In a relationship, one of the hardest things to do is saying goodbye and letting go.
It is as hard as breaking a crystal because you’ll never know when you will be able to pick up the pieces again.
More often than not, they who go feel not the pain of parting: it is they who stay behind that suffer, because they are left with memories of a love that was meant to be, a love that was.
Cerita soal perpisahan, saya benci kalau harus berpisah dgn siapapun sebenarnya, tapi yang paling perih adalah jika berpisah dgn keluarga atau orang terkasih, pacar misalnya. Beberapa waktu lalu saya menghabiskan 3 hari bersama seseorang. Seseorang yang saya pikir akan biasa2 saja. I mean kalopun kita nantinya menyelesaikan liburan ini, urusan akan selesai. Tidak akan ada beban yang akan dibawa nantinya. Dan saya yakin 100 % karena selama perjalanna waktu 3 hari itu, saya bener2 merasa sangat lepas dan biasa banget even ok…status kita pacaran.
3 hari yang menyenangkan di tempat yang menyenangkan dan bersama orang yang menyenangkan juga. Kita keluar masuk desa dan dusun, bangun tengah malam buta dan menyusuri bukit hanya utk menyaksikan matahari terbit. Berbincang2 gak penting , becanda tanpa sekalipun berusaha membahas apa yang dirasa di hati, bahkan saya rasapun tidak ada yang perlu dibahas.
Tetapi 3 hari itu saya perhatikan semuanya. Gerak geriknya. Cara dia berbicara ke saya dan ke orang lain. Tissue bekas yang tidak dibuang melalui kaca jendela mobil dan disimpan untuk nantinya dibuang di tempat sampah, cara dia bergerak dgn lambat dan malas-malasan, yang berbeda jauh dgn saya yang selalu terlihat terburu2. lalu ketika kami berbagi makanan dan minuman. Emmmm saya bukan orang yang suka berbagi makanan saya tetapi saya senang2 aja kali ini membagi makanan dan minuman saya hihihi.
Saya jarang sekali tertawa terbahak-bahak hingga tulang rusuk saya kram dan menegang. Sekonyol-konyolnya orang , saya paling cuman senyum2 aja. Oh iya…..saya pernah tertawa sampai terguling2 itu karena toni malelak temen ellen yang lucunya setengah mampus. Selebihnya yah biasa aja, nonton srimulat aja saya gak ketawa loh…bosen malah, tukul juga yahhhhhh biasa aja deh. Jadi kalo ada orng yang bisa bikin saya ketawa2 sampai segitunya, rasanya aneh juga, apalagi joke-nya sih biasa aja hihihi.
Saya ingat betapa detailnya saya mengingat dia sekitar 10 bulan lalu untuk menghabiskan 6 jam yang membosankan di kapal. Kali ini saya memperhatikan lebih dekat. Ketika dia bergerak, saya protes melihatnya tetap rapi sementara saya sudah compang camping dimakan matahari, saya ingat wangi tubuhnya tanpa harus bersentuhan , tekstur rambutnya yang sedikit kasar dan beberapa uban yang mulai menghiasi rambutnya, cara dia tertawa setiap kali berhasil menjahili saya atau temennya, atau setiap kali dia bertanya ke saya yang selalu saya tatap dgn pandangan bertanya2 hahaha.
“ aku lupa bawa celana tidur, nanti beli ya ? “
“ ada gunting kuku gak ?”
“ bawa sun burn gak ? “
Saya yakin banget saya tidak akan mewek kalo kami berpisah. Saya pasti akan tertawa-tawa, terbukti selama detik demi detik berpisah saya tidak memikirkan yang laen kecuali tempat tidur karena mata ngantuknya minta ampun. Tetapi ketika waktu itu datang, time to say goodbye. Dia dan saya berdiri kikuk. Bingung harus berucap apa mungkin. Saya juga bingung, harus gimana saya ke dia [ padahal dia pacar haha }. Ok….kami berpisah terburu2, tanpa berucap bahwa nanti kami akan saling merindu. Kami berpisah tanpa sempat saya tahu apakah ada sesuatu diantara kami nantinya. Saya berpisah dgn tanda Tanya dan perasaan yang datar. Ketika dia cium kening saya…..saya juga hanya berfikir ok….hanya ciuman basa basi karena kami akan berpisah.
Lalu…saya lihat taxi orange yang membawanya pergi. Saya masih berdiri terpaku di ujung lorong . tidak melambai atau menjerit karena tiba2 dada saya sesak dan hati saya pedih. Anehnya . dan saya hanya menatap adik temen saya yang akan mengantarkan saya utnuk pergi juga. Gila…..hati saya seperti beradu bingung. Saya tidak tahu harus ngapain. Rasanya bukan sekali ini saja saya berpisah. Berpisah yang lebih menyedihkan sekalipun rasanya pernah saya derita, tapi kenapa yang kali ini saya merasa lebih baik diam ????.
Dan itu yang saya lakukan di sela2 menunggu argo wilis. Di peron yang dipenuhi wajah2 bosan. Saya diam menikmati hati saya yang bingung. Bingung karena saya tidak mengerti kenapa semua jadi lost control seperti ini???
It’s over. He’s/shes gone. But life has to go on. Goodbye doesn’t always mean forever.
There will always be a place and time where questions will be answered, words will be spoken, letters will be read, poems will be recited in the night, songs will be sung in harmony, love will be expressed in solitude and promises will be fulfilled. Somewhere. Somehow. Someday.”
“Some of us think holding on makes us strong; but sometimes it is letting go”
— Herman Hesse —