Jealous??


Dapet telp pagi-pagi dari salah satu temen baik saya yang sekarang sudah jauh dari Surabaya dan bete.

Yah saya tahu hidup dia sebagai istri kedua gak gampang. Pastilah hal-hal kecil terkadang bikin dia emosi atau malah sedih berat, apalagi sekarang dia lagi hamil muda.

Tapi kalau pagi-pagi telp, curhat dengan nada tinggi padahal dia lagi marah dengan suaminya, koq yahhh saya jengkel juga ya hehehe. sewaktu dia memutuskan untuk menikah, saya dan keluarganya sudah ngomong berkali-kali untuk mikir lagi, mikir lagi dan mikir lagi. tapi dia tetap keukeuh dan katanya sudah sadar dengan resikonya. Tapi sekarang rasanya 2 tahun menikah saya lebih sering denger dia ngeluh daripada happy.

Money…money…money…..

Saya gak bisa ngomong kalo duit gak penting. Saya malah bilang kalo duit penting banget, tapi diposisi yang gak enak kalo jadi yang kedua. Semua harus berbagi. Dan karena istri pertama tidak tahu menau soal istri kedua, sehingga lebih banyak jatah duit yang masuk ke istri pertama, terutama untuk menutupi kebusukan si suami.

Temen saya ini baik. Gak pernah marah-marah dengann suaminya. Dijahatin diem aja, diperlakukan semena-mena tetap terima, haduhhh pokoknya koq yah jadi miris gitu. Si istri pertama pergi liburan ke hongkong, dianya malah didesa. Istri pertama di beliin mobil baru, mobilnya dia malah mau dijual untuk bayar hutang, istri pertama rumahnya di kompleks mewah dan baru di renovasi lagi, ehhhh dia cuman dibeliin apartment bersubsidi. Jadiiiiii saya ngerti kalo dia kecewa, sedih dan marah.

Hari ini, pagi-pagi dia telp, saya sedikit sibuk di kantor. Hari senin pula. Otak saya lagi ngadat untuk diajak mikir serius. Dia telp dengan suara tinggi, karena si suami mau ngajak anakknya ( dia hanya punya satu anak dari istri pertama, dan sekarang istri kedua sedang hamil muda ) berobat ke Singapore karena sakit bisul gak sembuh-sembuh. Menurut dokter di Surabaya, ada masalah di perut sehingga muncul bisul di luar, masalahnya si anak gak merasa sakit di perut tapi bisul gak sembuh-sembuh juga. Menurut saya dia memang harus khawatir, karena jangan pernah meremehkan penyakit apapun ( haduhhh inget kista saya deh ).

Keputusannya si anak mau dibawa ke Singapore atas desakan istri pertama dan anak. Si temen saya ini langsung kelonjotan, tapi gak bisa marah/complaint/marah dengan suami. Dia tetap acting sebagai dewi yang bisa mengerti semua masalah si suami, padahal otakkanya lagi kram, emosi udah sampai ubun-ubun terutama karena keuangan si suami tidak sebagus dulu lagi. iyaaaaa saya tau kalau dia marah, tapi saya tidak setuju kalo dia menumpahkan kemarahannya ke bisul dan si anak kecil itu.

Saya lagi paksa dia untuk bicara dengan suaminya. Yahh terserahlah gimana caranya, tapi stop jadi pihak yang trus sok pengertian, padahal di kepala dan hatinya udah bukan bisul lagi yang ada, melainkan borok. Dan karena dia lagi hamil saya pikir dia berhak untuk bahagia, bukan trus bersungut-sungut karena merasa terzalimin .

( tong sampah yang hari ini pengen nyampah ngomel-ngomel ).

Leave a comment