Satu hal yang paling saya tidak suka adalah putus cinta. Selain phobia naik pesawat rasanya saya phobia juga deh putus cinta. Sekarang saya harus menulis cerita sedih saya lagi. putus cinta. Gak ada angin gak ada hujan, cerita saya dan Matt di paksa untuk berhenti. Serasa di gundulin atau di amputasi paksa. Jadi yang saya lakukan beberapa hari ini adalah menangis gak berhenti-henti, sampe saya takut sendiri mata saya jebol karena gak kuat menanggung begitu banyaknya air mata saya.
Semua yang mungkin mengikuti blog saya pasti sadar banget kalo saya juaranya patah hati, sangking seringnya mungkin. Bayangin aja bulan juni lalu saya putus dari Mr. L dan kemaren dengan suksesnya saya putus dari Mr. M. gila…..how lucky I’m ya, sampe trus-trusan dipilih mewek gak habis-habisnya. Padahal kalo saya pikir-pikir saya masih sangat sakit karena putus juni lalu, jadi luka-lukanya masih ditambal oleh M, ehhhhh gak taunya di tusuk juga dari belakang. So…..sekarang saya bukan hanya babak belur tapi hancur.
Well ok, masalah terbesar adalah long distance relationship, bukan saya bilang LDR ini Indah, not at all, LDR ini suck. Saya sering frustasi nunggu M, saya sering merasa sangat sendirian tapi semua baik-baik aja. Saya pikir selama saya bisa harusnya gak ada masalah, ternyata ini masalah akhirnya. Yang saya kecewa adalah dari awal kita tau kita akan berjauhan. Harusnya dia gak memulai kalo ternyata kepayahan.
Stress, grant yang kunjung di setujui, capek di hutan dan di mess, koneksi internet yang payah, signal yang hilang dan muncul kembali, sms yang delayed dan membuat kami berdua emosi. I knowwwwww…….ada banyak masalah disini, tapi…saya sudah usaha tidak complaint, tidak marah, tidak ngamuk-ngamuk. Saya sangat usaha untuk hubungan ini berhasil. Saya focus untuk semuanya. Saya merasa melakukan semuanya dengan baik, tapi….saya lupa patner saya kepayahan. Saya lupa kalo pacar saya ternyata tidak cukup kuat untuk ini semua.
Perasaan yang stuck. Perasaan yang berubah. Up and down, atau malah melorot jauh dari yang saya harapkan. Bukan saya tidak katakana perasaan saya stabil, wahh perasaan saya sering sekali menyentuk angka 0, dan setelah itu saya akan mati-matian mengingat betapa dia begitu manisnya selama ini. Saya gak pernah tau kalo dia ternyata membiarkan perasaan dia jatuh sampai ke level 0. saya tidak pernah sadar kalo dia ternyata semangkin jauh. Ibaratnya laying-layang saya masih aja megang benangnya padahal layangannya udah pergi .
Sentuhan. Entahlah ini penting atau tidak, ternyata ini jadi masalah. Menurut bahasa matt the physical distance between us. Bulan-bulan pertama saya dan dia masih excited karena masih baru, karena kami masih sangat semangat, karena saya dan dia masih bertemu beberapa kali, sampai akhirnya setelah 3 bulan tidak bertemu dan kami bertemu lagi di desember, saya dan dia kembali menjadi canggung. We are not we tapi kembali menjadi u or me. M terutama yang sangat merasakan itu. Saya merasa tapi berusaha menolak dan menggangap itu hanya sesaat. belon lagi pertengkaran kami di desember. Desakan-desakan waktu, ketakutan dsb.
Saya tau hubungan saya dan M sangat susah. 24 hari tanpa komunikasi dan setelah itu bisa berkomunikasi ala kadarnya di sela-sela waktunya yang di kejar deadline. Saya butuh di perhatikan dan dia gak bisa kasih itu. Saya berusaha untuk tdk complaint tapi dia merasa dia tidak berhasil. Dia merasa relationship utk saat ini bukan ide yang bagus. Dia ngerasa harus pergi dari saya supaya bisa ngelanjutin research dia dengan bener. Dia ngerasa perasaan dia gak kuat lagi, dia memutuskan untuk putus!!.
Setelah yang saya alami kemaren-kemaren ini adalah hal terburuk yang bisa saya bayangkan. Saya seperti lumpuh ketika membaca emailnya, lalu dilanjutkan dengna menangis sembunyi-sembunyi karena masih di kantor. Lalu dia masih sms saya minta saya dan dia bicara nanti malam. Saya bingung untuk apa lagi kami bicara, tapi seperti memiliki harapan kalau semua akan baik-baik aja setelah bicara. Kami bicara jam 9 malam. Kaku dan dilanjutkan dengan lebih banyak saya mendengar dan menangis tiada henti. Saya capek dan stress. Seperti ketika dia memiliki banyak alasan untuk meminta saya jadi pacarnya, kali ini dia juga punya banyak sekali alasan untuk putus dari saya. hanya satu yang saya percaya dari percakapan sekian jam kami “ dia hanya tidak suka saya lagi, hanya itu”.
Kalau saya bisa menggambarkan saya sekarang ini seperti anak kucing yang kebasahan, berdiri dan mengeong di pinggir parit busuk dengan mata berlumuran air mata. Yang saya inginkan hanya pulang. Pulang ke rumah atau mati tergilas truk. Dan kalau boleh memilih saya sepertinya lebih senang tergilas truk.