image Sibolga


SIBOLGA

Mungkin jarang orang mendengar nama kota ini. Sibolga adalah sebuah kota kecil di sumatera utara yang menjadi salah satu pintu masuk jika hendak ke Pulau Nias. Saya hanya pernah satu kali ke Sibolga, mungkin tahun 2002, sudah terlalu lama sehingga lupa. Saat itu saya hanya singgah sebentar di Sibolga karena langsung menyebrang ke pulau Poncan. Yang saya ingat tentang Sibolga adalah banyak ikan asin, jalan yang berkelok-kelok serta terowongan batu, pinjam istilah Matthew, Batu berlubang.

Saya kembali ke Sibolga 2 minggu yang lalu. Tidak ada agenda khusus, hanya berharap jika cuaca bagus, saya bisa langsung menyebrang ke Nias. Sayang cuaca memang tidak bersahabat 5 hari saya terjebak di kota kecil ini, didalam hotel karena setiap hari hujan dan badai terlihat jelas dari balcon hotel yang kebetulan menghadap ke lautan luas.

Tiba di Pandan, sekitar 30 menit dari Kota Sibolga jam 04.00 pagi. Perjalanan yang cukup melelahkan dari medan membuat saya tidak berpikir panjang untuk segera check in di hotel Bumi Asih, tanpa saya sadari kalo hotel ini ternyata terletak persis di pinggir pantai. Sambil merebahkan tubuh, sayup-sayup saya dengar suara ombak bergemuruh, masih mengantuk, saya buka pintu menuju balcony dan tertidur dengan udara dingin dari pantai. Sedikit sejuk walau ketika pukul 09.00 pagi, saya terbangun karena suara hujan deras. Sejujurnya hujan sejak pukul 05.00 pagi . Too bad.

Jam 10.00 pagi hujan mereda dan saya menghabiskan pagi sambil berjalan-jalan di pinggir pantai sendirian. Matthew akan menyusul jam 10.00 katanya, tetapi sampai hampir jam 11.00 saya tidak melihat batang hidungnya. Di kota kecil melihat perempuan berjalan sendirian dan tinggal di hotel sendirian agak sedikit menimbulkan banyak pertanyaan dan keisengan beberapa lelaki yang duduk-duduk di pinggir pantai. Saya memutuskan untuk kembali ke kamar dan membaca buku di balcon sambil menunggu Matthew dan ke Sibolga untuk makan siang di pantai.

Ternyata jam 12.00 Matt baru datang, jaringan telp yang kurang baik membuat komunikasi sedikit terhabat dan bikin jengkel. Seorang petugas security hotel menawari saya motornya untuk dipakai ke Sibolga, tetapi kami memutuskan untuk naik angkutan saja daripada terjatuh dari motor si security.

Dari Pandan ke Sibolga ditempuh sekitar 30 menit dengan angkot. Kami berhenti di jalan Ahmad yani dan memilih untuk berjalan kaki ke pantai yang terletak di pinggir hotel Wisata Indah Sibolga. Jalanan menuju hotel WI sedikit sepi, lalu lalang kendaraan hanya sesekali dan suasananya cukup menyenangkan. Cuaca hari itu sedikit ramah karena mendung dan sesekali hujan gerimis. Berjalan menyusuri gang-gang di kota kecil ini seperti terseret-seret ke masa lalu. Rumah-rumah kayu khas pecinan, sebuah kedai kopi dengan kursi-kursi kayu yang menurut Matt adalah salah satu kedai kopi terbaik, dan saya baru tahu kalau dia hanya mencoba satu-satunya kedai kopi ini , tidak yang lain jika sedang turun dari hutan hahaha. Lalu suara burung wallet, lalu lalang tukang becak menyapa saya, yang entah kenapa jadi jauhhhhhhh lebih ramah ketika saya berjalan dengan Matt, pohon-pohon besar di pinggir jalan dan sebuah pantai di ujung jalan. Menyenangkan sekali walau sangat sederhana.

Pantai kecil yang saya tuju terletak di kompleks sebuah hotel di Sibolga. Sepi. Hanya sesekali tukang kebun lalu lalang, lalu beberapa pedagang hilir mudik menawarkan minuman dan gorengan-gorengan. Jarang terlihat orang yang berenang di pantai, hanya ada beberapa pemancing. Di depan saya beberapa pulau kecil berserakan. Menurut Matt pulau-pulau itu lumayan menyenangkan untuk di sambangi. Pantainya bersih sehingga bisa berenang atau mancing, tapi untuk saat ini saya memilih diam di pinggir pantai saja daripada tergulung-gulung ombak. Pantai barat dalam minggu-minggu ini di ramalkan memiliki gelombang tinggi dan tidak aman untuk di layari, that’s why saya membatalkan ke Nias dan diam di Sibolga sambil menunggu cuaca membaik dalam satu dua hari ini.

Setelah dari pantai WI, kami minum kopi tiam di warung kopi terbaik itu . Tempatnya yahhhh standard kota kecillah hehehe. Rata-rata pria yg berkumpul di sini bicara dengan suara keras, kancing baju terbuka hingga dada atau perut, keringat karena walau mendung cuaca lumayan gerah, kaki diangkat 1 di atas kursi dan tertawa terbahak-bahak. Di buku menu sih ada ice cream segera kami berdua memesan ice cream yang ternyata kata si pelayan, sudah tidak ada lagi hahahaha. Akhirnya minum kopi hitam yang sangat encer tapi yahh rasanya lumayanlah dan Matt makan roti dengan srikaya khas Sibolga. Pulang dari warung kopi saya sempatkan singgah di Supermarket AIdo, untuk membeli ice cream campina……..harus ice cream yaaaaaa Matt .

Sepulang dari Sibolga, mendung semangkin gelap. Di pinggir pantai depan hotel saya mendung terlihat begitu mengerikan. Hitam pekat tetapi anehnya semburat jingga masih tersisa. Saya yang begitu menyukai sunset, sedikit kegirangan ketika Matt menawarkan duduk di pinggir pantai. bonus romantisme dari bocah ini minus orang-orang yang trus mengajaknya berfoto dan akhirnya saya meemilih kabur ke Mess Matt.


Untuk makan malam di Pandan, bisa mencoba ikan bakar Roy, persis di sebelah hotel Bumi Asih. Harga yang tidak terlalu mahal untuk hidangan segar berupa ikan, udang dan kepiting. Malam itu saya menghabiskan hanya Rp 65.000 utk 2 ekor ikan kerapu dan bawal besar. Yang kurang ajar harga nasi seporsi Rp 15.000 hahhahaha.

Hari kedua di Pandan Sibolga. Saya menjadwalkan ke pelabuhan untuk mengecheck kapal ke Nias, tetapi pagi-pagi hujan deras dan angin kencang. Petugas hotel bahkan melarang saya keluar hotel karena angin yang sangat kencang. Jam 10 siang Matt datang, kami berdua hanya duduk-duduk di lobby hotel. Lalu pergi makan siang, lalu ke Mess Matt, dia kerja, saya baca buku. Niatnya sih sore-sore mau mancing, tapi baru duduk di mess lagi-lagi hujan angin . Akhirnya hanya duduk-duduk di teras rame-rame, minum kopi dan malam harinya karoke batak di restoran hotel tempat saya tinggal. Lumayanlah sambil liat angin kencang dan laut yang bergemuruh .

Hari ketiga di Pandan, Matt menawarkan ke Nias dengan temannya Akhir tgl 25, karena Akhir ada acara pesta di Nias, tetapi saya harus segera kembali ke Medan. Setelah b’fast, kami hanya berdiam di hotel karena hujan. Siang hari makan siang, haduuuuh saya bener-bener terjebak nih di Pandan, gak bisa kemana-mana. Baru sore hari driver Matt jemput, dan kita ke pelabuhan di Sibolga, horeeee…..akhirnya keluar hahahaha. Setelah dari pelabuhan tadinya mau nonton sunset, tapi sunset dari hongkong yaaaaa bow, dari jam 04.00 sore ujan deras dan mendung gelap. Bener-bener bikin bete. Hanya saya tetap ngotot mau ke pantai, akhirnya kami ke pantai Mela. Pantai ini cantik, haduhh seneng deh ngeliatnya dari atas jalan.


Begitu berhenti, saya dan Sri ( temen Matt ) menuju ke warung kecil di pinggir jalan, saya bersiap-siap akan mengambil foto dengna kamera pocket ketika Kalam ( temen Matt ) memberitahukan saya kalau tempat ini adalah tempat prostistusi. Hmmmm untuk kota sekecil ini, ternyata lokalisasi tumbuh seperti jamur. Sepanjang jalan dipenuhi dengan hotel-hotel kecil berbentuk warung minuman sederhana .

Dari pinggir pantai, yang kita hampir tidak bisa melihat lagi hahaha, sangking gelapnya. Warna jingga tersesisa di ufuk barat, lampu-lampu dari kapal-kapal nelayan, pengunjung yang masih enggan beranjak dari pantai, lalu pohon kelapa yang menjulur hingga ke bibir pantai, warung-warung mie sop dan minuman di pinggir pantai atau penyewa ban.


Pantai ini menyenangkan, pasti lebih bagus kalau sedikit lebih terang dan tidak mendung hehehe. Saya seneng ditempat ini, mudah2an bisa balik lagi.

 

Leave a comment