Alkisah hiduplah seorang putri dgn pangeran . mrk hidup berbahagia sampai akhirnya si putri terbangun dari mimpinya. Pangeran bukanlah orang yg diinginkannya selama ini. Tp..utk lari dari kastil yg nyaman jg bukan pekerjaan yg gampang. Si putri tdk pernah keluar dari kastilnya, bahkan melongok ke dunia luarpun tdk pernah dilakukannya, dia hanya tau pangeran yg mencintainya setengah mati.
Hari pertama si putri melongokkan kepalanya lewat jendela, dia melihat langit berwarna biru terang, petani yg berjalan tergesa-gesa dan begitu banyak warna warni kehidupan yg tdk pernah dia tau selama ini. Putri merasa begitu dahaga, ingin melihat dan berlari bukan lagi terpasung di kastilnya yg nyaman.
Seperti pagi itu, ketika akhirnya pangeran menemani sang putri berjalan-berjalan di jalanan desa, sang putri melepas sepatunya hanya utk merasakan dinginnya embun yg menempel direrumputan, melepas cadarnya hanya utk menikmati hangatnya mentari yg menimpa kulit pucatnya, merasakan angin yg bertiup sepoi-sepoi dan memandang begitu banyak kehidupan diluar kastilnya.
Putri ingin bebas, ingin trus berjalan dan berlari, bukan lagi lagi terkurung dalam kastilnya yg besar dan gelap. Tp apa daya pangeran tdk akan mengijinkannya. Dgn alasan cinta yg besar, pangeran mengurung sang putri. Menutup matanya seperti kuda penarik dokar, menulikan telinga sang putri dari suara-suara, membutakan sang putri dari warna warna dan menulikan sang putri dari suaranya yg indah.
Akhirnya Pangeran hanya memberi sang putri jendela kecil dari kamarnya yg tinggi utk membiarkan wanita itu menikmati pemandangan dari kotak persegi yg dilapisi terali besi. Sang putri tdk pernah bosan memandang dari jendela itu. Berharap suatu hari ada mukjijat yg membuatnya terbang dan lepas….
Di pagi hari yg dingin, ketika mentari mulai beranjak dari peraduannya, saat sang putri menikmati warna langit yg hitam berubah menjadi kemerah-merahan, dia melihat seorang pengelana melewati jalanan depan kastilnya. Pengelana itu memandang sang putri, memandang hingga tdk ingin mata melepas pandangannya. Sang putri juga memandang mata coklat pengelana itu, menebak-nebak apa yg ada di kepala lelaki asing itu. Tatapan mereka bertemu, sang putri tersenyum ramah, sang pengelana tersipu-sipu dan bingung melanda.
Pengelana compang camping yg terpana melihat sang putri, tiba-tiba menghentikan kakinya, memandang tepat ke manik bola mata sang putri, menatap hingga sang putri tertunduk malu dan menutup jendela kesayanngannya. Pengelana bertanya-tanya. Hatinya tiba2 menghangat dan membuncah. Belum lama jendela itu ditutup dan wajah sang putri hilang dari pandangannya, tp…..hatinya sdh sedemikian merindu. Kakinya ingin trus berhenti dan memandang wajah sang putri, tp apa daya hingga matahari tinggi di atas kepalanya sang putri tdk jg muncul. Jendela itu tetap membisu.
Tiba di desa, pengelana mencari tahu siapakah gerangan sang putri ?? . orang2 desa bahkan bingung dgn cerita sang pengelana. Tentang bola mata hitam yg dimiliki sang putri, tentang senyum ramahnya yg membuat hatinya menghangat. Orang-orang tdk mengenal sang putri, mereka hanya tahu kalau pangeran begitu mencintai sang putri dan menyimpan wanita itu hanya utk dirinya sendiri. Sang putri akan trus berdiri di depan jendelanya menatap jauh dan melahap apapun yg lewat dgn rakusnya.
Pagi, siang, sore dan malam hari pengelana trus berdiri didepan jendela itu, berharap wanita pujaannya akan membuka jendela dan tersenyum padanya. Tp entahlah biarpun langit memerah jingga wanita itu tdk pernah muncul . 1 hari, 1 minggu, 1 bulan sang pengelana menunggu hingga semua orang memintanya utk berhenti menunggu sang putri, berhenti berharap utk melihat sang putri lagi
Saat penantian sang pangeran berakhir, saat tubuhnya lelah , tiba-tiba jendela itu terbuka, wajah sang putri muncul dari balik jendela. Sang pengelana menatap sang putri dgn penuh cinta, berharap wanita itu mengerti apa yg dirasakannya. Sang putri balas menatap pengelana dgn bingung. Laki-laki itu menyapanya dan melambaikan tangannya. Putri kebingungan, dan kembali menutup jendelanya. Hatinya berdesir hangat, tdk pernah ada seseorang lelaki yg berani memanggil dirinya dan melambaikan tangannya.
Setiap saat pengelana itu menunggu sang putri, hingga lupa dgn tujuannya, hingga berhenti berbulan2 di satu desa. Tiap pagi ketika jendela terbuka, sang putri akan melihat senyum sang pengelana, mereka akan saling menatap tanpa berbicara, sore hari ketika senja turun perlahan dan dunia akan berwarna jingga , pengelana akan berada di bawah jendela utk menatap sang pujaan hatinya dan sang putri akan tersipu-sipu menatapnya.
Trus seperti itu sampai akhirnya pangeran mengetahui keberadaan sang pengelana. Menghardik pengelana tsb, mencambukinya dan memaki lelaki malang yg sialnya jatuh cinta dgn sang putri. Sang putri menangisi sang pengelana, menyuruhnya pergi jauh dan tdk kembali tp pengelana itu tetap keras kepala. Dia malah trus bertahan, memintal banyak tali agar bisa melarikan sang putri……..dan ketika tali selesai dipintal, sang putri tdk ingin kabur dgn si pengelana. Dia takut , takut dgn ganasnya dunia, takut dgn ketidakpastian sang pengelana , takut dgn perubahan itu sendiri.
Ahhhhhh langit biru bisa aku nikmati dari jendelaku yg kecil ini, anak2 kecil yg berlarian sambil tertawa2 bisa aku lihat dari jendelaku yg kecil ini, petani murbei dan strawberry juga bisa aku sapa dari jendela ini, aku memiliki kasur empuk, rumah yg hangat dan cinta yg besar dari pangeran, haruskan aku pergi dgnmu wahai laki-laki asing yg bahkan namamu tdk aku kenal??????. Hatinya bimbang dan meragu, tiap kali dia melihat sang pengelana, mendengar ceritanya hatinya merintih . ingin pergi tp tdk sanggup melangkah.
Pengelana bercerita tentang dunia baru yg akan dinikmatinya bersama sang putri, tentang hangatnya matahari ketika menimpa wajah pucar sang putri, tentang anjing coklat pintar yg akan mereka miliki, tentang rumah kecil dgn anak-anak yg berlarian dan memeluk sang putri hangat, tentang banyak hal yg begitu menggoda sang putri, tentang cinta yg tdk dimiliki sang putri.
Tp…….pangeran mengetahui akal si pengelana, dia menutup jendela tsb, memaksa sang putri diam di kamar , menutup mata sang putri kembali, menulikan telinganya, mematikan rasanya dgn paksa dan membunuh karakternya perlahan-lahan………
Yah……..sang putri masih di kastil itu, berharap sang pengelana masih menunggunya di bawah sana, dgn sejuta cerita yg sekarang bermain-main dalam otak sang putri.
