wahhh pengen pulang rumah juga yaaa atau pengen ketemu pacar hahaha
iya kamu bener, kadang rumah gedeeee bgt tapi berasa kosong karena gak ada siapapun dirumah yg kita pengen jumpai kan
aduuh,, tante noni jangan bikin tambah galaau.. hahaha *berasa anak abg labil* :p
ho oh.. 🙂 biar lebih asik, bikin tante noni sama om matt junior, biar gak kesepian pas om mat ke hutan, biar rame. haha
hahaha….bulan puasa emang bulan galau. galau pulang kampung atau gak hahaha.
aduhhh gitu ya :0 solusinya perlu pemikiran super hebat itu hihihihi
Pulaaang….pulaaang….!!! Pengennya tiap taun lebaran atau pulkam, apadaya, tiap pulang harus merogoh saku celana sampe ke kaki 😀
*iihh jd curcol 😀
hahah….gpp curcol teh 🙂 aku aja dulu yg dari surabaya udah keteteran tiap mau mudik padahal sendirian apalagi teteh yang jauhhhhh bnget plus mahal banget yaaa 🙂
Hehhe…yang lebih parah lagi itu, anak2 libur sekolah pas musim panas jadinya harga tiket pesawat wuiiih ikutan terbang pula harganya :((
Yg susah juga, kalau buat teteh sama mas Tri mah ke Indo itu pulang, bisa kumpul keluarga cukuplah, tapiii buat anak2 mah, ke Indo itu liburan, jd program wara wirinya yg buanyaaak… Mereka bahagia, bapaknya geleng2 hihihi
Tahun inj kalau mau pulang tiket PP nya 5000 euro lebiiih huhuhu
*curcol lagi aahh 😀
teteh……5000 euro bisa diganti pake duit monopoli gak hahaha. GIlaaaaa mahal banget yaaa 😦 duhh sabar deh teh, kan kemaren baru pulang 🙂
aku dullu kalo mikir2 soal duit, trus kepikiran takut ada apa2 gak sempet liat ortu lagi, jadilah walo bokek aku paksain pulang haha. Tapi ini beda soal yaa kalo aku jauhhh banget kayak teteh huhuhu. * hugs teteh *
aku juga gitu teh, mikirnya masih kayak anak2 gitu, kalo mudik yah artinya liburan hahaha. Makanya ini mau punya rencana mudik ke US bareng Matt, aku mikirnya udah kesana sini, Matt yang muntah darah hahahaha
Itu gambar rumah2 di bawah ituuuu bikin pengen pulang ke situ 🙂
Hmm.. mudiknya mesti modal gede sih Non, ke Amrik gak lewat pantura 🙂
rumah2 model country gitu emang kayaknya enak banget ya mba, plus halamannya pun luasssss banget. seneng deh.
haha…ke amrik, itu bikin muntah darah ngumpulin duitnya 😦
Aku sukaaaa lagu Buble yg home iniiiih, emang beneran bikin kepengen pulang ya, apapun definisi si pulang ituh.
pulang itu selalu nyenengin ya 🙂 dan si buble emang sooooo lucukkkkk sayang wis kawin , huh
wah wah… meskipun gambar rumahnya minjem2, tapi rollz juga mau rumah kayak gitu… huhuhu…
btw, ga ke surabaya kali ini? :p
gak Rollz 😦 belon bisa ke surabaya huhu. mungkin sebelum des ada rencana ke sby karena pengen ngurus sesuatu, tapi belon tau deh bisa apa gak hiks.
rumahnya emang lucuk2 ya ROllz, ayoo kamu buat dong satu hehe
koq namanya di comment jadi 2ndrollz ya padahal kan harusnya namaku… hahahaha… aneh…
ajakin matt ke surabaya, nanti cobain rujak cingur :p
apa? noni mau beliin rumah 1 buat rollz… boleh2… kapan2? :p
matt udah 5 kali ke sby Rollz, pas aku di sby dulu hehe. dia gak mau rujak cingur, gak tega bayangin moncong sapi di dalam sayur2an hahaha.
aduhh….pengen banget beliin tapi koq pohon duit aku gak numbuh2 nih hihi
Aku sukaaaa dengan postingan ini, Mbak Noni. Karna aku pernah ada di posisi itu. Waktu jaman2 kuliah di Bandung, hampir 4 tahun tinggal di kosan yang sama dan udah berasa di rumah sendiri. Tiap pulang ke Pekanbaru, yang dicari cuma keluarga, rumahnya sendiri ga begitu diingat. Jadi tiap nyampe rumah emang berasa asing, berasa jadi tamu. Hehehehe.
Dan tiap kali galau kangen “rumah” aku selalu nyetel lagu Home-nya Michael Buble.. 😀
lagunya si buble ini kayaknya jadi lagu kebangsaan semua anak perantauan ya Lia hahehe.
makasih udah suka, tapi eamgn bener ya, kalo kita udah lama di satu tempat, udah ketemu temen yg cocok apalagi pacar, yahh rumah yang jauh
jadi tempat untuk ridu2an doang kan yaaa. Yang kita rindu sebenarnya sih orang2 didalam rumah itu, bukan rumahnya sendiri hehe
Iya mbak, yang dirindukan itu orang-orangnya dan suasananya. Biasanya sih aku galau2 kangen “rumah” itu pas momen-momen Ramadhan gini, Rindu momen sahur dan buka puasa barengnya. Hihihi.
Tapi skrg udah happy ya mbak, udah ada “rumah” baru yang bisa bikin nyaman dan selalu bikin ingin pulang 😉
hahah….iya skr udah punya ” rumah ” sendiri yang bisa bikin lengkap ya.
btw…rumah ortu di pekan baru atau padang sih? trus kamu entar mudik apa gimana ? aku masih bingung hehehe
Rumah ortuku di Pekanbaru, Mbak. Sebelumnya keluargaku di Batam, akhir 2006 pindah ke Batam. Keluarga besarku sih masih di Batam semua.
Nah akunya tahun 2007 sampai awal 2013 kemarin merantau ke Bandung dan Jakarta. Skrg berdasarkan permintaan ortu, pindah lagi ke Pekanbaru, huehehehe..
ohh berarti udah deket ortu ya skr dan gak perlu mudik lagi hehehe. sama dong kita
iyah kalo mudik palingan pulang ke Batam mbak, ke rumah keluarga besar 😀
hihi tapi kadang rindu juga ya masa2 jauh dari keluarga trus hunting tiket murah utk mudik 😆
iya, itu masa2 mendebarkan hunting tiket hahaha
Barengan mosting di blog jg ttg rumah :p Gw malah ogah ah non punya rumah gede gitu susah mbersihin nya (dan ya kalee ga mampu beli rumah gedong) hahaha. Kemaren mbersihin rumah + balkon aja wes megap megap. Cakep emang ya rumah2 nya! Wis kasian bener udah 3 taon ga mudik si matt kayak bang toyib..hehehe gw juga ding..Semoga noni+matt bisa pulang segera ya 🙂 btw kampung nya di US dimana non?
huhahaha……iya ya Pop, itu rumahnya gedenya minta ampun ( buat kita mungkin ) tapi aku sukaaa banget liatnya hihi. Pengen banget punya rumah di desa2 yg dingin gitu semacam TOBA or Berastagi. RUmah kayu dengan halaman luas yang hijau trus banyak binatang berkeliaran dan pohon2 * ngimpiiiiiiii,pohon duitku mati trus *
si Matt kalo sampe natal taon ini hampir 4 taon pop hehe, kasian juga. Ortunya udah nanyain trus kapan dia bisa pulang, lah skr kalo pulang mesti bayarin 2 orang pula
makin sesak nafas dia nyari duitnya hihihi. Dia tinggal di CHicago….eh tepatnya di Illinois kalo aku gak salah. amin2 doanya, semoga bisa nyusul kamu ya, bisa mudik si abang toyip bule hehe
Hahahaha!kurang pupuk itu non pohon duit nya mati terus.. Oh di chicago ya, sahabat baik aku juga tinggal di sana di Jefferson street,deket nya sungai itu.Amiiin nonnn semoga cepet pulang kalo liat foto2 sahabat aku kirimin sih bagus banget ya disana (maap belom pernah kesana sih hihi)
huhahaha……ayoo kesana sekali2 pop trus kirimin aku fotonya 🙂
uhh udah aku kasih pupuk Pop, pupuk cinta malahan tapii koq malah tiwas pohonya hihihi. gak cocok ditangan aku kayaknya.
Akupun telah menemukan rumah itu 🙂
alhamdullilah 🙂 rumahnya udah yg paling pas Angel hehe dan kita sukaaaa bgt
Aku sdh 2 tahun ga pulang. Belum punya duit :lol:. Foto pertama itu di Swiss ya?. Persis rumah Frank dulu, aku cuma seminggu disana, trus pindah ke Jerman deh. Payah Frank padahal aku sudah suka pemandangannya ;).
yahh Frank punya rumah kayak gitu yaa, akuuuuu sukaaa juga. Duh ikutan sedih . dijual apa gimana mba Nella???
aku gak tau itu di swiss apa gimana tp cakep bgt ya mba,
mbaa Nella, semoga dapet banyak rejeki ya, jadi bisa pulang segera
Rumah kontrakan ko Non 😆 .
Iya cakep spt di buku-buku dongeng.. sekeliling rumah kita ada pegunungan.
aw…….keren bagnet. duhh aku langsung inget HeiDI mba Nella
Rumah2 di aas pasti sejuk banget tuh,apalagi pagi hari..
iya, rasanyaa enakkk banget. apalagi kalo banyak pohon2 gitu ya
aku juga uda ketemu sama “rumahnya” cuma belom jadi hak milik aja huehehehehee…
tinggal ttd aja kal Mel 🙂
Iya banget! 😀 Memang kalau tinggal merantau beberapa lama memang merasa gitu ya. Kayak lagu apa itu kan, judulnya “A house is not a home” atau apa gitu, hehehe 🙂 .
Btw, pesan yg terakhir itu kereeen! Sungguh dalam! Rumahnya bukan batu tapi berwujud manusia, hahaha 😛 .
iya emang Zi, kita bisa nemu rumah batu dimana2 tapi rumah manusia kan belon tentu hahaha. trus kalo udah merantau emang lama2 badan jadi terbiasa sama lingkungan baru
dan akhirnya kita bisa aja gitu lupa ama rumah lama, yang dirindu hanya kenangan2nya kan ya
Aku dulu sering loh bilang ke bubu “aku mau pulaaaaang” trus bubu cuma jawab.. “pulang kemanaa? kamu kan udah di rumah” dooaaaar… iya juga yaaa.. hahaha..
Ngomong2 pulkam, aku kangen pingin balik Indo iiiih.. nyaris 4 tahun ga balik itu bikin sutris yaaaaa… kangen bangeeet.. hiks hiks
Bubu pinter dong be 🙂 dia udah tau berarti “rumah’ nya dimana hehee. Makin lengkap setelah nanti pindah rumah baru + ada bayi lucu yaaa. ahhh semoga lancar2 disana yaaa Be 🙂
aduh 4 taon ya, saingan ama matt kamuu hahaha. Kata popie udah kayak bang toyip gak balik2. aduh aku ngerasa itu beratnya gak ketemu keluarga segitu lama. dulu kalo pas natal, matt pasti bela2in keluar hutan dan ke surabaya supaya bisa natalan ama keluarga angkat aku. kita jg ngusahain dia bisa ngersain natal yang sama, wlooo tetep aja beda 😦
huaaaaah jadi terharu 😥 pernah juga merasakan jauh dari rumah (ortu) selama 2 tahun. ngerasain sibuk cari tiket lebaran dan heboh nya mudik hahaa. sekarang ga perlu lagi, karena masih numpang di rmh ortu sama suami. mudah2an nanti nya bisa punya rumah sendiri deh. sekarang mo nikmatin yg ada dulu. puas2in deket2 ortu hahaa..
asik banget kalo mudik ke us kayanya nooon. ga nanggung2 jauh nya hihii
gak nanggung jauh + duitnya hahaha . makanya si matt belon bisa pulang2 tuh, abis kita bokek trus sih.
ada yg ngomong ke aku waktu kemaren pindah ke medan, dipuas2in deket ortu skr, mumpung mereka masih hidup + sehat. Nanti kalo udah jauh lagi, susah ketemunya * ughh langsung sedih gini aku *
aaah aku juga jadi sediiih terharu :’)
🙂 ayoo senyum lagi
Suka banget dengan tulisan mbak noni ini. Suka banget,,,duch nyampe binggung mau ngomentari apa 🙂
Noniiiiii, postingan ini mengingatkan pada obrolan super serius dengan seorang teman beberapa hari lalu 😀 Tentang rumah & pulang.
Suka sekali kutipannya ini => “For the two of us, home isn’t a place. It is a person. And we are finally home.” ― Stephanie Perkins
Aah cantik kali rumahnya. Kayak model rumah2 yang aku liat waktu mau ke blue Mountain, NSW..
Jadi pengen pulang, aku kangen rumah beserta isinya..
Ih rumahnya cantik ya. hehehe kalo liat liat majalah arsitektur atau majalah tentang rumah masih aja suka ngayal pengen punya rumah yang agak lapang sedikit terutama dapurnya :D. Cuma sekarang ini syukur aja masih bisa dapetin rumah, itupun masih deg degan non karena masih proses hehehe (makanya pengen cerita di blog masih ragu2 :D). Semoga nanti kamu & Matt bisa ketemu rumah yang cocok & nyaman ya :). Btw di medan sudah kondusif keadaannya?
secara fisik, bisa dibilang daku pulangnya ke semarang, ke orangtua.. secara batin tetep lah pulang ke misua, walupun jarang ketemu dan kita cuma punya apartemen tapi ga bisa dibilang “pulang” ke rumah, cuma pulang karena kangen..
kalu di rumah mamababe sih masih inget kog letaknya semua barang.. selalu pada tempatnya.. tetep aja ada rasa asing, apalagi sekarang di rumah mamababe ada adik ipar.. asing yang lain ya..
loh mba tin orang semarang toh?
asingnya itu susah buat di omongin kan mba? pokoknya jadi aneh aja hehe
orang indonesia.. :p
babe aceh, mama pekalongan, lahir di jawa, gede di sulawesi, kuliah kerja di jkt.. tuh orang indonesia kan?
asing itu susah diterjemahi.. pulang itu kemana kita nyaman.. makanya slogan daku di empi dulu itu home is where the heart is.. pindah dimari juga bikin nyaman..
asing itu kaya bandingin empi-wipi-fesbuk-instagram.. kalu instagram udah nyaman, ga asing lagi.. fesbuk sih masih asing.. empi paling pulang ke rumah.. wipi lagi berusaha pulang ke rumah.. *iniapasih?
empi kan udah gak ada lagi mba? ohh maksutnya empi yg br itu ya?
Rumahku = surgaku….
Walau sbenarnya kita butuh dan rindukan adalah ortu. Dulu swaktu keci
, kita yg sllu rindu sm mereka, skerng pas kita sdh gede biasanya mereka yang rindu sm kita 🙂
waktu kita kecil mereka juga rinduuu koq hehehe
aku mw “rumah” kayak gitu non…
dimanapun suamiku, disitulah rumahku…itulah yg buat aku bersikukuh ikut kemanapun suami kerja…
etapi dy punya pikiran lain…biarpun aku tetep ikut dia sih nantinya…
pikiran dia apa??
plg suka wkt mo brangkatnya, tp plg males wkt mo baliknya…..
iya bener 🙂 kalo udah nyampe koq kayaknya berat mau puang hehe
Aku suka bgt postingan ini Non.
Aku juga masih suka berdebat dgn diri sendiri mengenai arti “rumah”. Sebelum mudik thn lalu, aku udah 8.5 tahun nggak pulang. Tapi kalau mereferensi ke Indonesia, aku selalu bilang “home.” Kayak bilang ke temen, “my home country”, atau “I went back home last year.” Tapi sama seperti kamu, aku udah bertahun2 gak pulang, pas akhirnya mudik thn lalu, aku merasa sedikit janggal.. maksudnya,ya aku ngeh ini rumah dimana aku dibesarkan,tapi banyak sekali yg sudah berubah. Kamar aku dulu udah ditata ulang Mama. Walaupun masih ada barang2ku dulu yg mama simpan, dan letak piring, gelas, dsb secara garis besar masih sama, tapi ada sedikit rasa berubah gitu.
Tapi, kota Bogor itu bagiku tidak berasa kayak kota asal lagi. Banyaaaak sekali yg udah berubah. Jurusan/nomor angkot, mall2 baru, daerah sekitar perumahanku,dsb. Aku kyk orang bingung pas pertama nyampe. Inget mau ke mall sendiri aja harus dicatet dulu naik angkot berapa,pulang gimana. Bayar ojek berapa. Waktu itu sempet pernah mau nekat ke jakarta sendiri nggak minta disetirin nyokap, ceritanya mau naik bus. Semua jurusannya aku catet dulu biar nggak nyasar, hahaha.
Dulu, sebelum mudik tahun lalu, aku nganggap kotaku tempat aku tinggal sekarang ini bukan sebagai “rumah”. Tapi pas di Indo kalo aku mereferensikan tanggal balik ke sini lagi itu aku sll bilang, “iya, aku nanti pulang ke rumah tanggal segini.” Sampai suatu waktu mendiang Eyang bilang, “Sekarang kamu kalau pulang itu ke sana toh nduk? Bukan ke sini lagi.” Bokap juga sempet bilang, “Arti rumah itu bagi kamu sekarang dimana?Di sana apa di sini?”
Bingunglah aku jadinya. Karena kalo kupikir2, rumahku itu emang disini. Aku ngerti hidup disini. Kemana2 ngerti jurusannya, punya rekening bank disini, bayar listrik telpon disini, punya temen disini walaupun saudara jauh, dan yg terpenting.. anak dan suamiku dua2nya disini. Mereka lahir disini. Tapi di sisi lain, rumahku juga di Indo, karena keluargaku disana, ortuku, adikku, tante oom, sahabat dekatku.
Jadinya, sekarang aku coba berdamai dengan ide bahwa aku punya 2 rumah,di sana dan di sini. Dua2nya sama2 penting buatku. Btw, jadi mudik sini Non? Kabar2in yaa kalo jadi, haha.
wulaaan…..pertama, kartunya baru nyampe 🙂 seneng banget. makasih ya. aku juga baru baca email kamu yg bilang kartu udah nyampe. bentar aku bales sekalian ngasih no WA ya 🙂
aku ngerti banget yang kamu rasain, apalagi udah segitu lama disana ya, keluargapun ( suami dan anak ) disana, rasanya keluarga kita (ortu, saudara ) jadi punya arti “home” yang lain kan? susah nulisnya tapi mungkin kamu ngerti hehe.
punya 2 rumah malah asik ya Wul, jadi tambah kaya hihi. kata nyokap rumah yang gak boleh kita tinggalin ada rumah ortu walaupun kita udah punya rumah baru yang nyaman, karena rumah ortu itu kayak tempat yang dalam situasi kayak apapun bakalan bisa nerima kita apa adanya kan ya? aku pernah inget ada anak temennya nyokap yg lari dari rumah karena milih laki2 yg dia cintai, setelah bertahun2 dia balik lagi ke rumahnya, gegara si lelaki itu nyia2in dia. Dari situ aku jadi ngerti apa yg dimaksut ama nyokap.
btw..gila ya Wul, 8.5 taon gak pulang, apa kamu gak segitu bingungnya pas nyampe indo hehe. Manalah lagi kalo negara2 berkembang gini kan cepet banget berubahnya. hari ini masih sawah, bulan depan udah jadi ruko hehehe. Matt juga sempet ngomong ke aku, waktu kemaren kita punya rencana pindah ke US, kalo udah pindah, yah mesti dipikir2 gak bisa pulang2 ke medan sering2. Makanya skr mumpung masih di medan, aku usahain bisa ngabisin bnyk waktu ama keluarga, takut tiba2 kami mesti pindah dan aku gak bisa pulang lagi.
Wul…..kata Matt, kalo jadi Insya Allah ( tapi belon pasti yaaaaa ) kalo bisa des kami ke US, cuman aku masih ketar ketir mau ngurus VIsa, aku takut gak di approve 😦
*juga sambil mendengarkan Home – Michael Buble*
Rasanya jadi ingin meluk ‘calon rumah’ saya yang nun jauh di sana.
Jadi sendu banget gak sih saya?
hahhaha….. kata amy ada yg lebih dahsyat dari Kings of Convenience judulnya home sick, coba cek supaya tambah berdarah2 pengen meluk ” calon rumah “
Membunuh perlahan-lahan ya lagunya…
hahhaha…udah dengerin yaaa
Udah dan gak bisa berenti lagi, hiiks…
Si calon rumah aku suruh dengerin juga 😀 😀
hahaha……ehh dia skr di Indo atau dimana Win?
Orangnya ada di Swiss.
Jauhnya banget-banget deh.
Itu baru mikirin urusan jarak, belum lagi GMT yang ngelucunya gak asik. Diana selamat malam kok saya selamat pagi.
Aaah, aku sebel sama negara yang beda ini. *curcol*
huaaa……..kemaren ini yg jadi alasan kita nikah lebih cepat Win 🙂 kalo matt pindah ke US, beda waktunya 12 jam. yang ada kita gak bakalan bisa ketemu. aku tidur, dia bangun, dia kerja aku tidur hehehe. jadi…ya udahlah kami nikah aja dan dia ambil kerjaan di hutan 🙂
kapan ya rencananya kamu ?
Wah repot nih kalo udah ditanyain kapannya hahaa 😀
Masih bingung sama macem-macem kita.
Kayaknya aku butuh ngontak langsung ke email deh buat cerita-cerita 😉
boleh2, email aja ke khairani.nowak@gmail.com
nanti lanjut WA or line ya 🙂
Hihi, oke 😉
[…] pas baca postingan Noni yang ini langsung dredeg. Ini dredeg bahasanya kucontek dari Irra.Pokoknya hati langsung nyess dan saat itu […]
Ni, gue juga sempet mau nulis tentang tema pulang, sehabis baca trilogi Fira Basuki, yang pas banget disaat setahun gue di Jakarta (habis sekolah di UK, tapi sebelom ke Austria). Di buku itu bikin gue berpikir, apasih makna pulang. Dan even sekarang, gue rasa gue meninggalkan hati gue di beberapa tempat, karna simply i cant choose which one is my real home. Semua tempat yang gue tinggalin kayaknya bisa bikin gue tersedu-sedu gitu dengan kenangannya.
Di buku Trilogi, FirBas bilang pulang ke rumah orang tua itu hanya dikatakan untuk anak manja yang maunya hanya di dalam pelukan dan lindungan orang tuanya. Dan emang gue akui rasanya sejak bokap gue meninggal, gue kok jadi lebih merasa ‘pulang’ ke Jakarta, karena kenangan sebagai anak kecil yang dilindungi itu.
Hah jadi berkaca kaca gue.
—
Btw selain Michael Buble, gue selalu denger Home Sick – Kings of Convenience untuk hati lebih disayat sayat mwahahahah..
My….akhirnya kan kita itu ngerasa pulang ke rumah itu sebenarnya adalah pulang ke kenangan2 yang kita punya kan ? toh rumahnya bisa berubah, situasinya udah ganti tapi ada sesuatu yg didalamnya kita cari2. Entah itu orangnya atau cerita didalamnya 🙂
btw…kamu deket banget ama bokap ya, hampir di setiap komen atau blog yg diposting, entah kenapa aku ngerasa kamu deketttttt banget sama Mendiang 🙂
langsung youtube si KOC hehehe
Iya, emang keterikatan akan memories itu lebih kuat daripada tempatnya sendiri ya..
Btw gue gak deket sm alm. bokap, malah deketnya sama nyokap bgt, dia sahabat gue sejati hahahaha..
Justru pada saat bokap gue meninggal, gue baru sadar bahwa gue anak kesayangannya 😦
Pasti Mendiang bokap jarang ngasih liat esmosinya ya, jadinya kita juga gak sadar kalo dia sayang. Sama kayak bokap aku itu, kalo kangen bukannya nelp tapi nyuruh2 nyokap telp trus dia dengerin doang dari belakang. Aneh2 aja
Setujuuuu yg penting “isi” rumahnya bukan bangunan fisiknya…eh tapi non, jelas gak nolak banget dong kalsu dikasih rumah kayak di gambar itu. Aku tuh lg naksir bgt rumah gak jauh dari kantor, dari kayu, elegan halamannya uasa dan hijaauuu. Alhasil sering2 deh lwt dpn rumah itu…kepikiran jg tanya sama yg punya rumah, butuh menantu yg imut seperti diriku gak haha
fotoin dong rumahnya 🙂 mudah2an nanti bisa punya rumah kayak gitu ya Yus heehehe
ehh coba ditanyain ke bapak yg punya rumah, sapa tau lagi nyari mantuuu hehe
Ooowh. manisnya….. Itulah jawabannya ketika ditanya kenapa mau nikah ama bul. I find my home. I find where my heart is. Cinta isi postingannya. Etapi rumah-rummh di bawahnya seru-seru.
alhamdullilah ya mas, kita udah nemu rumah yang kita cari2 hehe walooo tetep dong, kalo bisa dikasih rumah batu yang cantik tetep gak nolak hehe
Hidup kamu warna warni yah non. 🙂 seru.
Aku udah dari jaman remaja tinggal jauh dr rumah, so lebaran bukan cuma buat mudik ramadhan tapi juga buat gue hahaha. Naek bus empet2an mana harganya pake naek pula. Pokoknya demi pulang (dan libur panjang)
Cuma sejak tgl di spore aja nih lebaran ga pulang, abis gak libur panjang hijs. :p
dulu ya May, aku sampe bingung itu orang2 segituuuuuu maksanya pulang mudik, sampe naik2 motor beratus2 kilo, ternyataa…….yah yang begini2 ini yang gak bisa diganti sama apapun hehe.
kamu juga punya hidup yg warna warni apalagi bentar lagi bakalan punya “rumah” sendiri di Sing 🙂
“For the two of us, home isn’t a place. It is a person. And we are finally home.”
― Stephanie Perkins, Anna and the French Kiss
>> my home is wherever ada Abi disana 🙂
toss…….semoga kita gak pernah bosen ama rumah kita yaa mem hehe
aamiin 🙂
Suka sama postingan ini ! Jadi inget taun taun pertama pindah, selalu dengerin lagunya home si buble sama nangis inget bonyok dan mantan pacar yang nun jauh disana
loh, koq mantan hehehe
kalau kata mba tin, home is where your heart is…
bener 🙂 setujuuuu
suka postingannya Noni dan suka quote “For the two of us, home isn’t a place. It is a person. And we are finally home.” So, we are beyond lucky to have found our own ‘home’, right? Setelah 10 tahun ninggalin rumah, cuma ada satu yang bikin kangen dan yang selalu dicari-cari pas mudik, yaitu ibu dan masakannya :).
Tamiiiiiii….sepuluh tahunn yaa, udah lama juga hehehe. duhh kamu pasti kangen rumahnya gila2an yaaa 🙂
iya kita sama2 lucky nih hehehe. semoga begitu trus yaa Tam, rasanya.
bukan rumahnya sih, lebih ke momen2 yang terjadi didalamnya, senang dan susah..btw, baru nyadar, panggilnya Pungky aja say, berasa gak familiar dipanggil sama nama kedua :p
uhuy..maaf ya punky hahaha. abis aku pikir kamu nama utamanya UTAMI 🙂
Setuju sama Memtyk dan kamu Mbak Non. Rumahku sekarang di mana aja asal ada Suamiku di sana. Aku gak ngerti juga sik kenapa bisa ya falling in love abis-abisan sama Suami. Perasaan jatuh cinta tiap hari ke dia. 🙂
hahhahaha…..gak abis2nya jatuh cinta yaaa? koq bisa?? mau dong resepnya hahaha. aku sih kalo matt nyebelin, langsung bisa stop trus nanti numbuh lagi hahaha
Hahahhaa…coba dech perhatiin muka Matt kalo lagi tidur gmn? Kalau aku pas Suami bobo, aku perhatiin mukanya duh…itu terharu banget. Berasa capeknya dia nyari duit untuk aku 😐
ohh gitu ya 😦 aku gak pernah meratiin sih hihihih. coba besok aku liatin dia tidur yaaa
amin mbak, aku juga pengen banget punya rumah model country 😀
semoga dikabulin yaa keinginan kita
Udah 4th ini lebaran ngak perna mudik, aku pulang setiap awal puasa trus tengah puasa lanjut 2 minggu setelah lebaran. Dangw juga ngerasa asing di rumah sendiri, secara udah 13th kutinggalkan. Hanya kangen ama nyokap + ponakan aja. Kayak nya cerita kita sama hehehehe …..
Gw malah selalu kangen sama kamar ku di jakarta
aku dulu juga gitu mas 🙂 sampe skr pun aku masih kangen kamar tua aku itu huhuhu. ahh kita yang anak2 perantauan ini ya berasa senasib hahaha
Sering ngerasa asing di kampung sendiri, suka kagok pake bahasa jawa. Butuh adaptasi seharian untuk bisa pulih bener2 pake jawa full 100 persen tp kalo ngomong panjang suka belibet campur indo
hiks..noniiii postinganya buat aku sedih bacanya (secara lg PMS bokk hati jadi sensitif nih) pengen cepetan lebaran biar bisa ketemu nyokap dan bokap hiks. yah walaupun secara keseluruhan home buat aku itu sekarang wherever ada Bazyl dan suami sie.
lah kampungmu dimana toh? surabaya???
Lampung non..hehehehe. Disurabaya sie dah gak ada yang dijenguk kecuali adek2 yangyut. Tapi rata2 dah move kejkartalah kesana lah kesitulah .