image Bromo On July


Bromo – Terbius Kecantikan Bromo
17-18 July 2010

Sejak beberapa minggu lalu saya dan beberapa temen berencana ke Bromo. Dimulai dari diadakannya Jazz Gunung di Java Banana hingga menemani temen Ellen dari Bali yang berencana akan datang ke Surabaya. Tetapi semua gagal, karena saya masih mikir-mikir sayang juga duit di buang-buang ke Bromo, walau saya cinta Bromo setengah mati .

Bukan Jazz Gunung atau temen Ellen yang akhirnya membawa saya kembali ke Bromo, melainkan Jiank, adik temen saya di Medan, yang tiba-tiba merubah rencana liburannya ke Bali karena saya tidak mendapatkan tiket pesawat yang sesuai dengan jadwal libur yang hanya di akhir minggu saja.

2 hari sebelum berangkat ke Bromo di saat peak season adalah pencarian hotel yang membuat berdebar-debar. Beberapa hotel langganan saya mengatakan full booked kecuali Yoshie Guest House yang terletak sekitar 4 km dari desa Cemoro Lawang, ditambah kamar yang tersedia hanya 1 kamar ekonomi dengan kamar mandi di luar . Jiank berkali-kali meyakinkan saya kalau hanya tinggal kamar itu saja yang tersedia, belakangan baru saya tahu kalau Kung Fu Panda itu penakut luar biasa .

Sabtu 18 Juli 2010, perjalanan ke Bromo di mulai. Sedikit kasihan dengan Jiank yang harus bersusah-susah ke Bromo dengan angkutan umum ( body Jiank super duper besar ), soalnya pertimbangan saya sewa mobil mahalnya minta ampun. Jam 07.30 tiba di Bungurasih, saya sudah sedikit lebih santai kalau memasuki terminal bus di Surabaya, tidak semenakutkan tahun 2006 pertama kali saya masuk ke dalamnya .

Bus patas ac dari Surabaya menuju Bromo melaju kencang, kami berlima. Saya , Dini, Ellen, Lady, dan Jiank duduk terpisah-pisah. Saya habiskan 2,5 jam perjalanan menuju Probolinggo dengan tertidur, jum’at malam kami masih nongkrong sambil ngopi di Black Canyon hingga pukul 24.00 dan harus bangun pagi jam 05.00, sehingga mata terasa berat.

Tiba di terminal Probolinggo, kami melenggang santai menuju Elf atau sejenis mini van yang parkir di luar terminal. Thanks to Ebbie, yang sempat mengajak saya ke Bromo dengan bis tahun lalu. Menurut Lonely Planet , terminal Probolinggo adalah salah satu terminal yang menakutkan untuk turis, kalau menurut saya selama kita bisa berlagak cuek dan kenal daerah ini, semuanya akan aman-aman aja. Sekedar tips berlakulah seolah-olah mengerti dan terbiasa , sehingga tidak diganggu atau dijahatin , seandainya tidak tahu duduk-duduk sebentar di ruang tunggu atau beli 1 botol air mineral dan bertanyalah dengan penjualnya, kalau masih gak yakin segera cari petugas atau ke informasi saja.

Ada 2 alternative angkutan umum untuk menuju Bromo dari Probolinggo. Selain Elf, kita bisa mencoba ojek dengan ongkos sekitar Rp 25.000, tetapi ojek tentu tidak disarankan untuk orang yang gampang masuk angin, berbadan sangat besar, bawa backpack besar atau ngantuk, bisa-bisa tidak nyampe ke Bromo tetapi nyampe ke alam baka. Nah…yang paling masuk akal dan murah memang naik Elf, tetapi nunggu Elf ini sama kayak nunggu neraka beku, lama bener………..

Saya mau cerita soal elf ya. Tahun lalu saya dan Ebie, nekat ke Bromo dengan angkutan umum. Begitu masuk ke dalam elf, saya mesti nunggu sekitar 1.5 jam baru berangkat. Nunggunya sih gpp kalo ada ac atau adem, lah ini selain elf-nya udah kayak mau tetanus tiap kali dimasukin, panas luar biasa, semua bisa masuk, mulai dari anak sekolah yang bau matahari sampai gembolan rumput untuk makan sapi . Itu belon seberapa kalau saja supir dan kondektur gak rakus, udah jelas-jelas kapasitas elf hanya 19 orang, ehhh kalo ada yang mau naik, dia tetap masukin aja, kebayang dong betapa pengap dan tersiksanya. Saya dan Ebbie, kemaren harus bayar 4 tempat duduk supaya kami bisa duduk nyaman, walo dalam hati saya merasa bersalah sama yang disamping-samping saya yang selalu menatap sirik dan membunuh dengan peluh deras .

Kejadian kemaren lebih unik lagi, saya kurang begitu mengerti management elf ini, tapi rasanya rada riweh. Jiank kebetulan memiliki body sangat besar, sehingga elf tentu bukan moda yang bisa saya sarankan untuknya, apalagi anak mami kayak gini. Begitu menatap elf karatan dimana-mana, dia sudah menatap saya ngerih hahaha. Anak-anak yang laen hampir sama kayak Jiank, belum pernah nyicipin elf tetanus kayak gini, tapi mereka bertubuh kecil dan rasanya bisa bertahan.

Begitu kita datang, intip sana sini, Dini langsung komen “ Ninot, kita tunggu yang laen ya ? yang ini full banget “. Saya nyengir aja, mau nunggu yang laen , bisa berangkat jam 3 sore kita ke Bromo hahaha. Jiank lebih sedih lagi, berkali-kali dia menatap saya sambil ngomong “ kita masih mau makan bakso dulu kan, tunggu yang laen aja kak “. Serius, ini Elf gak akan berangkat sebelum penuh sesak, mau nunggu yang laen akan terulang lagi hahahaha. Jadi mundur maju tetap dapet yang seperti ini, kecuali kita mau carter .

Ok..ok..bersiap-siaplah untuk terkikik-kikik. Saya masih duduk-duduk di kursi bamboo sambil ngobrol dengan 2 turis dari prancis, ketika kondektur berteriak-teriak kepada Dini dan Jiank untuk segera memasuki elf, saya menatap seram ketika mereka satu persatu masuk dan duduk manis didalam. Sebelumnya orang-orang yang ada di elf, dikeluarkan satu persatu. Setelah mereka duduk manis, saya masuk terakhir kali, kondektur menyuruh saya duduk di kursi tempel berwarna coklat, yang kalo kesenggol saya pasti bikin kulit berdarah-darah sangking kasarnya kayunya hahaha.

Begitu saya duduk disebelah Jiank, Ellen dan Lady di bangku belakang bersebelahan dengan pria berambut keriting berpeluh sebesar jagung, Jiank langsung bertanya “ berapa jam kita ke Bromo kak ? “. Saya menjawab “ 1 jam “, lalu sibuk membenarkan ransel orange saya, Jiank dan Dini menatap saya, lalu Jiank berkata “ ok…kak kita naik elf yang satu lagi, kita charter aja “. Kami semua berpandang-pandangan , dan memutuskan keluar sambil berteriak memberitahukan kondektur kalau tidak jadi naik dan akan carter elf saja seharga Rp 300.000. Ongkos perorang untuk ke Bromo dengan elf hanya Rp 25.000 saja.

Begitu kami keluar, formasi didalam elf berubah lagi. Tentuuuuuu saya yakin banget, orang-orang di dalam elf akan menggerutu marah dan mengutuk kami yang dengan seenak udelnya mengganti formasi mereka, membuat mereka lebih lambat lagi ke Bromo dan harus menyusun ulang tempat duduk mereka. Si pria keriting itu bahkan sempat mengeluh “ arghhhhhhhhh mesti nunggu lagi “ , dengan wajah masgul.

Akhirnya memang bisa duduk lega. 2 orang bule Prancis itu ikut serta dengan kami. Sebenarnya ada seorang ibu-ibu Madura yang memohon-mohon supaya boleh ikut, karena dia sudah menunggu hingga 2 jam tetapi elf belon juga berangkat, masalahnya adalah supir elf tidak memperbolehkan si ibu ikut , walo dia tetap membayar ke elf yang satunya lagi, dan free di kita seperti yang dilakukan 2 bule Prancis
tadi. Tips untuk naik elf adalah, jangan dulu memutuskan naik elf yang sedang menunggu, mending duduk-duduk aja perhatikan situasi, kalo ada rombongan seperti kami yang mungkin akan memutuskan charter, akan lebih mudah untuk ikut serta daripada nantinya bersitegang dengan kondektur dan supir, percayalah mereka bisa sangat mengerikan.

Perjalanan menuju Bromo sekitar 1 jam, Jiank bisa duduk anteng bahkan bisa bernyanyi-nyanyi. Kondektur elf yang bernama Ferry Handsome, cukup cooperative menawarkan penginapan, saya yang sebelumnya sudah confirm dengan Yoshie Guest House, akhirnya tergoda untuk tinggal di homestay di cemoro lawang. Harga perkamar sekitar Rp 100.000 – Rp 125.000 dengan bonus bantal busuk bekas iler dan lantai bercak-bercak plus kamar mandi dengan gayung lumutan ( yiekkkkk ), setiap sikat gigi saya pengen muntahhhh.

Setelah dapat kamar, lunch di Café Lava. Ini salah satu resto dan hotel favorite saya, sayang lagi full. Makanan yang saya rekomendasikan adalah Chicken Breast dan pisang goreng bulat-bulat.

Selanjutnya, kami berjalan-jalan menuju desa di Cemoro Lawang, Jiank memutuskan tidak ikut dan ingin tidur saja, sebenarnya dia bukan tidak tertarik tapi begitu kita bilang jalan, dia langsung memutuskan tidur. Oya entah kenapa hari ini udara di Bromo jauhh lebih dingin. Saya lupa memberitahukan si kungfu panda kalau harus bawa jacket, kebayang dong suhu udara bisa drop hingga 5 derajat celcius dan dia hanya membawa t’shirt plus lemak-lemak di badan hahaha.

Btw…..kami menemukan bukit kecil, dengan ladang kentang dan bawang, di tempat ini kita bisa menatap kompleks pegunungan Bromo dengan sangat jelas. Rumput-rumput rendah dan lembut terasa nyaman ketika kami duduki. Jarak pandang bersih karena tidak ada pepohonan yang menghalangi. Langit bersih berwarna biru dengan awan putih gendut yang berarak-arak. Sesekali petani melewati dengan keranjang berisi potongan rumput untuk pangan ternak. Saya bisa betah di tempat ini sambil membaca buku, minum kopi atau pacaran dengan salah satu pemilik ladang kentang tampan hahaha.

Setelah dari ladang kentang itu, seorang anak kecil memberihatukan ke saya ada rumah adat di atas desa. Sambil berjalan-jalan, lalu saya nekat menghentikan sebuah mobil pick up berisi berkarung-karung kentang, menuju rumah adat tersebut. Sumpah ini seru banget, mana pernah saya mau naik mobil pick up, dibelakang pula haahaha. Rumah adatnya kecil dan tidak begitu menarik. Kembali ke Cemoro lawang dengan cara yang sama berlari-lari mengejar sebuah mobil pick up untuk nebeng hingga ked esa. Pemiliknya seorang pemilik ladang kentang bernama mas Dion, diaaaa….emmmm menarik haha, walo kakinya hitam-hitam terkena tanah bromo, tapi he looks sexy hahaha.

Setelah dari desa, kembali ke homestay dan menemukan si kungfu panda terbungkus jacket parasut tertidur. Jam 4.30 sore, pak Eko, supir jeep yang biasa saya gunakan akan menjemput untuk minum kopi di Java Banana.

Java Banana adalah sebuah hotel dan gallery milik Sigit Pramono. Entah bagaimana dia bisa memiliki tanah disini, karena setahu saya tanah di BRomo tidak diperjual belikan ke orang luar. Gallery cantik yang lantainya terbuat dari kayu ini dipenuhi foto-foto hasil jepretan pemilik Galery dan temen-temennya.

Sepulang dari Java Banana, langit mendung , sunset tidak ada, dan udara terasa menggigit tulang. Saya dan anak-anak menghabiskan malam sambil main kartu dan minum baileys. Tidur malam itu terasa menyiksa jiwa karena udara dingin tidak mau kompromi. Berulang kali terbangun hanya karena dinginnya malam bukan hanya menusuk tapi juga menghancurkan alam mimpi. Tepat pukul 02.30 alarm saya berbunyi, kaki terasa berat dan ngilu ketika terkena lantai marmer menuju kamar mandi. Air dingin membuat kulit saya terasa mengkerut ketika bersentuhan, mata terbuka lebar sangking kagetnya berciuman dengan air.

Tepat jam 03.00 pak Eko muncul dengan jeep merahnya. Wajahnya yang segar menyapa saya sambil tertawa karena mendengar keluhan klise saya “ dingin sekali sih pak Eko, biasanya gak kayak gini kan ? “. Jiank seperti kelinci alkalin bergerak terus menerus sambil bernyanyi-nyanyi, rokok tidak berhenti mengepul ditemani Lady. Saya tidak berani protes takut dibunuh kedua orang itu hahaha.

Perjalanan menuju penanjakan lebih smooth karena lautan pasir lebih padat karena bekas hujan kemaren. Pak Eko seperti biasa menyetir dengan smooth, diam dan tertawa-tawa kecil setiap kali Jiank atau Dini bercanda gila. Selimut kamar kami bawa serta karena dinignnya pagi itu, bener-bener sadis.


Begitu tiba di Penanjakan, udara semangkin dingin . Saya, Dini dan Lady dibalut selimut berjalan mengikuti Jiank dan Ellen. Masih sempat berhenti untuk makan pop mie dan minum kopi sebelum tiba di Penanjakan. Ok…ramainya manusia pagi itu . Bromo memang selalu memiliki pesona tersendiri yang mampu membius siapapun untuk rela bangun lebih pagi, berdiri menantang dinginnya cuaca berjam-jam hanya untuk menyaksikan matahari terbit dari sela-sela pegunungan. Seperti biasa penanjakan dipenuhi manusia dan puluhan kamera yang siap mengabadikan moment-moment tersebut, kami salah satunya dari ratusan orang yang berasal dari berbagai tempat di penjuru dunia berkumpul di satu tempat sempit ini , berbagi dingin, perut yang kembung tidak menentu atau kentut yang tiba-tiba berbunyi atau hanya berbau yang dibawa desahan angin gunung.

Sesekali terasa rintik hujan membasahi kulit, alamat tidak dapat sunrise nih. Langit muram dengan bintang yang bersinar kabur terbalut kabut tebal. Dinginnya Bromo tidak mengurangi antusias setiap pengunjung untuk menyaksikan pertunjukan singkat dari sunrise yang merupakan salah satu terbaik di dunia. Hanya gelap yang terlihat, tidak ada taburan bintang atau bintang jatuh, sesekali teriakan pengunjung ketika gelap perlahan-lahan memudar tetapi awan tebal tidak memberikan kesempatan kepada sang Surya untuk mempertunjukkan kecantikannya. Padahal setelah bertahun-tahun berlalu, baru kali ini saya mendapatkan spot yang baik untuk mengabadikan kecantikan matahari terbit dari sela-sela kompleks pegunungan Bromo.

Sampai pukul 06.00 kami menunggu dan matahari bener-bener tidak muncul, akhirnya diputuskan untuk turun kebawah, ehhhh baru melangkah keluar dari spot area, tiba-tiba orang-orang berteriak-teriak, matahari menunjukkan kecantikannya walau hanya sepersekian menit, singkat, dan saya tidak berhasil memotret apapun, karena semua orang merengsek maju ke depan, termasuk posisi tempat saya menunggu tadi yang sudah digantikan oleh orang lain, tks God, JIank sempat mengabadikan walau menurut saya itu hanya ala kadarnya hahah. Seharusnya bisa jauhhhh lebih cantik lagi, kalau saja sang Surya tidak malu-malu.

Setelah turun, naik jeep, udara tetap menggigit, biasanya tidak pernah sedingin ini, apalagi kalau matahari sudah muncul, selanjutnya perjalanan menuju kawah Bromo. Di tengah jalan ada satu spot di atas bukit, dimana kita bisa melihat bromo secara keseluruhan. Saya,
Ellen dan Lady berdiri di atas puncak bukit dan melompat-lompat kegirangan, beberapa orang mengikuti kegilaan kami, melompat-lompat sinting . Fun…. !!, sayang Jiank dan Dini memilih untuk tetap di mobil .

Kompleks pegunungan Tengger , yang diantaranya adalah Bromo merupakan tempat yang menarik untuk melihat kawah yang masih aktif. Ada sekitar 250an anak tangga untuk menuju kawah. Menurut cerita jumlah anak tangga selalu berubah. Di kaki gunung Bromo juga terdapat Pura Luhur Ponten, yang merupakan tempat beribadah umat Hindu Tengger. Pura yang berdiri di lautan pasir ini terlihat kokoh dan misterius. Setiap pengunjung yang menuju Bromo akan melewati pura yang masih aktif digunakan untuk beribadah. Tidak jarang kita akan menyaksikan warga dengan kain khas bali dan tutup kepala bali akan hilir mudik di tempat ini.

Dari lautan pasir kita bisa menunggangi kuda untuk sampai di kaki gunung Bromo. Dengan biaya Rp 100.000 pp, joki akan menuntut kita dan menunggu di kaki gunung, sebelum dilanjutkna dengan berjalan kaki menapaki anak tangga. Di sekitar lautan pasir tersedia toilet umum, pedagang-pedagang kaki 5 yang menjual bakso atau kopi. Deretan mobil jeep berwarna warni, lelaki atau wanita Tengger dengan dandanan khas mereka atau pedagang bunga Edelweis yang hilir mudik menawarkan dagangannya.

Saya dan Dini memilih untuk menunggu di kaki gunung, sambil berfoto-foto. Jiank naik kuda bersama Ellen dan lady untuk naik ke kawah. To be honest kasian banget kudanya bawa Jiank, duh…gak tegaaaaaaaaaaaaaa….!!!! . waktu pulang baru saya tahu kalau si kudapun enggan dinaiki Jiank, dan Jiank terbanting jatuh . Kebayang waktu si kuda di kasih liat penumpangnya, mukanya langsung asem hahaha.

Setelah kawah Bromo, perjalanan selanjutnya adalah Teletubbies Hill atau bukit Teletubbies. Bukit ini cantik sekali. Setiap kali saya mengunjungi Bromo, selalu saya temukan pemandangan baru. Desember tahun lalu bukit ini berwarna hijau seperti permadani, kali ini bunga-bunga ilalang berwarna ungu, menghiasi dedaunan yang mulai mengering karena memasuki musim kemarau. Nanti disekitar bulan oktober, rerumputan yang menyelimuti bukit-bukit kecil ini akan berwarna merah, coklat dan hijau. Sungguh…..indah sekali.

Whispering sand atau Pasir Berbisik adalah lautan pasir yang dikelilingi oleh pegunungan dan tembok-tembok batu. Dinamakan pasir berbisik karena sebuah film hasil garapan Garin Nugroho yang dibintangi Dian Sastro dan Christine Hakim. Pasir yang tertiup angin pegunungan menimbulkan bunyi seperti sedang berbisik. Terkadang karena hembusan angin maka tercipta lukisan alam yang Indah, seperti guratan-guratan tidak teratur yang menarik.

Di pasir berbisik sih gak ngapa-ngapain, cuman foto-foto dan lompat-lompat kesenangan aja. Setelah puas dan kuku-kuku kaki hitam karena kemasukan pasir, kami melanjutkan perjalanna kembali ke hotel.

Tips and trik…

Makan siang di Bromo sekitar pukul 12.00, jadi kalau ke restoran dibawah jam itu, alamat bengong kelaparan. B’fast dimulai pukul 06.00 sampai pukul 10.00 soalnya, dan resto baru siap-siap untuk lunch pukul 12.00

Jeep dan kuda, sekarang memiliki koperasi sendiri, jadi langsung saja ke counternya. Harga resmi untuk jeep adalah :
Penanjakan dan kawah bromo Rp 275.000
Penanjakan, kawah bromo, teletubies, pasir berbisik Rp 550.000
Jeep bisa diisi 6-7 orang tapi posisi mepet banget, alias gak nyaman .

Kuda pulang pergi dari lautan pasir ke kaki bromo Rp 100.000

Penyewaan jacket harga Rp 20.000, tapi baunya macem-macem deh, bikin sakit hidung hehe. Kalo dingin banget, mending bawa selimut hotel aja.

Di bromo hanya ada 1 atm yaitu atm BNI, jadi mending bawa duit tunai aja, soalnya rataa-rata hotel hanya menerima cash apalagi mau beli bunga edelweiss masa bayar pake cc hehe.

Leave a comment