sebetulnya aku ingin bercerita tentang rusukku yg baru.
rusuk yg kutemukan , rusuk yg kuidamkan.
ia rusuk yg melindungi jantungku sampai kurasakan serambiku bergeser karena memuat dua katup dalam sebuah dada. jantungnya ada disini ! didadaku!, kurasakan semua denyutnya tanpa perlu kata-kata. aku tahu kalau jantungnya merana di dadaku. karena bilikku begitu sempit dan tdk ada apa apa. tp ia mau berdiam disana.seharusnya ia bisa mencari bilik lain yg lebih longgar sehingga leluasa memompa udara. tetapi itu tidak akan kubiarkan. aku bisa mati kalau jantungku tinggal sendirian. aku butuh jantung dua. dan itu jantungnya. jadi kupikir lebih baik ia merana daripada aku mati nelangsa.
tahukan rasanya kau bagaimana bila kehilangan jantungmu? dadamu pasti berderak retak terbelah. nah…bagaimana dgn dadaku yg menyimpan jantung dua. bagaimana jadinya bila jantung yg sebiji itu pergi? pasti jantung yg sebijinya lagi sekarat mati. karena meraka saling memompa darah dari katup ke katup dgn dihubungkan sebuah jembatan. cinta !
aku setengah mati cinta padanya !
ia adalah bidadari yg kupinang lewat doa malam. kuharapkan. tetapi ketika ia datang, aku tidak menjemputnya , kasihan sekali ia tersesat menabrak tiang. bukankah seharusnya ia perempuan yg kutimang-timang?
jadi kalo sampai hari ini aku belum menciumnya, itu bukan berarti aku tdk mengacuhkannya. tetapi aku tidak pernah menciumnya sambil lalu. selalu sepenuh jiwa. karena memang tidak ada yg bisa kulakukan utk memberitahukannya bahwa aku sangat mencintainya kecuali hanya dgn menciumnya. karea hanya itu yg aku punya. aku tidak pernah mau menciumnya hanya sekedar pura-pura mempertemukan kedua bibir atau sekedar mendarat sepintas di pipi atau di dahi.
pernah kami tidur telanjang seranjang semalaman. sepanjang malam bergantian berpelukan karena senggama kami begitu singkat ” tidak apa,aku ingin disayang “, katanya seraya memelukku dari belakang. padahal aku malu karena selalu begitu. tetapi ia sangat menenteramkan seperti ibu yg menenangkan tangis bocahnya. ia mengelusi punggungku. sejuknya terasa sampai ke dalam tulang iga.
” kan gak afdol kalau enggak ngomong..” ia masih terus mengomel dgn merdu.
kami tdk pernah bertengkar lama karena waktu kami sangat singkat. sayang sekali kalau harus dihabiskan dengan pertengkaran yg akan saling menyakitkan. bukankah tanpa bertengkar pun, waktu yg singkat sudah terasa sangat menyakitkan ??
ia seperti penyulap yg dgn mantera ajaib ” sim salabim ” bisa mengubah kedongkolanku menjadi tawa. bersamanya manis selalu ada. katanya, ia tdk takut jadi pendosa karena cinta padaku. ia siap masuk neraka sebagai penzina. teatpi aku tdk mau ia dipermalukan. aku terlalu menyayanginya. aku tdk mau dia dihina. ia datang dari alam ajaib yg tinggi, yg utk bermimpipun aku tdk berani. sungguh tidak pantas bila ia direndahkan.
sungguh , aku bisa mati !
sungguh, aku tdk bisa hidup tanpanya !
sungguh, aku tdk mau kehilangannya !
{ Lelakon, Lan Fang }
* ohhhh sukses saya tersedu-sedu membacanya *