Setelah jum’at malam saya kecapekkan hang out. Dipaksa nonton green hornet yang sama sekali gak lucu tapi cukuplah membuat saya pulang ke rumah dengan capek. Bangun pagi di hari sabtu cukup membuat saya sedikit santai dan gak mikir macem-macem karena jam 9 saya harus ngantor seperti biasa. Tapi langit masih kelabu dan angin bertiup sangat kencang, sedikit mengintip ke dalam hati, apakah hati saya sedikit membaik, ternyata lukanya masih sangat dalam dan rasanya masih sesakit hari pertama. Begitu mengesalkan bangun tidur dan menyadari kalo borok masih ada.
So….sabtu ngantor ( tidak seburuk seperti dugaan saya karena kegiatan berjam-jam di kantor sedikit mengalihkan perhatian, catat sedikit aja ya hehehe ). Sore jam 5 seperti setelah pulang kantor ketemu Ellen di Sutos. Makan yogurt dengan Ledy lalu dinner then ngopi di black canyon. Sepertinya normal ya. Saya masih melakukan hal-hal normal walo kalo berjalan rasanya susah sekali. Baru kali ini saya gak benci kodok, karena kodok kalo jalan selalu kedepan, gak pernah ke belakang. Saya males inget-inget M, apapun caranya. Masalahnya karena dia udah sempet ke Surabaya, yang ada….saya kayak VIA DOLOROSA ( jalan yang dilalui Tuhan Yesus ketika akan di salib ) atau jalan kesengsaraan hahaha. Disana sini saya bisa lihat M dengan nyata.
Email-email saya dan M lebih banyak berisi ucapan tks dan pernyataan menjadi temen pasti akan lebih baik. Saya merasa itu baik, tapi lebih kepada bentuk basa basi. Mana mungkin bertemen jika salah satu masih menyimpan rasa segitu dalamnya.
Saya juga masih berdoa . doa yang saya pikir gak pernah di kabulkan hehe. Lalu saya menyadari temen-temen saya mendoakan saya dengan cara mereka. Saya tau kalo Ledy mendoakan saya tidak untuk kembali dengan M tapi menemukan orang yang lebih baik daripada M. doa yang manis untuk saya saat ini. Tapi ada black hole in my heart L. Maaf. Saya lebih butuh magic rasanya saat ini.
Jam 8 ada sonny yang mampir. Bicara dan ngopi sebentar sebelum akhirnya jam 11 malam kami memutuskan untuk berpisah dan bertemu lagi minggu sore.
Saya kembali ke rumah yang sepi. Saya dengarkan kaki saya melangkah, desir baju tidur yang saya pakai setiap kali saya berlari ketakutan dari kamar mandi ke kamar, menatap kosong kamar yang pernah dipakai M ketika tidur disini. Saya ingin menemukan wanginya lagi seperti sebulan yang lalu setiap saya melewati kamarnya.
Night M
.
