Tadi malam si mr tega telp saya. sungguh harus saya bilang kalo hubungan kami aneh. Saya baru beberapa detik menghentikan obrolan “menyakitkan” dgn mr. Luke. Jadi lumayanlah telp si mr tega ini bisa mengalihkan aliran air mata saya ke cekikikan sarkasme.
Biasanya kalo kita ngobrol gak jauh-jauh dengan berakhir berantem, saya nangis, dia ngambek atau kita jadi aneh-aneh , tapi besoknya udah telp-telp lagi atau ngilang beberapa lama dan muncul lagi pada waktu-waktu yang janggal. Misalnya pada saat saya baru jadian ( ini paling sering ) atau pada saat saya putus ( kalo ini saya yang nelp haha).
Ok….obrolan bergulir dari mulai memaki team Italia dan saya sedikit lebay menyesali Team itu kalah melawan SNZ, tentang Cristian si editor jalan-jalan yang bening, dari dia yang katanya lagi gak suka siapapun, dari saya yang lagi dodol, macem-macem sampai akhirnya pertanyaan dia mulai mengarah ke fisik….
“ kamu tambah cantik gak ? “
“ iya “. saya ketawa2 sinting jawabnya.
“ putih gak sekarang ? terakhir ketemu kamu coklatan “
“ tambah coklat, tan “
“ loh koq bisa, aku suka cewek putih . putih itu bersih, kalo item kayaknya jorok”
“ hah….enaknya. kalo putihnya butek, kan jorok juga “
“ lah kamu tambah item apa putih ? “
“ item dan gak jorok ok…..”
“ putihin dong…..”
“ arghhhhhhhh gak bisa “
Hmmm ini udah kesekian kali sebenarnya temen-temen cowok atau pacar saya meributkan soal kulit saya yang menghitam, termasuk temen-temen sekantor dan nyokap pasti kalo ketemu. Entah kenapa cewek itu emang harus putih, bening, rambut panjang, kaki panjang dan kurus, lalu hidung bangir. Sedikit saja kita berbeda dari gambaran diatas langsung dibilang eksotis, eksotis artinya apa ?? koq saya malah menangkap eksotis itu sama dengan perempuan rambut keriting, hitam dan keliatan lusuh, khas cewek-cewek yang digandeng bule-bule tua di bali.
Saya jadi penasaran siapa sih yang dulunya membuat stereotype kalo cewek cantik itu mesti putih, rambut panjang, langsing, kaki panjang, hidung bangir ?? . koq bisa dia membuat trend seperti itu ?? . karena kasian banget kita yang cewek-cewek tidak terlahir dengan penampilan fisik sperti yang saya tulis di atas. Belon lagi iklan-iklan yang besarnya bisa berkali-kali dari mobil juga memajang perempuan-perempuan stereotype tsb, sehingga image perempuan cantik tertanam dalam-dalam di semua benak orang.
Saya ? emmm saya tentu pernah terjebak dalam iklan-iklan pemutih . beberapa tahun lalu jangankan tepapar matahari , keluar siang hari aja saya usahakan tidak. Kalopun sampai keluar berbulan-bulan saya tidak akan keluar rumah lagi kalau gak perlu banget. Kulit putih jadi dambaan saya. ok…saya memang tidak mencoba cream-cream aneh yang beredar di pasaran. Hitam sedikit langsung panic. Hidup saya jadi gak asik. Saya kayak vampire yang cuman mau keluar malam hari aja. Kalau sekarang jangan di Tanya jam 12 siang saya jalan-jalan di parangtritis aja gpp hahaha, tapi gak tau mungkin alasannya karena dengan siapa saya berjalan
.
Anehnya temen-temen kupang saya lebih senang ketika kulit saya menghitam coklat. Mereka pasti bilang kalo saya lebih kelihatan hidup, padahal kalo putih yah gak putih-putih banget sih. Kalo B jemput saya tiap pulang liburan dia pasti akan liatin saya kayak liatin hantu, dimulai dari komentar begini
“ koq coklat ney ? “
“ perawatan ya ? berapa bulan sih perawatan sampai kamu kuning lagi ?”
Huhahaha…….kasian yaa laki-laki dan kita-kita perempuan yang terjebak dalam dunia iklan. Dunia yang membuat standard kalau cantik harus seperti ini dan itu . Bahkan seorang pria yang terkadang biasa-biasa aja pun masih aja sanggup menuntut ke pasangannya untuk tampil putih dan langsing….ck….ck……
